Skandal Seks Wakil Imam Tertinggi Syiah TERBONGKAR!
فضيحة مناف الناجي ضربة قاصمة لمرجعية السيستاني
Hauzah Syi’ah Diguncang Skandal Seks
(Sorotan Majalah Qiblati)
Allah hendak menghinakan agama Syi’ah pada hari-hari belakangan ini dengan seburuk-buruk kehinaan. Jalan-jalan raya di Irak bergoncang, manusia berbondong-bondong keluar di jalanan untuk menuntut balas dendam. Orang utama dan wakil dari Imam Syi’ah tertinggi, al-Sistani[1], yang bernama Manaf al-Naji, kehilangan telephone genggamnya yang kemudian diketahui ternyata pesawat telephone tersebut berisi rekaman-rekaman video mesum miliknya bersama sejumlah siswi di Hauzah (semacam pesantren)[2], di mana para siswi tersebut sebagian besar telah bersuami.
Terbongkar sudah, bahwa orang fasik ini begitu piawai dalam mengabadikan “detik-detik dosa yang mendebarkan” bersama mereka yang mencapai lebih dari enam puluh rekaman. Hal ini tersebar dengan cepat di tengah masyarakat melalui sms dan bluethooth, begitu pula melalui internet dan youtube.
Belakangan terbukti di tengah masyarakat Irak, bahwa sangat sulit bagi al-Sistani untuk menyerahkan orang fasik ini (Manaf al-Naji) sebab ia memiliki rahasia keluarga al-Sistani. Menjadi jelas bahwa Manaf al-Naji termasuk orang yang suka bertukar-tukar isteri, di mana ia senantiasa bertukar isteri dengan Muhammad Ridha al-Sistani –putra dari Al-Sistani–. Mereka melakukan kebejadan moral ini dengan meyakini bahwa mereka bisa mempercepat keluarnya al-Mahdi yang ditunggu-tunggu, sebab ia tidak akan keluar kecuali setelah menyebarnya kerusakan.
Tidak heran, jika siswa dan siswi lembaga pendidikan mereka meyakini bahwa mereka harus menjadi penyebab segera keluarnya al-Mahdi dengan cara-cara mereka yang rusak dan menyimpang yang mengharuskan tersebarnya kerusakan di muka bumi dengan cara melakukan semua yang diharmkan, berupa perzinaan, minum-minuman keras dan homoseksual, serta saling menukar istri. Dan yang terakhir ini terbilang sebagai cara mereka yang paling menjijikkan berkat bujukan jiwa mereka yang sakit.
Tampaknya, siswa dan siswi dari Indonesia yang pergi untuk mendalami agama Syi’ah bisa saja ikut-ikutan memberikan andil yang signifikan untuk mempercepat keluarnya al-Mahdi al-Muntazhar. Maka kami sampaikan “selamat” kepada para wali mereka atas keikutsertaan mereka dalam perbuatan nista yang dianggap –oleh sebagian mereka—akan meninggikan “martabat” manusia ini!!!
Kami mengisyaratkan kepada masalah penting yang dibongkar belakangan ini oleh salah satu orang terdekat Manaf al-Naji yang kabur tersebut, bahwa Manaf yang dikenal sangat tergila-gila dalam mengabadikan petualangan seksualnya itu juga memiliki berbagai rekaman sebagian istri para wakil al-Sistani yang gemar bertukar-tukar istri, ditambah dengan rekaman video yang ia ambil saat melakukan perzinaan dengan istri Muhammad Ridho al-Sistani, putra tertua Ali al-Sistani sekaligus pimpinan urusan marja’iyahnya. Satu hal yang menyebabkan krisis besar dan hakekat terbesar dari krisis dan skandal memalukan yang menjadikan al-Sistani menggelontorkan milyaran dolar guna membungkam dan mengaburkan kasus ini.
Manaf al-Naji yang memiliki banyak rekaman video yang membuat malu al-Sistani dan keluarganya, bisa jadi tidak segan-segan untuk segera menyebarkan semua rekaman itu jika al-Sistani meninggalkannya atau ketika merasa putus asa. Terlebih lagi ia tidak akan rugi melebihi kerugiannya yang pertama yang menjadikan al-Sistani berada di antara dua palu kehinaan yang akan menghabisinya, serta di antara dua ancaman dengan hal memalukan terbesar yang membuat masyarakat merasa tertipu dengan kemuliaannya, akan memberontak dengan ganas kepadanya setelah rakyat merasa yakin bahwa mereka benar-benar tertipu oleh para lelaki bersorban yang telah merampas harta mereka dengan sebutan alkhumus (sepelima harta) dan merusak kehormatan mereka atas nama mut’ah.
Sekarang ini telah terbukti pada kebanayakan orang –segala puji bagi Allah- setelah peristiwa menjijikkan ini bahwa agama mereka sejatinya dibangun di atas seks, mut’ah dan perampasan harta. Allah telah menghinakan mereka dengan sehina-hinanya setelah mereka lancang menodai kehormatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menuduh ibunda kaum mu’minin, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, dengan perbuatan tidak senonoh secara dusta dan mengada-ada, maka Allah menghinakan kehormatan mereka dengan sebenar-benarnya. Bahkan, termasuk pembalasan Allah terhadap mereka demi membela ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang suci adalah dengan menghinakan syi’ah yang berkelanjutan hingga hari qiyamat, dengan nama mut’ah, sementara mereka tidak merasa.
Surat kabar al-Ayyam pada edisi 7747 hari Sabtu 26 Juni 2010 mengangkat sebuah laporan tentang kebejadan ini. Sumber tu menyebutkan bahwa beberapa alamat situs di Irak tengah melayangkan protes keras kepada rujukan utama syi’ah di Irak setelah tindakan amoral itu melanda Manaf al-Naji, wakil rujukan tertinggi syi’ah, Ali al-Sistani. Hal mana memicu amarah hebat di jalanan Irak. Alamat-alamat situs itu mengatakan bahwa al-Najih memanfaatkan situs agamisnya untuk menyesatkan, membuat miskin dan bodoh para korban untuk menjebak mereka dalam jaringan kotornya. Sumber itu menyebutkan bahwa al-Naji terbiasa melakukan perzinaan dengan wanita-wanita yang bersuami dan memiliki anak-anak. Di antaranya adalah penanggung jawab sekolah wanita milik al-Sistani, yang semakin menambah kericuhan keluarga besar di antara mereka sendiri, juga pembunuhan dan penyembelihan sebagian wanita bersuami yang kedapatan ikut bermain dengan al-Naji. Bahkan keluarga salah satu wanita yang gambar mesumnya diambil oleh al-Naji keluar untuk membunuhnya.
Sumber-sumber menyatakan bahwa orang-orang yang taklid kepada al-Sistani berkumpul di depan rumah Manaf al-Naji yang telah melarikan diri setelah peristiwa memalukan itu, mereka menuntutnya juga keluarga besar al-Naji untuk mengembalikan harta al-khumus dan zakat yang biasa mereka bayarkan kepadanya, jika tidak maka mereka akan membawa kasus tersebut ke pengadilan, juga kasus kantor al-Sistani!
Sumber menyebutkan bahwa utusan dari aparat Pemda setempat telah mendatangi kantor al-Sistani untuk meminta agar menyerahkan al-Naji ke meja hijau. Jika tidak, maka mereka akan melakukan tindakan-tindakan yang seharusnya.
