VIVAnews - Satu dari empat penghuni rumah kontrakan itu meninggal dunia. Selama empat hari, jenazahnya dibaringkan di dalam rumah. Tiga penghuni yang masih hidup tak henti memanjatkan doa agar jenazah itu hidup kembali.

Adalah Ani Minarti, 45, Ellyzabeth Titawahyu Arinda, 30, dan Andri, 25, yang terus berupaya membangkitkan Eni Juner, 35, dari mati. Mereka tak henti melantunkan doa sejak Eni meninggal pada Rabu, 6 Januari 2010.

Namun, hingga Sabtu, 9 Januari 2010, mukjizat yang mereka yakini akan terjadi belum juga terwujud. Ani tetap mati. Jasadnya membengkak dan meruapkan bau busuk ke sekitar rumah kontrakan di Jalan Pondok Randu RT 4 RW 02, Kelurahan Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

Pemilik kontrakan, Rochmat, mengatakan, Eni meninggal saat melakukan ritual puasa mutih selama 40 hari. Eni meninggal di hari ke-34, diduga akibat fisiknya tak kuat menjalani ritual tersebut. Selama menjalani ritual itu, Eni hanya makan sekali sehari dan mandi sekali sehari pada pukul 03.00 dini hari.

Berdasar keterangan tiga teman teman Eni, kata Rochmat, ritual itu dilakukan dengan tujuan untuk membersihkan diri dari dosa. Puasa mutih 40 hari dilakukan sebagai tolak bala. Ritual itu juga dipercaya bisa mengantarkan mereka ke Inggris dan Vatikan untuk perjalanan rohani. Dan saat Eni meninggal, Ani mengaku mendapat sebuah wahyu bahwa Eni dapat dibangkitkan kembali dengan doa.

Rochmat mengatakan, selama hampir 11 bulan tinggal di rumah kontrakan miliknya, empat penghuni rumah itu tak menunjukkan sikap ganjil. Hanya saja, mereka sangat tertutup dan tidak pernah menjalin komunikasi dengan warga sekitar. “Tapi kalau ditegur menyapa,” kata Rochmat.

Kristin, 29, warga yang tinggal di samping rumah kontrakan itu, mengatakan pernah melihat sekitar 10 orang jamaah gereja berkumpul di rumah itu. Namun, ia tak mengetahui aktivitas di dalam. “Saya nggak kenal orang-orangnya, kebanyakan ibu-ibu. Nggak ada yang mencurigakan,” ujarnya.

Keyakinan mereka tidak terbukti, tapi tubuh Eni semakin membengkak dan membusuk.

Kematian Eni Juner, wanita yang menjalani ritual puasa di rumah kontrakannya meninggalkan kekhawatiran pada pemilik rumah dan warga sekitar.Kesan seram masih membuat takut warga Jalan Pondok Randu RT 4 RW 02, Kelurahan Duri Kosambi, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat.

“Orang pasti takut ngontrak di situ,” ujar pemilik kontrakan, Hj Rohayah, istri H Muhammad, Senin 11 Januari 2010.

Eni yang bekerja sebagai suster di Gereja Bethel Semanan, Taman Semanan Indah, Duri Kosambi, Cengkareng itu meninggal setelah melakukan ritual puasa mutih selama 34 hari.

Harusnya ritual puasa mutih itu akan dilakukan selama 40 hari. Namun, Eni meninggal pada hari ke 34, Selasa 5 Januari 2010.

Tiga rekan korban, Ani Minarti, Ellyzabeth, Tita Wahyu Arinda dan Andri, baru melaporkan kematian Eni kepada Ketua RT 4, pada hari kelima kematiannya, Sabtu 9 Januari 2010.

Menurut informasi Ketua RT setempat, Rohmat yang diterima dari Ellyzabeth, mereka bertiga sepakat untuk tidak menguburkan Eni karena mereka meyakini kalau didoakan setiap hari, pada hari kelima rekannya itu akan hidup kembali.

Ritual puasa mutih selama 40 hari itu dilakukan para pendoa orang sakit itu untuk membersihkan diri dari dosa-dosa. Puasa mereka itu juga bertujuan untuk tolak bala dan mendoakan agar bangsa Indonesia terhindar dari malapetaka pada tahun 2010 ini.

