Robert Mikelsons, pelaku pornografi anak

Robert Mikelsons, pelaku pornografi anak

TEMPO.CO Boston – Boston – Mengerikan, menjijikkan, dan biadab. Inilah sumpah serapah yang diberikan pada orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang lintas benua, yang tergabung dalam jaringan maya pornografi anak. Mereka tak sekadar saling bertukar gambar-gambar mesum yang melibatkan anak-anak, tapi juga berdiskusi tentang cara mencincang dan memasak korban mereka.

Jaringan ini terbongkar menyusul tertangkapnya Robert Mikelsons di Amsterdam Mei lalu. Dia merupakan pelaku pencabulan puluhan bayi dan kanak-kanak.

Dari foto bayi berusia 18 bulan yang tampak bingung dalam kondisi setengah telanjang lah, Mikelseons terendus. Dari sana, polisi menangkap satu demi satu orang yang dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak, bertukar foto eksplisit dari serangan dan bahkan chatting online tentang menculik, memasak, dan memakan potongan tubuh anak-anak ini. Hingga kini, sudah 43 orang diamankan.

Pihak berwenang telah mengidentifikasi lebih dari 140 korban sejauh ini.  Mereka juga berusaha untuk memastikan apakah orang yang berbicara tentang kanibalisme itu benar-benar melakukan tindakan atau sekadar berfantasi saja.

Operasi diberi nama kode Holitna, merujuk pada sebuah sungai di Alaska dengan banyak anak sungai. “Mereka adalah yang terburuk dari yang terburuk,” kata Bruce Foucart, aparat kepolisian Boston yang terlibat dalam penyelidikan. “Ini bukan hanya foto anak telanjang dan disebar di dunia maya, ini adalah anak yang sedang diperkosa oleh orang dewasa.”

http://www.tempo.co/read/news/2012/08/05/116421421/Jaringan-Pornografi-dan-Kanibalisme-Anak–Terkuak

MINGGU, 05 AGUSTUS 2012 | 06:25 WIB

Begini Jaringan Pornografi Anak Itu Terendus

TEMPO.CO Boston – Operasi yang diberi nama kode Holitna berhasil menjaring 43 pria lintas benua. Mereka diduga terlibat dalam pornografi dan dugaan kanibalisme anak. Tak hanya menjadikan anak obyek seksual, mereka juga mencincang dan memakan tubuh korbannya.

“Mereka adalah yang terburuk dari yang terburuk,” kata Bruce Foucart, aparat kepolisian Boston yang terlibat dalam penyelidikan.

Kasus ini mulai terungkap ketika Robert Diduca, manajer hotel di Milford, Massachussetts, mengirim foto anak Belanda untuk agen federal yang menyamar di Boston. Diduca, seorang ayah beranak tiga yang menggunakan nama layar “Babytodd”, berpikir dia mengirim gambar ke pria lain yang memiliki minat seksual pada bayi dan balita.

Agen meneruskan foto ke Interpol, organisasi polisi internasional, yang kemudian mendistribusikannya ke beberapa negara lain.

Seorang penyidik kepolisian Belanda menelusuri sweter oranye anak itu ke toko kecil di Amsterdam yang hanya menjual 20 unit pada konsumennya. Foto anak itu disiarkan pada program TV nasional. Dalam beberapa menit, teman dan kerabat memanggil ibu si anak.

Robert Mikelsons, pria 27 tahun yang bekerja di tempat penitipan bayi, ditangkap. Belakangan, di komputernya polisi menemukan ribuan gambar anak-anak yang dianiaya dan diperkosa, termasuk anak yang fotonya sampai ke tangan agen yang menyamar tadi.

Foto dan online chatting ditemukan di komputer Mikelsons. Dari sana polisi mengendus jaringannya, yang tersebar di tujuh negara, termasuk Kanada, Inggris, Jerman, Swedia, dan Meksiko. Korban tertua di Belanda berusia 4 tahun dan yang termuda bayi berusia 19 hari.

Jaksa Massachusetts, Carmen Ortiz, yang kantornya bakal mengajukan penuntutan terhadap Diduca, mengatakan permintaan untuk foto serangan seksual terhadap anak-anak, termasuk bayi dan balita, telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. “Permintaan ini menyebabkan kekerasan terhadap anak-anak meningkat,” katanya.

Diduca mengaku bersalah atas tuduhan pornografi anak dan eksploitasi seksual dan dijatuhi hukuman 18 tahun penjara. Pengacaranya, Richard Sweeney, mengatakan Diduca mengalami pelecehan seksual saat masih anak-anak. Namun bagaimanapun, itu bukan alasan pembenar bahwa dia berperilaku menyimpang setelah dewasa.

http://www.tempo.co/read/news/2012/08/05/116421423/Begini-Jaringan-Pornografi-Anak-Itu-Terendus

About these ads