Assalamu’alaikum,

Dalam artikel sebelumnya, insya Allah, contoh nyata salah satu bujuk rayu syaithan yang berupa SYAIR LAGUJangan Lupakan Karbala“; Lirik/lagu: Ust. Abdullah ass-Segaff. S. Makna yang tersurat dan tersirat bahwa Imam Ali as sebagai Nabi dan Rasul bagi Agama Syi’ah dan ini sangat jelas merupakan bentuk penyimpangan aqidah Agama Islam.

Simpangan dari 2 buah garis lurus dengan sudut hanya sebesar satu derajat saja (θ=10) dan terlihat penyimpangan sekecil itu memberikan nilai perbedaan antara t1 dengan t2 sangat signifikan.

Seandainya penyimpangan itu dibiarkan maka saya yakin sekali akan terjadi bentuk penyimpangan lainnya yang justru akan semakin jauh dari ajaran Islam yang haqiqi (sesungguhnya), secara ilustrasi bentuk simpangan itu adalah sbb:

Alhamdulillah, saya menemukan sebuah artikel yang terkait dengan contoh nyata penyimpangan diatas yaitu yang membahas kedudukan Imam Husain as Sang Putra Nabi dan Rasul :(

Oleh karena status read only, maka saya bahas disini…

Imam Husain As dalam Pandangan Ahlusunnah

Kamis, 01 Januari 2009
Oleh: Ali Asghar Ridwani

Dengan sedikit merenungi perkataan Rasul Saw ini , maka kita akan bisa mengetahui bahwa kalimat pertama mengisyarahkan pada poin bahwa sesungguhnya Husain As berasal dari Rasulullah Saw, karena meskipun ayahnya adalah Imam Ali As akan tetapi karena berdasarkan :mrgreen: nash ayat Mubahalah :P beliau merupakan jiwa Rasulullah Saw, maka Imam Husain As tergolong sebagai putra Rasulullah Saw.

@Haniifa :
Mubahalah dalam pengertian beliau sebagai proses reinkarnasi, jelas ini terdistorsi oleh pemahaman Agama Hindu, infiltrasi ini sengaja dibuat dalam bentuk tarjamaahan Al Qur’an atau dengan kata lain seakan-akan istilah “mubahalah” dari Islam.

Subhanallah,

Mubahalah” menurut Riwayat :

Saya tidak mau ambil pusing dengan frase “sedikit merenungi perkataan Rasul Saw ini” pada paragrap diatas namun yang jelas beliau (penulis) mengambil dari “hadits” Nabi Muhammd s.a.w, yang menjadi pusat perhatian justru pada kalimat “nash ayat Mubahalah“. Sebagai umat Islam sudah barang tentu kita harus berprasangka baik atau dengan kata lain penulis bermaksud menerangkan suatu hadits dan diperkuat oleh ayat Al Qur’an, sayangnya penulis tersebut entah paham atau tidak perkara Mubahalah. Dalam suatu riwayat Nabi Muhammad s.a.w pernah bermubahalah dengan para Pendeta Nashrani dan Rahib Yahudi dari Najran, ketika mereka bertanya ”Siapakah ayahnya Isa Al Masih ?!” maka Rasulullah menjawab dengan membacakan (QS 3:59), perdebatan semakin seru hingga berujung pada saling laknat (mubahalah) hasilnya mereka ketakutan hingga ada yang masuk Islam menetap di Madinah dan mempelajari Islam dengan sungguh-sungguh, namun adapula yang menolak (sebagian besar yang menolak adalah Rahib Yahudi), dan mereka kembali Najran.

Di Najran sebelum panji Islam berkibar banyak betebaran Gereja Syriac dengan ajaran utama Injil Diatessaron hasil pemikiran Tatianus seorang Yahudi-Nashrani (150M) yang dianggap bid’ah oleh Mainstream Gereja. Titianus membuang beberapa bagian empat Injil (Matius, Lukas, Markus dan Yohannes) menjadi satu yang menurutnya tidak harmonis satu dengan yang lain, (misal mengenai silsilah Yesus).

Dari periwayatan diatas jelaslah bahwa relasi “Mubahalah” sangat bertolak belakan 1800 :

  • Rasulullah s.a.w : Perang Dialogis .
  • Imam Husein as : Perang Fisik.
  • Rasulullah s.a.w : Medapatkan Kemenangan.
  • Imam Husein as : Mendapatkan Kekalahan.
  • Rasulullah s.a.w : Setelah bermuhabalah tetap hidup.
  • Imam Husein as : Setelah bermuhabalah mati.
  • Rasulullah s.a.w : Peristiwa terjadi saat Gencatan senjata dengan Bani Quraish, Husein bin Ali bin Abi bin Thalib belum lahir.
  • Imam Husein as : Peristiwa terjadinya justru saat Bani Quraisy Kalah total, Rasulullah s.a.w sudah wafat.

