IRLANDIA (voa-islam.com) – Natal tahun ini Irlandia Utara dikagetkan dengan skandal penyiksaan anak oleh gereja Dublin. The Murphy Report melaporkan selama ini gereja Katolik Dublin menutupi  penyiksaan dan pedofilia terhadap anak di bawah umur.

Atas tudingan itu, tepat di Misa Natal Kamis 24 Desember malam waktu  setempat, dua Uskup mengundurkan diri. Kedunya, Eamonn Walsh dan Raymond  Field menyatakan tidak lagi sebagai pembantu Keuskupan Agung.

“Selagi kita merayakan pesta Natal, kelahiran sang Juru Selamat,  Pangeran Kedamaian, adalah harapan agar tindakan kami ini bisa membawa  kedamaian dan rekonsiliasi Yesus Kristus kepada para korban atau mereka  yang selamat dari penyiksaan seksual anak,” kata keduanya. “Kami meminta maaf pada mereka,” tegas mereka lagi.

..Selagi kita merayakan pesta Natal, adalah harapan agar tindakan kami ini bisa membawa  kedamaian dan rekonsiliasi Yesus Kristus kepada para korban atau mereka  yang selamat dari penyiksaan seksual anak. Kami meminta maaf pada mereka…

Pengunduran diri keduanya membulatkan jumlah Uskup yang mundur menjadi  empat orang. Sebelumnya Uskup Kildare Leighlin James Moriarty dan Uskup  Limerick Donal Murray sudah lebih dulu keluar dari Keuskupan karena  kasus yang sama.

Kasus pedofilia ini terkuak berkat The Murphy Report yang didasari  kesaksian dari 46 pendeta. Selama ini kasus penyimpangan seksual ini  sangat rapi tersimpan karena tingginya tingkat kerahasiaan Gereja.  Sedangkan dari sisi hukum, Gereja juga dihadiahi kekebalan oleh  Kepolisian setempat.

“Gereja di Dublin akan mengadakan perubahan dan pembaruan,” kata Uskup  Besar Diarmuid Martin di St Mary’s Pro-Cathedral.

Uskup Didorong Karena Kecewa

Kejadian tragis itu terjadi ketika seorang wanita melompati pagar pembatas di St. Peter’s Basilica dan mendorong Paus Benedict XVI saat ia sedang berjalan menuju altar utama untuk memimpin Misa Natal.

Meski demikian, Paus Benedict XVI, yang berusia 82 tahun tidak mengalami cidera dan langsung berdiri dan melanjutkan prosesi. Dari cuplikan yang ditayangkan stasiun televisi RAI Italia, wanita berbaju merah melompati pembatas kayu dan berlari ke arah Paus sebelum diamankan petugas.

Prosesi sempat tertunda dan sejumlah petugas sekuriti segera menuju ke lokasi untuk mengamankan wanita tersebut.

Menurut Pendeta Ciro Benedettini, juru bicara Vatican, wanita yang mendorong Paus tampaknya memiliki gangguan mental, dan kini sudah diamankan oleh pihak kepolisian Vatikan. Saat itu, wanita tersebut juga mendorong Cardinal Roger Etchegaray, yang segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan.

..wanita yang mendorong Paus tampaknya memiliki gangguan mental…

Setelah insiden, Paus Benedict, yang dijaga petugas melanjutkan langkahnya ke altar utama Basilica untuk memulai prosesi Misa. Ia tampak sedikit terkejut dan bersandar ke kursinya saat ia duduk.

Ini merupakan kejadian kedua berturut-turut sebuah insiden mengganggu prosesi tersebut. Di akhir tahun lalu, seorang wanita juga melompati pagar pembatas dan sempat mendekati Paus, tetapi dapat segera dihalangi oleh petugas keamanan.

Benedettini menyebutkan belum dapat dipastikan apakah wanita yang melakukan penyerangan kali ini merupakan wanita yang sama yang melakukan penyerangan pada Paus tahun lalu.

Bukti-bukti Kejahatan Uskup di Dunia

Pada 27 Februari 2004, The Associated Press wire menyiarkan satu tulisan berjudul Two Studies Cite Child Sex Abuse by 4 Percent of Priests, oleh Laurie Goodstein, yang menyebutkan, bahwa pelecehan seksual terhadap anak-anak dilakukan oleh 4 persen pastur Gereja Katolik.

Setelah tahun 1970, 1 dari 10 pastur akhirnya tertuduh melakukan pelecehan seksual itu. Dari tahun 1950 sampai 2002,sebanyak 10.667 anak-anak dilaporkan menjadi korban pelecehan seksual oleh 4392 pastur.

Studi ini dilakukan oleh The American Catholic Bishops tahun 2002 sebagai respon terhadap tuduhan adanya penyembunyian kasus-kasus pelecehan seksual yang dilakukan paratokoh Gereja.

A.W. Richard Sipe, seorang pendeta Katolik Roma, menulis buku berjudul “Sex, Priests, and Power: Anatomy of A Crisis” (1995). Buku ini menceritakan perilaku seksual di kalangan para pendeta dan pastor.