Selama menjalani ritual puasa, mereka hanya makan sekali dan mandi sekali pada pukul 03.00 dini hari.

Rupanya wanita asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah itu tidak kuat hingga sempat mengalami sakit perut, muntah dan kejang-kejang.

Kendati demikian, Eni tetap melanjutkan ritual puasa hingga akhirnya meningal di hari ke-34. Ritual puasa mutih itu dipercaya bisa mengantarkan mereka ke Inggris dan Vatikan untuk perjalanan secara rohani.

Dia menyebut sebagian orang Jawa juga ada yang mempercayai hal ini, istilah yang diberikan adalah ngrogoh sukmo. Ketika Eni meninggal dunia, Ani Minarti mengaku mendapatkan wahyu. Bahwa Eni bisa dibangkitkan lagi jika didoakan.

Keyakinan mereka itu tidak terbukti, tapi tubuh Eni semakin membengkak dan membusuk serta mengeluarkan bau bangkai yang sangat menyengat.

Bau bangkai ini juga membuat tetangga korban merasa tertanggu. Akan tetapi, mereka tidak menduga bau tersebut adalah mayat Eni juner.

“Kami pikir itu bangkai kucing atau tikus, tapi kami cari-cari tidak ketemu,” kata Rohmat.

Rohmat dan Murni istrinya mengaku tidak bisa tidur karena kematian Eni yang terbilang aneh itu. “Setelah kejadian saya sulit tidur,” ujar Rohmat yang juga ketua RT, yang rumahnya tepat di depan kontrakan Eni.

Eni Juner, 35, meninggal di hari ke-34 saat melakukan ritual puasa mutih selama 40 hari. Oleh tiga rekannya, jasad Eni kemudian disimpan dan terus didoakan agar hidup kembali.

Namun, mukjizat yang diharapkan tak kunjung datang. Pada hari keempat, tubuh Eni tetap dingin dan tak bernyawa. Selayaknya orang meninggal, tubuh Eni pun mulai membusuk dan menyengatkan bau tak sedap.

Peristiwa itu terjadi di sebuah rumah kontrakan di Jalan Pondok Randu RT 04 RW 02, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada 6-9 Januari 2010.

Rochmat, pemilik kontrakan sekaligus Ketua RT setempat, mengatakan, aktivitas empat penghuni rumah itu tidak mencurigan. Eni tinggal di rumah itu bersama tiga temannya yaitu Ani Minarti, 45, Ellyzabeth Titawahyu Arinda, 30, dan Andri, 25. “Mereka ngontrak sejak Februari lalu, sudah hampir 11 bulan,” ujarnya, Senin, 11 Januari 2010.

Sejak awal, Rochmat tidak pernah menaruh kecurigaan terhadap mereka yang mengaku bekerja di gereja. Selama tinggal, mereka juga tak pernah menunjukkan aktivitas mencurigakan, meski jarang bergaul dengan tetangga. “Pakaian biasa, aktivitasnya paling keluar rumah, nyapu, beli makanan, masuk lagi,” ujarnya.

Kematian Eni akhirnya terendus setelah warga curiga dengan bau busuk yang bersumber di rumah kontrakan itu. Ani kemudian melapor kepada Rochmat pada Sabtu, 9 Januari 2010 bahwa Eni sudah empat hari tak bernyawa. Eni meninggal setelah mengalami mual, muntah, dan jatuh di kamar mandi.

Mendengar laporan Ani, Rochmat spontan marah. Ia menyalahkan Ani dan dua temannya. “Ani cuma bilang kalau dia sayang saudaranya (Eni) dan selama itu terus mendoakan supaya bisa hidup lagi,” kata Rochmat. “Pas begitu saya bilang goblok, orang yang sudah mati nggak bakalan hidup lagi.”

Jasad Eni kemudian dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sementara polisi masih melakukan pengusutan kasus kematian Eni. Muncul dugaan empat penghuni kontrakan itu adalah pengikut aliran sesat.

About these ads