Sumber menyatakan bahwa Syaikh Ahmad Al-Anshari, wakil Sayyid al-Sistani yang memiliki hubungan baik dengan kebanyakan pimpinan keluarga besar, telah melakukan peran untuk rekonsiliasi dan menutupi kebejadan yang dilakukan oleh sahabatnya dan semisalnya dalam kantor al-Sistani, yakni Sayyid al-Naji.
Pemilik apotik di provinsi al-Imarah mengatakan bahwa kasus memalukan tangan kanan al-Sistani membuat saya menemukan jawaban-jawaban atas banyak pertanyaan yang mengganggu pikiran saya selama ini tentang prilaku orang ini yang dulunya sangat saya sucikan dan muliakan. Manaf al-Naji setiap harinya membeli obat-obatan yang bisa menguatkan libidonya, ditambah dengan beberapa pil memabukkan. Ketika kami tanyakan hal itu, ia mengatakan bahwa obat-obatan itu akan diberikan kepada sebagian keluarga fakir yang tidak punya uang untuk membelinya. Tetapi setelah kejadian ini terungkaplah bahwa Manaf al-Naji termasuk yang suka melakukan perbuatan mesum dengan para wanita yang datang untuk belajar atau datang untuk menerima gaji bulanan bagi para fakir, dan kesempatan itulah ia campurkan zat adiktif (ramuan memabukkan) pada minuman sirup yang ia suguhkan pada mereka ketika berada di rumahnya untuk belajar.
Kita alihkan perhatian sebentar, bahwa al-Sistani sendiri merupakan anak hasil mut’ah, dan tentu saja musibahnya lebih besar, karena ia tidak mengetahui siapa bapaknya. Kisah hidupnya sudah popular. Berdasarkan biografinya yang tersebar dalam dunia maya bahwa ia dilahirkan di kota Mashad Iran, ibunya sangat sering melakukan mut’ah untuk mendekatkan diri kepada Allah berdasarkan akidah mereka yang menyimpang. Setelah melahirkan putranya, al-Sistani, ibunya kebingungan, dari siapakah benih hasil mut’ah itu ia nasabkan. Maka ia memutuskan untuk pergi ke Hauzah (semacam pesantren) di kota Qum yang disucikan untuk meminta fatwa. Maka mufti besar yang menjadi rujukan tama, Syayyid Husein al-Thabathabai memberikan fatwa untuk mengundi nama-nama pria yang telah melakukan mut’ah dengannya. Setelah diundi, keluarlah nama Sayyid Muhammad Bakir untuk menjadi ayah al-Sistani di hadapan manusia. Itu terjadi pada tahun 1930. Demikianlah seorang rujukan utama Syi’ah anak hasil undian. Seiring dengan pergantian waktu, ia menjadi referensi utama. Sekedar diketahui, seperti halnya al-Khomaeni, ia belum pernah sekalipun pergi melaksanakan haji. Sebagaimana ia juga tidak bisa berbahasa Arab, sehingga tidak dikenal rekaman suaranya –meski hanya sekali—yang menggunakan bahasa Arab atau membaca Al-Qur’an. Umumnya masyarakat syi’ah tidak memiliki rekaman darinya walau hanya satu yang berisi pelajaran atau nasehat. Sebaliknya, ia hanyalah sosok misterius yang tersembunyi dari penglihatan manusia sejak lama.
Sosok seperti ini yang mereka pilihkan bapak baginya melalui undian. Tidaklah mengherankan jika kemudian membolehkan seorang suami melakukan sodomi terhadap istrinya. Tidak pula mengherankan ketika ia berfatwa memperbolehkan mut’ah dengan pelayan (pembantu rumah tangga) dari Indonesia sekalipun tanpa restu keluargana. Fatwa-fatwa ini disebutkan dan tersebar dalam internet syi’ah, dan menjadi konsumsi masyarakat awam syi’ah di manapun berada.
Jika seperti ini keadaan ibu al-Sistani, maka bagaimana ia akan mengupayakan agar kaum wanita menjadi orang-orang suci? Apakah sosok seperti Manaf al-Naji yang gila untuk melakukan mut’ah dengan para wanita bersuami atau siswi-siswi di hauzah, akan menjadi permisalan dalam kemuliaan dan kesucian diri?
Sesungguhnya tindak asusila yang mengguncang hauzah adalah juga tindak asusila yang mengguncang vatikan, sekalipun berbeda dalam deteilnya, akan tetapi hati mereka saling menyerupai. Sekedar untuk diketahui bahwa sejumlah tokoh dan Syaikh sebagian kabilah menyatakan dengan terus terang kepindahan mereka kepada madzab sunni dan meninggalkan madzhab syi’ah setelah peristiwa keji yang dilakukan oleh Manaf al-Naji yang telah mengguncang jalanan Irak. Syekh Bani Malik mengatakan, “Kami adalah keluarga besar Arab tulen yang berpindah dari Jazirah Arabia ke Irak, dan ia adalah kabilah sunni yang murni, akan tetapi mengingat bersambungnya wilayah Irak Selatan dengan Iran, maka kabilah itu berubah menjadi syi’ah. Inilah kami telah memperbaiki kesalahan dan kembali kepada madzhab ahlus sunnah.
Kami, majalah Qiblati menawarkan bantuan besar kepada “anak undian” Sayyid al-Sistani, kami usulkan kepadanya untuk keluar dari skandal memalukan ini dengan cara keluar di hadapan manusia untuk menyampaikan kepada mereka bahwa ia telah bertemu al-Mahdi al-Muntazhar yang merasa berbahagia dengan mut’ah (zina) yang dilakukan oleh Manaf al-Naji dengan para wanita syi’ah, dan bahwa ia telah menjadikan kedudukan bagi setiap suami yang isteri mereka dicabuli oleh Manaf al-Naji, yakni dengan menjadikan mereka bersama al-Husein di surga. Maka siapa yang menginginkan untuk berkumpul dengan al-Husein di surga, silahkan menyerahkan isterinya untuk dinikmati oleh para “pemakai surban”.
Begitulah, gugurnya agama syi’ah secara cepat terkuak hakekatnya bagi mereka yang berakal. Adapun rang-orang yang akalnya tumpul yang ikut merasakan manfaat dari harta pemberian, maka bagi mereka agama syi’ah tidak jatuh, karena agama mereka adalah harta (khumus) dan seks (mut’ah).
Semoga Allah meridhaimu wahai ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, semoga Allah meridhai engkau, yang mana Allah membalas dendam kepada mereka untumu di dunia sebelum kelak di akherat. Maka Allah menjadikan kehormatan syi’ah terjerembab di setiap saat hingga hari qiyamat dengan apa yang mereka halalkan untuk diri mereka sendiri dengan nama mut’ah. Ini sebagai kemuliaan bagimu wahai ibunda kaum mu’minin. Cinta macam apakah dari Allah untukmu wahai wanita terpandai di jagad raya ini?!!!
Demi Allah sekiranya dunia seisinya berkumpul membalaskan dendam untukmu, tentu tidak sanggup menyamai balas dendam Allah. Sungguh, ini merupakan keadilan Allah dan timbangannya yang tidak akan salah dan keliru. Semoga Allah meridhaimu wahai ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. (FZ).
Dikutip dari: Majalah Qiblati, Malang, Edisi 11, tahun V, Ramadhan 1431H, Agustus 2010.