@Ali Asghar Ridwani

Sedangkan mengenai kalimat kedua, kami mengatakan bahwa setelah menyampaikan risalahnya, Rasulullah Saw tidak lagi bertindak sebagai sosok secara pribadi melainkan bertindak sebagai sosok penyampai risalah. Beliau merupakan rahasia dan teladan dimana padanyalah risalah terwujud dengan seluruh dimensinya. Dengan demikian berarti, kehidupannya tak lain adalah risalahnya dan risalahnya tak lain adalah kehidupannya.

@Haniifa:
Jika yang dimaksud Husein Ali bin Abi Thalib, maka bagaimana beliau dapat menerima risalah padahal saat itu (hadits) masih dalam buaian ibu, dengan demikian tidak bisa dipungkiri bahwa Imam Husein as adalah kaum Pendeta munafikun Yahudi-Nashrani
.

Kemudian bagaimana cerita dongeng “Karbalamenjadi melegenda dan seolah-olah suatu yang sakral sampai sekarang ?!

Untuk mengetahui latar belakang tersebut maka kita harus melihat sejarah pertarungan imperium Persia dengan saingan berat Bizantium dalam perebutan kekuasaan di Timur Tengah, kekuasaannya terbentang dari Irak dan Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran saat ini serta Afganistan. Pertarungan perebutan kekuasaan yang terjadi berpengaruh nyata terhadap situasi politik kala itu. Sekitar 521M kerajaan Nashrani di Abbisinia (Ethiopia) menyerang kawasan dataran tinggi Yaman yang terkenal subur dengan dukungan penuh Imperium Bizantium. Persia yang merasa terancam dengan penaklukan barat daya Yaman kemudian melakukan lobi politik dengan Dzu Nuwas (penguasa pro Persia) untuk melakukan aksi balas dendam dengan cara membunuh para penganut Kristen Najran yang menolak menganut Agama Yahudi hingga seluruh dataran tinggi Yaman kembali dikuasi oleh Imperium Persia. Para petinggi Yaman kemudian mendirikan pusat peribadatan Yahudi yang megah di San’a Yaman dan untuk meningkatkan populeritas serta penyatuan pusat keagamaan maka dikirimlah Abrahah degan dukungan penuh Imperium Persia untuk menghancurkan Ka’bah di Mekah peristiwa ini dikenal dengan sebutan Tahun Gajah. Dari bukti sejarah ini maka dapat kita simpulkan bahwa persekongkolan Yahudi-Persia sudah terjalin sejak dahulu kala.

Mubahalah :D Yahudi-Persia sepanjang masa

Pohto proposal bagi Yahudi-Iran
Syiah-Hitler2

Pohto periode Achaemenid (1950) Yahudi-Iran migrasi ke Israel

Pohto Imam Al Ayah dengan Al Anak Yahudi

Pohto Ahmadinejad dengan Para Imam Ali as

ahmadinejad_rabbi_2b

Piala Cita bagi Munafikun nomor wahid :mrgreen:


Courtesy TheChoirConcert

Dimulai degan rasa ketakutan dan trauma yang mendalam akibat ulah Hitler terhadap kaum Yahudi maka terjadilah migrasi besar-besaran ke tanah Palestina (sekarang daerah pendudukan Israel) dan orang-orang Yahudi memiliki interaksi yang kompleks dengan Persia dan budaya hal ini disebabkan Yahudi-Iran tidak hanya terdiri dari salah satu populasi orang Yahudi tertua di dunia, tetapi juga salah satu yang paling kuno dalam aneka benang kain kuno masyarakat Iran termasuk ritual-ritual Agama Pagan Kuno bangsa PERSIA.

Mubahalah” menurut Al Qur’an :

.: إِنَّ اللَّهَ قَالَ:.

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَـنِ الرَّجِيمِ

Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk.

إِنَّ مَثَلَ عِيسَى عِندَ اللَّهِ كَمَثَلِ ءَادَمَ خَلَقَهُ مِن تُرَابٍ ثُمَّ قَالَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (QS 3:59)

الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلاَ تَكُنْ مِّن الْمُمْتَرِينَ

(Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (QS 3:60)

فَمَنْ حَآجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْاْ نَدْعُ أَبْنَآءَنَا وَأَبْنَآءَكُمْ وَنِسَآءَنَا وَنِسَآءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَل لَّعْنَتُ اللَّهِ عَلَى الْكَـذِبِينَ

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita -bermubahalah- berNabtahil supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS 3:61)

Saya jadi bertanya-tanya asal kata “mubahalah dari bahasa apa yach ?! :mrgreen:

Wassalam, Haniifa.


About these ads