Sebagai gambaran, pada 17 November 1992, TV Belanda menayangkan program 17 menit tentang pelecehan seksual oleh pemuka agama Kristen di AS. Esoknya, hanya dalam satu hari, 300 orang menelepon stasiun TV, dan menyatakan, bahwa mereka juga mengalami pelecehan seksual oleh para pendeta di Belanda.

Tahun 2002, The Boston Globe, juga menerbitkan sebuah buku berjudul “Betrayal: The Crisis in the Catholic Church”, yang membongkar habis-habisan pengkhianatan dan skandal sex para pemuka agama Katolik.

..Pembongkaran skandal-skandal sex ini telah memunculkan krisis paling serius dalam Gereja Katolik…

Pembongkaran skandal-skandal sex ini telah memunculkan krisis paling serius dalam Gereja Katolik. Pelecehan seksual – khususnya terhadap anak-anak – memang sangat serius.

Sebagai contoh, tahun 1992, di Tenggara Massacusetts, ditemukan seorang pastor saja – bernama James R. Porter- melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari 100 anak-anak (pedofilia).

Mengapa hal ini bisa terjadi ?

Surat Kabar Italia La Republica yang terbit di Vatikan pada hari rabu, 21-3 -2001 mengabarkan tentang banyaknya kasus pelecehan seksual dan pemerkosaan biarawati yang dilakukan oleh pastur dan uskup di gereja Katolik, lalu mereka memaksa para biarawati itu agar menggugurkan kandungannya untuk mencegah terbongkarnya skandal.

Dalam berita itu, terbongkarlah rahasia yang menyatakan bahwa para uskup dan pendeta menggunakan otoritas agama mereka di beberapa negara, untuk melakukan hubungan seks dengan biarawati secara paksa.

Hal ini terbukti dengan laporan tentang banyaknya terjadipelecehan seksual di 23 negara, diantaranya: Amerika Serikat,Brazil, Philipina, India, Irlandia, dan Italia, bahkan di dalam gereja Katolik (Vatikan) itu sendiri, juga di beberapa negara Afrika lainnya.

Berita tersebut mengatakan: Bahwa salah seorang kapala biarawati di sebuah gereja – yang sengaja tidak disebutkan namanya – menyatakan,bahwa para pendeta di gereja tempatnya bekerja telah melakukan pelecehan seksual terhadap 29 biarawati yang ada dalam keuskupannya. Ketika salah seorang biarawati melaporkan permasalahan ini kepada uskup agung, maka dia pun dipecat dari pekerjaannya.

Di gereja lainnya – menurut laporan – para pendeta yang berada di sana minta disediakan biarawati untuk memenuhi nafsu seks mereka. Dalam berita itu dinyatakan, bahwa setelah kejadian tersebut terungkap, maka pihak gereja mengirim para uskup yang terlibat ke luar negeri untuk melanjutkan studi atau mengutus mereka ke gereja lain sampai batas waktu tertentu.

..para biarawati yang takut pulang ke rumahnya dipaksa untuk meninggalkan gereja, sehingga banyak dari mereka beralih profesi menjadi wanita tuna susila…

Adapun para biarawati yang takut pulang ke rumahnya dipaksa untuk meninggalkan gereja, sehingga banyak dari mereka beralih profesi menjadi wanita tuna susila (pelacur).

Juga dinyatakan, bahwa telah ditemukan beberapa bulan yang lalu tentang adanya jaringan para uskup dan agamawan di Vatikan – dengan berbagai macam tingkatannya – yang melakukan perilaku seks menyimpang (homoseks) dan pecandu narkoba.

Uskup New York dan Boston yang memiliki kedudukan terbesar di gereja Amerika mendapat tekanan kuat untuk mengundurkan diri dari jabatan mereka, setelah tersebar kabar bahwa mereka berdualah yang berada dibalik skandal seks yang dilakukan oleh sebagian pendeta.

Uskup Milouki dituduh telah menyembunyikan informasi tentang skandal seks serupa. Kepala uskup Boston Kardinal Bernard Lu yang berumur 70 tahun juga dituduh telah mengetahui adanya beberapa uskup di keuskupannya yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak dibawah umur secara terus menerus.

Namun uskup tersebut tidak memberikan sanksi kepada mereka, malah dia hanya memindahkankannya ke keuskupan lainnya, dimana para pendeta tersebut bisa mencari korban-korban baru lainnya.

Selain itu, terdapat juga skandal serupa di daerah St. Louis, Florida, California, Philadelphia, dan Detroit. Sekitar 3000 pendeta menghadapi tuduhan pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur.

Kardinal pun mendapat protes keras karena tidak memberikan sanksi di Boston kepada mantan pendeta John Geogon yang diyakini telah melakukan pelecehan seks terhadap 100 orang selama 20 tahun, malah dia hanya dipindahkan ke keuskupan lain.

Skandal gereja tersebut menghabiskan biaya yang sangat besar mencapai milyar dolar untuk berdamai di luar pengadilan di beberapa kasus. Juga dinyatakan bahwa beberapa keuskupan bangkrut disebabkan oleh skandal seks tersebut.

Apakah orang Kristen sudah melegalkan perzinahan? Entahlah, yang  tingkah laku menyimpang yang terkutuk itu sudah terlalu sering dipraktikkan. [Ibnudzar/dbs]

About these ads