فضيحة مناف الناجي ضربة قاصمة لمرجعية السيستاني
العوادي
06-26-2010, 08:27 PM
بعد التطورات التي حدثت في العراق والتي تزامنت مع نقض الوعود وجريان بحار الزيف والخداع من قبل السيساسيين الفائزين في انتخابات البرلمان العراقي اصبح العراقيون في حالة فقدان ثقة بوكلاء المرجع الديني الشيعي السيستاني وذلك لانهم روجوا وساندوا والتزموا مرشحي القائمتين الشيعيتين الكبيرتين المتمثلتين بدولة القانون والوطني العراقي , فأكيد كل ذلك يؤثر سلبا على العلاقات الثنائية الممتدة بين القواعد الشيعية الموالية للمرجع السيستاني ووكلاءه ومرجعيته وذلك لانسياقهم وراء مخططات مخابر ات دول اقليمية تريد استنزاف العراقيين وتجريدهم عن هويتهم الاصيلة .
فبعد سنين طوال من الثقة العمياء التي كانت رصيد تلك المرجعية والتي كانت تتمتع فيها على حساب كل الوطنيين والشرفاء وبعد تهميش الاصلاء وتحت مسميات الدين والمذهب والزعامة الدينية ومنهج التقية وغيرها من امور باتت هذه المرجعية منهكة القوى بعد ان صادرت كل رغبات الشارع العراقي واراءه وقتلت كل امنياته ووئدت كل احلامه وبمشيئة من الباري جل وعلا خرت هاوية الى الجحيم ملطخة بالعار الابدي الذي سيخلده التاريخ على مر العصور وسيكون لعنة ابد الابدبن .
حتى اصبحت الان الاساءة لها وعليها من كل عراقي وعلى كافة طبقات الشعب المحروم الذي ذُبح تحت سكاكين وكلاء ومعتمدي ورموز تلك المرجعية المتسلطة التي تحتوي على اكبر مؤسسة دينية تضم اشرس عصابة منظمة متلبسة بلباس الدين والقيادة الروحية للجماهير الشيعية الى ان وصل الامر الى سب وشتم كل من انتمى لهذه المؤسسة بمجرد اطفاء الكهرباء في اي مكان في البلد او سماع صوت انفجار حتى وان كان انفجار اطار سيارة فتبادر السن الناس وتأخذ مأخذها من انساب واحساب هؤلاء الرموز الذين تسببوا بظلم هذا الشعب المسكين .
وباتت الناس تنتظر وتترقب بغضب خطوات هؤلاء الرموز الدينيين الى ان سقط نجم لامع في سماء مرجعية السيستاني في الحضيض بين ايادي العاهرات وفي احد فنادق وبيوت مدينة العمارة وهو يمارس الافلام الخلاعية مع ساقطات سافلات وبأبشع الطرق والممارسات الحيوانية الا وهو وكيل عام المرجع الديني الاعلى السيد السيستاني (دامت عطاءاته ) سماحة السيد مناف الناجي (دام فسقه ) وكان ذلك تحت التصوير الفيديوي بواسطة نقال له تصوره جارته وهو يمارس الجنس مع العاهرات وتم كشف ذلك حسب ما ينقل اهالي العمارة عن طريق (رام تلفونه الخاص) بعد مسح التسجيل الفديوي وهو لا يعلم ان هناك برنامج خاص ممكن من خلاله اعادة كل ما اُدخل في الرام بعد ازالته فباع التلفون والرام فيه او اعطاه لشخص والارجح انه باعه على احد الاشخاص ومن خلال البرنامج المذكور تم استرجاع كل ما حُذف من الرام فقام الشخص المشتري بالاتصال بالوكيل العام واخبره بالامر فطار خوفا من الفضيحة واستعد على ان يشتري الرام الذي يحتوي على (60 مقطع فديوي) بــ (50000 الف دولار) وهو يعتقد بذلك يلقي القبض على الطرف الاخر بواسطة جلاوزة بدر او الدعوة وتتم تصفيته على اياديهم العفنة لكن مشيئة الباري اقتضت ان يكشف الله الباطل ويرفض المقابل الموت الاحمر الذي تدفن معه تلك الفضيحة الخطيرة التي ادت الى تشابك العشائر في ميسان بعد ان قتلوا بناتهم وبادروا بطلب رأس المجرم من عشيرته ومن مكتب المرجع السيستاني .
وهذا ما ظهر وما خُفي كان اعظم من قتل وشرب خمرولواط وزنا فهؤلاء اجرموا في نساء مدينة النجف وكربلاء وغيرها من محافظات وتحت مسميات الحوزات النسوية ونقاط تفتيش نسوية في الاضرحة الشيعية التي لعب لعبته الصافي والكربلائي وغيرهم بهن بتلك الاماكن فلهم سوابق قديمة مدفونة برمال اتى اليوم التي تتطاير ذراتها بعواصف غضب العراقيين المظلومين وهاهم الان في حيرة من امرهم وهم تحت مطرقة رجال العشائر وسندان المطالبة بكل الحقوق التي استلمها المجرم لارجاعها لاهلها والتي تحتوي على مليارات من تجار وغيرهم وبعد وصولها الى السيستاني وتسفيرها الى ايران ومن اراد التأكد عليه فقط ان يتعب نفسه ويتصل بأقاربه او اصدقائه او معارفه في محافظة ميسان ويستفسر عن اخر التطورات والاحداث هناك ويسئل عن المقاطع الخلاعية البهيمية التي تتلاقفها نقالات ورامات الصبيان هناك ولينظر الجميع الى هذه المرجعية وما تحتويه من رموز واشباه الرجال وليرتقب الجميع لاحداث كبيرة وخطيرة وشنيعة وكل ذلك تحت ارادة الحكم العدل جل وعلا .
المصدر: منتديات ياعراق
http://www.iairaq.com/vb/t21680.html
( nahimunkar.com)
[1] Ali Sistani adalah marja’ (rujukan) syi’ah terbesar hari ini setelah meninggalnya al-Khu’I tahun 1413H. Dia adalah orang Persia Iran yang bermukim di Negeri Arab, Najaf Irak. Asli Persia, tidak bisa berbahasa Arab. Dia terkenal dengan seruannya kepada Amerika untuk menjajah Irak, dan terkenal dengan fatwanya bahwa orang Syi’ah harus membuka jalan selebar-lebarnya untuk pasukan AS dalam menyerang dan memasuki Irak. Dia yang bertanggung jawab terhadap pembunuhan dan pembantaian Ahlus Sunnah di Irak yang dilakukan oleh milisi-milisi syi’ah yang loyal kepada Iran. Dia mendiamkan dan meridhai kitab-kitab syi’ah yang mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, ‘Aisyah dan Hafshah dan memvonis mereka sebagai ahli neraka jahannam, lebih najis daripada anjing dan babi. Dia berfatwa: Tidak boleh memberi zakat kepada fakir miskin Ahlus Sunnah, tidak sah shalat orang syi’ah di masjid Ahlus Sunnah. Yang tidak beriman dengan imamah syi’ah kafir di dunia kekal di neraka jahannam. Shalat di masjid Ali lebih afdhal daripada shalat di Masjid Nabawi. Dia juga yang berfatwa dengan ratusan fatwa tentang seks yang memalukan setiap muslim, karena kotor dan jijiknya serta jauhnya dari Islam. (ah) http://wwww.youtube.com/watch?v=QOqGz4kzaQE.
[2] Hauzah, istilah untuk semacam perguruan agama, di Indonesia atau kalangan sunni dikenal dengan ma’had atau pesantren.
Diambil dari:
http://alqiyamah.wordpress.com/2010/09/01/skandal-seks-wakil-imam-tertinggi-terbongkar/
Waduh,gimana ya kekacauan garis keturunan di iran kini?.mungkin skandal2 ini melimpah ruah sejak jaman dinasty2 syiah,seumpama fatimiah,savavidz,qajar,pahleviah.namun bedanya kini,media info sudah sangat canggih,hingga dapat menangkap detail skandal2 ini dan menyebarkannya dengan cepat.semoga banyak syiah2 yang sadar setelah melihat kenyataan ini.
Alhamdulillah, akhirnya terbongkar juga…
‘Islam itu Seperti Narkoba’
Dalam suatu wawancara dengan SPIEGEL, Hamed Abdel-Samad ahli ilmu politik Mesir-Jerman berbicara tentang masa kecilnya sebagai anak seorang imam di Mesir, mengapa ia beranggapan bahwa Islam itu merupakan bahaya bagi masyarakat, dan teorinya tentang keruntuhan dunia Muslim yang tak terhindarkan.
SPIEGEL: Tuan Abdel-Samad, saat ini Jerman sedang terpecah gara-gara pengarang kontroversial Thilo Sarrazin yang buku barunya “Jerman Menjerumuskan Dirinya Sendiri” memicu perdebatan sengit tentang kebijakan imigrasi dan keengganan para imigran Muslim untuk berintegrasi ke dalam masyarakat Jerman. Apakah anda termasuk faksi yang pro atau kontra Sarrazin?
Hamed Abdel-SAMAD: Tidak dua-duanya.
SPIEGEL: Apakah anda sudah menemukan jalan tengah di dalam debat integrasi itu? Atau anda hanya mencoba menghindar dari menyinggung perasaan teman-teman Jerman anda dan kawan sesama Muslim?
Abdel-Samad: Saya sama sekali tidak suka dengan sifat dari perdebatan ini. Sebagian bersikap menghakimi Sarrazin, sedangkan yang lain hanya bersorak untuk dia tanpa mendalami persoalannya. Sarrazin telah menjadi hulu petir untuk semuanya. Baik dia dilihat sebagai pahlawan ataupun sebagai kambing hitam, Sarrazin tanpa bermaksud telah menjadi kawan bagi orang yang malas berpikir dan yang tidak paham. Semua kegagalan dan kecaman sekarang bisa diarahkan kepada satu orang saja: Superman Sarrazin.
SPIEGEL: Anda mengatakan bahwa Sarrazin dan teorinya itu dilebih-lebihkan?
Abdel-Samad: Saya tidak setuju dengan pemecatan Sarrazin dari partai SPD (Partai Sosial Demokrat yang kiri-tengah, yang sedang mengupayakan pemecatan Sarrazin), dan saya yakin bahwa suatu perdebatan terbuka tentang integrasi di Jerman sangatlah diperlukan. Akan tetapi kesimpulan yang dibuat oleh Sarrazin tidak membawa kebaikan bagi kita, karena sudah tidak aktual lagi. Jerman tidak sedang menjerumuskan dirinya sendiri, akan tetapi sedang berubah melalui kebijakan keimigrasiannya, dan itu bagus. Kita perlu bicara tentang persoalan hidup berdampingan, kegagalan para imigran untuk menyesuaikan diri dan apa yang harus dilakukan untuk mereka.
SPIEGEL: Dan Sarrazin, Sang Provokator, menghalangi terjadinya hal itu dengan teorinya tentang biologi dan ras?
Abdel-Samad: Pastinya dia tidak mempromosikan hal itu. Teorinya itu tidak menolong kita menyelesaikan persoalan kebuntuan integrasi. Anda bisa lihat apa yang terjadi sekarang, bagaimana orang-orang menjadi terkubu-kubu. Seorang politikus dari Partai CDU (Uni Kristen Demokrat yang kanan-tengah) terus menerus menekankan bahwa orang asing harus belajar berbahasa Jerman dengan benar. Seorang politikus SPD, setelah menghujat pernyataan Sarrazin, menunjukkan contoh-contoh keberhasilan integrasi. Seorang idealis Turki akan menyanyikan hymne keragaman budaya dari Partai Hijau. Sementara itu seorang pengritik keras Islam mencoba menyematkan kesalahan atas semua masalah yang dihadapi Jerman kepada orang Turki.
SPIEGEL: Anda merujuk kepada Necla Kelek, seorang sosioloog Turki-Jerman, dia yang bersemangat sekali memperkenalkan bukunya Sarrazin pada kesempatan peluncuran resminya itu ya?
Abdel-Samad: Thilo Sarrazin adalah bukti bahwa kita mempunyai suatu masalah. Dia adalah si pembawa berita, dan beritanya adalah bahwa di sini sedang berkembang suatu kontroversi yang menegangkan. Kita menghadapi para penyemai ketakutan, pencari pembenaran dan keterlalu-pekaan.
SPIEGEL: Haruskah kita berpura-pura bahwa bukunya Sarrazin tidak ada?
Abdel-Samad: Kearifan Arab saya yang halus mengatakan bahwa Sarrazin tidak lebih berbahaya daripada apa yang hendak dijadikan oleh media tentang dia. Dia tidak memecah-belah negeri ini maupun menyelesaikan persoalannya.
SPIEGEL: Mungkin anda bisa mencerahi kami. Anda adalah pengritik Islam yang keras, sehingga seharusnya anda berada dalam satu perahu dengan Sarrazin, yang secara menyeluruh mengibliskan agama ini. Mengapa tidak demikian halnya?
Abdel-Samad: Dia percaya bahwa Islam sedang berjaya di mana-mana. Saya juga mengkritisi berbagai aspek dari Islam. Akan tetapi saya juga melihat bahwa Islam sedang menuju ke jalan akhirnya. Islam tidak perlu diibliskan, tetapi perlu dimodernisir dari dasar sampai ke atasnya.
SPIEGEL: Anda memprediksikan “kejatuhan dari dunia Islam,” menyitir judul dari buku baru anda. Akan tetapi bukankah Islam sedang bertumbuh dengan cepat dibandingkan dengan agama-agama lain, dan Eropa, pada khususnya, sangat kuatir akan dikuasai oleh kaum Muslim.
Abdel-Saman: Jumlah tidak banyak berarti bagi kita. Ada 1,4 milyar kaum Muslim. Kenapa memangnya? Hal yang penting adalah di hampir semua Negara yang mayoritas penduduknya Muslim, kita lihat kemunduran peradaban dan stagnasi dari semua bentuk kehidupan. Islam tidak punya jawaban yang meyakinkan atas tantangan hidup abad ke 21. Islam berada dalam kemunduran intelektual, moral dan budaya – suatu agama yang menuju kiamat, tanpa kesadaran-diri dan tanpa pilihan tindakan.
SPIEGEL: Bukankah anda sedang melakukan kesalahan yang sama dengan kebanyakan pengritik islam yang radikal, dengan mengelompokkan bersama seluruh agama ini, dalam semua bentuk-bentuknya yang berbeda?
Abdel-Samad: Tentu saja agama kami punya banyak arah. Perbedaannya mungkin menarik bagi pada theoloog dan anthropoloog, akan tetapi hal-hal itu sama sekali tidak relevan dari sudut pandang politis. Unsur penentunya adalah secara umum tidak ada arah tujuan yang jelas dan keterbelakangan, yang seringkali menjurus ke fundamentalisme yang agresif. Itulah ciri umumnya.
SPIEGEL: Bukankah Dubai itu dunia yang berbeda dari Somalia, dan Indonesia yang relatif liberal itu sangat berbeda dengan Iran yang menerapkan theokrasi dengan ketat. Turki itu demokratis dan akhir-akhir ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari kebanyakan Negara Eropa lainnya. Apakah hal itu merupakan kekecualian?
Abdel-Samad: Tentu saja ada perbedaan. Akan tetapi ketika kaum Muslim berupaya memasukkan mata pelajaran Islam ke dalam kurikulum sekolah di Eropa atau berupaya memperoleh status non-profit untuk sebuah organisasi Islam, selalu yang dikemukakan adalah Islam yang tunggal. Akan tetapi begitu ada seseorang menyerang kepercayaannya, mereka langsung menggunakan tipuan untuk membungkam kritikan itu dan dengan cerdiknya bertanya: “Islam yang mana yang anda maksudkan?
SPIEGEL: Mungkin anda dapat membantu kami memahaminya.
Abdel-Samad: Ibaratnya, Islam itu seperti narkoba, seperti alkohol. Sedikit bisa berguna untuk menyembuhkan atau memberikan inspirasi, tetapi ketika kaum beriman itu meraih botol iman yang dogmatis dan menenggaknya untuk setiap situasi, maka hal itu menjadi berbahaya. Bentuk Islam yang begitu itu yang saya maksudkan. Hal itu membahayakan orang-seorang dan merusakkan masyarakat. Hal itu merintangi integrasi, karena Islam ini membagi dunia menjadi kawan dan lawan, menjadi kaum beriman dan kaum kafir.
SPIEGEL: Kedengarannya anda tidak banyak berbeda pandangan dengan Tuan Sarrazin.
Abdel-Samad: Persamaan antara Tuan Sarrazin dan saya hanyalah bahwa kami berdua berasal dari latar belakang imigran. Dia takut terhadap dunia Islam, sedangkan saya menguatirkan nasib Islam. Jerman menawarkan kepada kami berdua sebuah forum, dan hanya untuk alasan itu saja negeri ini tidak bisa dikalahkan.
SPIEGEL: Anda mendukung suatu bentuk Islam yang lebih lunak. Apa yang masih akan ada di bagian inti dari agama ini?
Abdel-Samad: Impian saya, sebenarnya, suatu Islam yang tercerahkan, tanpa hukum Syariah dan tanpa jihad, tanpa apartheid jender, pengislaman dan mentalitas merasa berhak. Suatu agama yang terbuka terhadap kritikan dan pertanyaan. Sejauh yang menyangkut diri saya, saya berpindah dari iman ke pengetahuan beberapa lama yang lalu.
SPIEGEL: Anda menjadi seorang atheis.
Abdel-Samad: Tidak.
SPIEGEL: Anda boleh saja mengakuinya. Menjadi seorang atheis bukanlah sesuatu hal yang memalukan.
Abdel-Samad: Tetapi itu tidak benar.
SPIEGEL: Tidak seorang imam, pastur Katholik atau Rabbi Yahudi pun yang bisa mempercayai anda. Percaya kepada Tuhan berarti menerima bahwa ada sesuatu yang ada di luar pengetahuan. Jika anda tidak mempercayai hal itu mengapa anda bersikeras menamakan diri anda sendiri seorang Muslim?
Abdel-Samad: Percaya kepada Tuhan bisa juga berarti tidak bersetuju dengan Dia. Saya tidak berdoa secara teratur, dan saya tidak berpuasa selama Ramadan. Dalam hal itu, saya tidak taat beragama. Tetapi saya menganggap diri saya sendiri sebagai Muslim. Itu adalah komunitas budaya saya. Bagi saya Islam adalah juga tanah air saya dan bahasa saya, dan Bahasa Arab saya tidak bisa dipisahkan dari semua itu. Kamu bisa menjauhkan dirimu dari Islam akan tetapi tetap berada dalam jantung dari Islam. Saya tidak mau menyerah kepada para fundamentalis yang mengotbahkan kekerasan. Mereka sedang bangkit.
SPIEGEL: Tapi bukankah Islamisme sedang mengalami kemunduran, walaupun – atau justru oleh karena – serangan-serangan yang dilakukan oleh Al-Qaida? Osama bin Laden tidak lagi menjadi pahlawan dari jalan Arab.
Abdel-Samad: Kebencian dari dunia Barat belum hilang juga. Pada kenyataannya justru bertumbuh di beberapa tempat. Dan kebanyakan dari kekerasan itu ditujukan terhadap kaum Muslim, seperti yang terjadi di Iraq dan Somalia.
SPIEGEL: Mantan Presiden Amerika George W. Bush menyatakan secara jelas reservasinya tentang Islam kepada kaum Muslim di dunia. Di Iraq dan Guantanamo, orang-orang Amerika menghina para tahanan Muslim dan kadang-kadang mengejek agamanya. Seorang pendeta di Florida bahkan baru-baru ini mengatakan bahwa ia akan membakar Al Quran.
Abdel-Samad: Semua yang anda katakan itu benar.
SPIEGEL: Sampai hari ini, dunia Muslim secara tajam mengkritisi – dapat dibenarkan, sampai titik tertentu – tentang fakta bahwa Washington, dengan kebijakan pro-Israelnya, menerapkan standard ganda di Timur Tengah.
Abdel-Samad: Tetapi itu bukan alasan pembenaran untuk melakukan kekerasan.
SPIEGEL: Tentu saja tidak. Tetapi mengapa anda bersikeras bahwa ada hubungan sebab dan akibat antara terorisme dan Islam? Mengapa anda tidak menyalahkan hal itu kepada kondisi hidup yang menyengsarakan dan kurangnya kesempatan, yang atas mana para diktator Arab, yang seringkali adalah sekutu erat dari penguasa Barat, bertanggungjawab?
Abdel-Samad: Karena para teroris meneriakkan agama. Dan karena kemiskinan adalah penyebab teror.
SPIEGEL: Itu aneh. Kita tidak menyalahkan Kekristenan karena ada kelompok sempalan di Irlandia Utara yang melakukan pembunuhan atas nama agama mereka. Kita tidak mengambil Judaisme sebagai alasan ketika seorang teroris di Hebron membantai Muslim di makam Abraham dan meneriakkan Yahweh. Tapi dengan Islam…
Abdel-Samad: …itu cerita yang berbeda sama sekali. Karena kekerasan telah menyekutukan dirinya dengan kebudayaan.
SPIEGEL: Itu yang anda klaim.
Abdel-Samad: Dan karena para pelaku kekerasan itu lebih sering mendasarkannya pada Al Quran daripada tidak. Maka dari itu kita sangat membutuhkan kaum penghujat yang, mengabaikan hal-hal tabu, mempertanyakan segala sesuatu tentang agama ini.
SPIEGEL: Anda membuatnya seolah-olah agama anda tidak berubah. Majalah berita Amerika Time memuji “revolusi damai” dari Islam pada laporan utamanya. Dan para pembaharu yang anda butuhkan itu memang ada. Salah satunya adalah pemikir Iran Abdolkarim Soroush, yang mengakui berbagai jalan menuju pada iman yang benar, dan yang lain adalah theoloog Mesir yang baru saja wafat, Nasr Hamid Abu Zayd.
Abdel-Samad: Saya kenal baik dengan Abu Zayd, dan saya menghormati beliau. Anda tahu bahwa hakim-hakim yang radikal memutuskan dia untuk diceraikan dari isterinya karena pandangan-pandangannya yang liberal, dan sehingga beliau harus kabur dari Mesir dan pergi ke Nederland. Akan tetapi pemikir-pemikir seperti mereka merupakan kekecualian. Kebanyakan dari para reformis Islam mengingatkan saya pada band di kapal Titanic, yang terus bermain walaupun kapalnya sedang tenggelam, untuk memberikan kesan kepada para penumpang suatu ilusi bahwa semuanya normal-normal saja. Problema dasarnya tidak diapa-apakan.
SPIEGEL: Dan apakah itu?
Abdel-Samad: Mempertanyakan Al Quran itu sendiri. Walaupun saat ini perdebatan telah dimulai, perdebatan itu tidak pernah mencapai suatu kesimpulan. Para reformis dan kaum konservatif sama-sama terobsesi oleh kitab suci itu. Kadang-kadang saya bertanya kepada diri saya sendiri siapa yang butuh Al Quran dewasa ini. Mungkinkah kepercayaan kami ini mempunyai cacat sejak lahir? Benarkah agama itu mencapai keberhasilan terlalu cepat, dan karenanya kewajiban pemerintah dan militer menjadi tercampur-aduk dengan agama? Bagaimana Islam dapat mencapai puncaknya di Abad Pertengahan, dan mengapa semuanya menjadi kacau setelah itu?
SPIEGEL: Apakah makna Al Quran bagi anda?
Abdel-Samad: Saya masih sering membacanya. Itu adalah pendidikan saya, masa kecil saya.
SPIEGEL: Ceritakan tentang Mesir, tanah kelahiran anda.
Abdel-Samad: Saya dilahirkan di desa kecil di tepi Sungai Nil, anak ketiga dari lima bersaudara. Ayah saya adalah imam dan penjaga tertinggi iman Islam di sana, dan beliau dengan niat memberikan kepada saya nama yang spesial suci: “Hamba Allah yang Berterimakasih.” Di bawah bimbingan beliau, saya dalam waktu singkat hafal Al Quran di luar kepala. Masa itu adalah masa yang terlindungi, namun saya sering melihat ayah memukul ibu saya, ibu berlutut di depan ayah tanpa mengeluh.
SPIEGEL: Mengapa dia melakukan hal itu?
Abdel-Samad: Karena beliau terpaksa melarikan diri dari kejaran tentara Israel ketika beliau menjadi serdadu dalam Perang Enam Hari, dan beliau tidak pernah bisa mengatasi pengalaman buruk itu. Karena pada umumnya para lelaki di desa itu memukuli isterinya. Karena agama tidak tegas melarang hal itu. Itu adalah seperti apa yang umum terjadi di sana.
SPIEGEL: Anda mengalami pelecehan ketika anda masih anak-anak.
Abdel-Samad: Saya perkirakan saya berumur empat tahun waktu itu. Dilumpuhkan oleh ketakutan, saya menghapal Al Quran selama berjam-jam pada malam hari. Saya dilecehkan lagi pada usia 11 tahun, kali ini oleh sekelompok laki-laki muda. Sesuai dengan tradisi kami, tidak terpikirkan untuk menceritakannya kepada ayah saya atau kepada siapapun.
SPIEGEL: Anda mengganggap Islam bertanggung-jawab sebagian atas kejahatan itu?
Abdel-Samad: Ya, sebagaimana hal itu dialami sekarang. Seksualitas yang ditekan, tinggal berdesak-desakan di ruangan yang sempit dalam masyarakat yang tertutup dan diperbudak oleh yang berkuasa menjadi faktor penyebab.
SPIEGEL: Itu adalah phenomena yang sama untuk mana institusi Katholik juga dikenal.
Abdel-Samad: Mungkin. Ayah saya, bagaimanapun juga, menginginkan agar saya menjadi sarjana Islam. Tetapi saya telah memutuskan untuk belajar Bahasa Inggris dan Prancis, dan selama berhari-hari saya bersiap diri, dengan kenekatan, untuk berkonfrontasi. Beliau menerima keinginan saya, tetapi terlihat oleh saya bahwa beliau dipenuhi rasa putus asa. Di universitas di Kairo, saya main mata secara ideologis dengan kaum Marxis dan Ikhwanul Muslimin. Saya meneriakkan slogan-slogan anti-Semitis pada demonstrasi-demonstrasi. Karena semua orang pada waktu itu melakukan hal yang sama.
SPIEGEL: Apa yang membuat anda sampai pindah ke Jerman?
Abdel-Samad: Saya ingin membebaskan diri dari segala kekangan. Saya bekerja sebagai pemandu wisata untuk beberapa waktu, pada masa itu saya berjumpa dengan seorang perempuan Jerman yang mengundang saya untuk pergi ke Jerman. Tetapi saya sama sekali belum bisa mengatasi ketakutan saya dan ketidakpastian tujuan. Ketika saya berdiri di hadapan seorang petugas di bandara di Frankfurt pada tahun 1995, saya membayangkan dia ragu-ragu sejenak sebelum menyetempel paspor saya. Saya pikir matanya berbicara kepada saya: Ini dia, satu lagi pembisik unta yang ingin memanfaatkan kemakmuran kami.
SPIEGEL: Apakah anda cepat berintegrasi ke dalam masyarakat Jerman?
Abdel-Samad: Sama sekali tidak. Jerman tampak asing bagi saya, seperti mesin yang rumit tanpa buku manual untuk mengoperasikannya. Saya akhirnya menikah dengan teman perempuan saya itu, seorang pemberontak, guru aliran kiri yang 18 tahun lebih tua dari saya. Tapi itu bukan karena cinta. Dia melakukannya karena alasan perpajakan dan saya untuk paspor Jerman.
SPIEGEL: Jadi itu merupakan suatu kesepakatan yang saling menguntungkan.
Abdel-Samad: Pada dasarnya begitulah adanya, kecuali bahwa saya tidak siap menghadapi kebebasan cara Barat. Itu menjadi kutukan bagi saya pada awalnya, dan membuat saya menjadi agresif. Saya mulai belajar ilmu politik di Augsburg. Di mana-mana ada godaan: gadis-gadis muda di serikat mahasiswa dan bir di bar-bar. Saya merasa bersalah bilamana saya terlalu menikmati ‘buah-buahan’ Barat, yang dilarang oleh iman saya. Saya merasa terhina dan tercerabut akar saya. Untuk masa yang singkat, saya ikut suatu kelompok mahasiswa Islamis, mencoba melarikan diri dari kesepian saya dalam kehangatan pertemanan. Ada orang-orang yang jatuh ke dalam cengkeraman teroris secara begitu. Saya tidak. Namun saya mengalami halusinasi dan keringat dingin, dan saya merasakan ketakutan akan kematian.
SPIEGEL: Apakah anda mencari pertolongan profesional?
Abdel-Samad: Ya, saya masuk sendiri ke klinik psikiatri. Saya sudah di ambang bunuh diri. Mereka memindahkan saya ke kamar isolasi dan merawat saya untuk kelainan kepribadian yang sudah di ambang batas. Benar-benar seperti neraka, dan neraka itu juga ada di dalam diri saya sendiri. Saya melakukan segalanya untuk meyakinkan para perawat bahwa saya bisa mengatasi jika berada di luar lagi. Para dokter mempercayai saya. Setelah saya diperbolehkan keluar, saya mengusahakan pelarian saya berikutnya, kali ini ke Jepang, di sana saya belajar Bahasa Jepang, dan berkenalan dengan spiritualitas Asia Timur. Saya bertemu dengan kekasih hidupku di Kyoto, seorang perempuan yang setengah Denmark dan setengah Jepang – perempuan yang menjadi isteriku sekarang.
SPIEGEL: Mungkinkah bahwa anda memberikan peran yang terlalu besar bagi agama dalam hidup anda, sehingga anda mengharapkan terlalu banyak darinya?
Abdel-Samad: Itu terserah kepada orang lain untuk menilainya. Saya telah mendekati Islam secara rasional dan membaca Kant dan Spinoza. Saya telah mempelajari Pencerahan. Dan saya telah mempelajari Reformasi, yang telah gagal muncul di dalam Islam hingga hari ini.
SPIEGEL: Anda mengritik Islam sebagai suatu kelompok yang lekas merasa tersinggung dan bahkan menikmatinya. Anda telah menuduh kaum kiri liberal Eropa mengejar suatu “kebijakan untuk menyenangkan” terhadap Islam. Mengapa anda sebagai seorang akademisi, kadang-kadang menikmati menjadi provokator dalam cara yang sama dengan Sarrazin? Apakah itu suatu ciri khas dari para murtadin untuk tidak memaafkan?
Abdel-Samad: Anda harus menyatakan opini anda secara jelas jika anda ingin didengar. Ada banyak sekali para apologet untuk Islam.
SPIEGEL: Akan tetapi kecenderungannya di Jerman sini kelihatannya menuju ke arah yang berbeda. Kaum yang menyuarakan berbahayanya Islam mendominasi opini publik. Kaum Muslim diejek di Internet sebagai “pengentot kambing” dan “pelacur bercadar,” sedangkan agamanya diolok-olok sebagai ”biadab.”
Abdel-Samad: Hal itu sangat tidak layak dikatakan dan sangat hina sehingga saya bahkan tidak ingin memberikan kehormatan kepada mereka dengan mengomentarinya.
SPIEGEL: Tetapi penghujatan-Islam telah menjadi hal yang secara sosial dapat diterima di antara banyak kaum intelektual Jerman. Apakah anda merasa nyaman berada di antara kaum pengidap Islamophobia?
Abdel-Samad: Saya tidak suka ungkapan itu. Seseorang yang mengidap phobia adalah seorang yang menghadapi khayalan-khayalan. Tetapi bahaya-bahaya yang dihadapkan oleh kaum Islamis itu nyata, dan ketidakmauan dari banyak kaum Muslim untuk berintegrasi di Jerman adalah suatu masalah yang serius. Bukan masalah saya kalau ada pengritik lain yang melebih-lebihkan dan retorika mereka menjadi kelewat batas. Saya hanya bisa berbicara untuk diri saya sendiri.
SPIEGEL: Sejarawan terhormat, Wolfgang Benz, yang pernah menjabat sebagai direktur dari Pusat Riset Antisemitisme di Universitas Teknik di Berlin selama bertahun-tahun, sekarang ini menarik garis paralel antara para agitator anti-Semitis dengan para kritikus Islam yang ekstrim. Menurut Benz, mereka menggunakan metoda yang sama untuk mengembangkan stereotip dari musuhnya, misalnya dengan menggunakan gambaran yang sengaja didistorsikan dan kehisterisan umum. Apakah ada kebenaran dari apa yang dikatakannya?
Abdel-Samad: Anda bisa membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Saya tidak melihat adanya suatu hubungan apapun.
SPIEGEL: Anda sedang dalam proses untuk menjadi tokoh Muslim teladan bagi para politikus konservatif di Jerman.
Abdel-Samad: Apa yang membuat anda mengatakan hal itu?
SPIEGEL: Menteri dalam Negeri Jerman Thomas de Maiziere, seorang anggota dari partai CDU yang konservatif telah menunjuk anda untuk menghadiri Konferensi Islam Jerman.
Abdel-Samad: Hanya itu saja? Ya, saya telah menghadiri tiga kali pertemuan sejauh ini, dan saya pikir itu adalah suatu panel yang menarik, suatu panel di mana Muslim dari berbagai corak berinteraksi dan berdebat secara madani. Hal itu merupakan suatu nilai tambah untuk Jerman.
SPIEGEL: Anda menuduh sesama kawan Muslim anda masih terus menerus mencari kambing hitam.
Abdel-Samad: Ya, ketimbang mencari kekurangan di dalam dirinya sendiri. Mungkin proses yang saya alami adalah proses yang dibutuhkan oleh Islam secara keseluruhan, yaitu setiap orang mawas diri secara kritis dan berhenti menyalahkan orang lain terus menerus untuk penderitaannya sendiri dan merasa menjadi korban. Mereka juga perlu membebaskan diri dari berbagai kekangan. Kepahitan dan menuding orang lain hanya akan menuju pada kekerasan, dan kita semua telah cukup banyak mengalaminya di dunia ini.
SPIEGEL: Tuan Abdel-Samad, terima kasih untuk wawancara ini.
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris dari Bahasa Jerman oleh Christopher Sultan. Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Tibandenker.
Jika ente pecinta sejati Muawiyah maka ente wajib menjawab mubahalah ane “Jika Muawiyah mati tidak dalam keadaan kafir maka Alloh akan menghukum ane dengan hukuman yang sepedih-pedihnya mulai detik ini juga sampai akhir hayat ane” Jika ente tidak menjawab maka ente percaya bahwa Muawiyah adalah manusia yang dila’nat Alloh dan Rosulnya!
Terus terang saya sangat respek dengan tulisan disini, wajar, sangat saling menghormati, cukup santun. Walau ada suhu yang bervariatf tapi tetap terkendali. Saya sangat muak dengan kekerasan, kata-kata jorok, kata-kata yang mengundang kebencian, Debat bisa kok dengan cara santun dan tanya jawab bermutu.
Kuwalitas seseorang bisa dilihat dari tulisannya.
Intelektualitas seseorang terlihat dari komen dan sikap dalam tulisannya.
Giliran yang begini tidak banyak orang yang berkomentar, padahal kalau membicarakan topik penghinaan kepada Kristen,…. wah yang komen bejibun dan kata-katanya kotor, jorok dan segala predikat buruk semua.
mbak Fitri yang cantik juga tidak berkomentar, padahal dia yang jadi “RATU Kerajaan Agama” mestinya wajib jadi nyonya rumah yang baik, menghormati tamunya, begituuuuuuuuuuuu !
Sungkan kalei ….. karena terbiasa dengan klas yang berbeda. Aaaaaah mbak Fitri dan mas Hanifa, saya tunggu komen kalian di posting ini.
Juga saya tunggu jawaban dari komen saya di topik lain.
Oke ……… bye …………
@Om Her
Makanye elo kudu blajar ngaji biar kagak sok pintar.
Nyang posting ini bukannye @tante Fitri tapi @Om Haniife…. Cekixkix…kix…kix..
Noooh gue bantuin elo…..
Posted by حَنِيفًا in Uncategorized :
Posted = Tukang Pos,
by = begitu yeee
حَنِيفًا= HANIIFA
in = Ini @Om Herlambang Perkasa …. (Uncategorized) bukan Kategori MANUSIA NORMAL… Cekixkix…kix…kix….
Belajar ngaji ?
Maaf ya …. aku tidak mau.
Karena aku tidak bisa mempertaruhkan keselamatanku kepada Nabi Muhammad yang mempunyai reputasi pribadi tidak jelas.
Serta track record sex yang sedemikian buruknya.
Saya takut ……….. tidak bisa jadi murid yang baik.
Paling tidak menyamai kepandaian gurunya.
Nabiku yang sekarang, santun, reputasi tidak cemar, kasih dan sayang, menolong, menghibur, menjamin masuk surga. Tidak ditakuti dan tidak diancam.
Silahkan baca :
Menikah tanpa saksi atau upacara pernikahan atau tanpa persetujuan wanitanya, apa yang menurut syariat Islam disebutkan sebagai tindakan perzinahan dan akan berakhir dalam api neraka ternyata tidak berlaku bagi Muhammad. (Lihat Hadits Sahih Bukhari, vol.2, Book 23 #468 dan vol.9, Book 67 #171).
Ketika orang-orang menanyakan hal tersebut, dengan cepat Allah melalui Jibril menurunkan ayat-ayat untuk membela Muhammad, seperti ayat yang disebutkan diatas. Muhammad berhubungan dengan tigapuluh wanita lebih namun dikatakan bahwa dia menikah secara sah hanya dengan duapuluh dua wanita. Diantara pengiringnya, enam wanita diantaranya telah menawarkan diri kepada sang Nabi namun hanya empat yang diinginkan. (Lihat Al-Sira Al-Halabia oleh Al-Halabi, hal.417). Juga diriwayatkan bahwa Muhammad mempunyai kemampuan menggilir isteri-isterinya dalam satu malam sebanyak sembilan isteri. (HSB 181).
Ilmuwan dan negarawan Muslim Ali Dashti melaporkan daftar wanita dalam kehidupan Muhammad:
1. Khadijah 12. Hindun
2. Sawdah 13. Asma bt Saba
3. Aisha 14. Zainab bt Khuzaimah
4. Ummu Salama 15. Habla
5. Hafsah 16. Asma bt Noman
6. Zainab bt Jahsy 17. Maria (Kristen)
7. Juwariyyah 18. Rihana
8. Ummu Habiba 19. Ummu Sharik
9. Safiyah bt Huyai 20. Maimunah
10. Maimunah bt Harits 21. Zainab
11. Fatimah 22. Khaula
Keterangan:
- Wanita no. 1 s/d 16 adalah isteri-isteri Muhammad.
- Wanita no. 17 dan 18 adalah budak atau gundik.
- Wanita no. 19, 20, 21, 22 adalah wanita-wanita Muslim yang menyerahkan diri mereka sendiri untuk memuaskan Muhammad.
Kepada para Muslimah tersebut, Nabi Suci berani memberikan janjinya sebagai berikut: “Siapa yang menjamin kepadaku kelaminnya dan lidahnya niscaya aku menjamin surga kepadanya.” (HSB 1816), sementara wahyu Allah tidak memastikan surga apapun bagi Muslim kecuali neraka: “Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kepastian yang sudah ditetapkan” (Surat 19:71).
Sumber : http://muslimharustahu.wordpress.com/artikel/
Terima kasih, sekali lagi maaf saya tidak bersedia belajar ngaji, maaf…maaf…maaf .
@Om Her
Belajar ngaji ?
Maaf ya …. aku tidak mau.
Karena aku tidak bisa mempertaruhkan keselamatanku kepada Nabi Muhammad yang mempunyai reputasi pribadi tidak jelas.
Serta track record sex yang sedemikian buruknya.
=> CEKIXKIX…KIX…KIX……
LUCUNYA AL KITAB QUR’AN YANG BELIAU BAWA MENCERAHKAN DAN MENYELAMATKAN UMAT MANUSIA DI DUNIA DAN AKHIRAT.
COBA GUE MO TANYA MENURUT AL KITAB YESUS :
KAPAN IBLIS DAN SETAN TERCIPTA ?!
…. Cekixkix…kix…kix…..
Kheknya kagak terjawab yeh….
Antikrist/lusifer/iblis/setan/ular tua/belzebub/dajjal/awal sirik/penghujat, atau apalah namanya disebut oleh manusia, konon dulu pd masa penciptaan menurut Taurat musa-alkitab-Tauhid/korah (karena saya penganut jamaat allah mula-mula dr Ya’qub jd saya menggunakan ketiganya,dan saya jg menerima Yesus sebagai Allah dalam daging,anak yg telah dinubuatkan Daud & Musa) dalam kejadian : DIA (iblis) adalah malaikat allah yg cukup tinggi derajatnya (pemimpin sorak-soraian nyanyian sangkakalah di sorga) singkat cerita timbullah sirik dari malaikat tersebut yg merasa bahwa allah tak pantas menjadikan manusia sbagai “objek” cinta-NYA (Allah),lalu menolak bersujud diantara malaikat lain disorga,
bla…bla….bla….panjang crita,ada beberapa batasan yg diberikan pada iblis oleh Allah,
1.yakni tidak akan dapat meninggalkan bumi/terkutuk/dikunci dibumi dng manusia karena surga bukan lg tempatnya. Kesimpulan : Yesus terangkat kesurga bersama dng roh dan daging (bekas penyaliban dan dia tidak mati dalam pengertian manusia,melainkan terpisah dari roh dan daging,karena dia yg memegang kuasa maut),mohhammed terangkat kesurga dengan roh dan langsung disaksikan oleh jemaatnya) so iblis gak ada dikeduanya ok…..
2.Tidak lg dapat melihat dng Mata hati.
dari sudut pandang kristen : sombang,keji,tega,fasik,yg semua berasal dr iblis, yg diberi ijin oleh manusia itu sendiri untuk masuk kedirinya.
dari sudut pandang islam lebih vulgar dng gambaran simbol & fisikis : “Ra(dewa pangan/fir’aun)”, “mata satu”,Dajjal,mengubah batu menjadi emas,tanpa alasan jelas mengenai ketuhanan “Allah” dan jelas menyesatkan.
sedikit info dr saya sisanya anda psti bs berexperimen dng org2 ahli agama,berdasarkan keyakinan yg dipeluknya,salam damai sejahtera bagimu sekalian.
saya jg menerima Yesus sebagai Allah dalam daging,anak yg telah dinubuatkan Daud & Musa) dalam kejadian : DIA (iblis) adalah malaikat allah yg cukup tinggi derajatnya (pemimpin sorak-soraian nyanyian sangkakalah di sorga) singkat cerita timbullah sirik dari malaikat tersebut yg merasa bahwa allah tak pantas menjadikan manusia sbagai “objek” cinta-NYA (Allah),lalu menolak bersujud diantara malaikat lain disorga,
bla…bla….bla….panjang crita,ada beberapa batasan yg diberikan pada iblis oleh Allah,BLA…..BLA…..KEBLABLASAN DECH……Ternyata IBLIS itu mulanya pemimpin Paduan Suara TUHAN……Pantes…..agama kok….nyanyii…aja……gak Ritual pasti…….seminggu cuma satu kali……masuk gereja sepatu kena ” tai babi ” gak papa kan gak dilepas..!!!!! BAU…>>>>>>>>> KALI……<<<<<