PERINGATAN 20 TAHUN GENOSIDA RWANDA

 

Hari Minggu 6 April 2014 ratusan orang telah hadiri Misa di Sainte – Famille gereja Katolik di Kigali ibukota Rwanda, mengawali minggu berkabung nasional dalam rangka menandai ulang tahun ke-20 genosida di negara itu.

Misa  20 tahun Genosida RWANDA

Misa di Sainte – Famille gereja Katolik di Kigali dalam rangka memperingati tewasnya lebih dari 800.000 jiwa dalam pembunuhan massal di Rwanda .

Rwanda

Presiden Kagame dikabarkan telah mengatakan Perancis memiliki “peran langsung” dalam “persiapan politik untuk genosida”

Namun di barisan tamu diplomatik, tak satupun diplomat Prancis tampak menghadiri. Pasalnya, pemerintah Prancis telah mengumumkan pihaknya mundur dari peringatan HUT ke-20 genosida tersebut menyusul tuduhan Presiden Rwanda Paul Kagame –  bahwa Perancis telah ambil bagian dalam peristiwa pembunuhan massal yang sedikitnya telah menewaskan 800.000 orang – kebanyakan etnis Tutsi dan Hutu moderat – pada tahun 1994. Sebagian besar korban genosida diserang dengan parang selama 100 hari pembantaian yang dimulai pada 6 April 1994, tak lama setelah Presiden Juvenal Habyarimana Hutu tewas ketika pesawatnya ditembak jatuh di atas ibukota Rwanda. Dalam kaitan ini berbagai dokumen mencatat keterlibatan pemuka gereja Kristen dalam pembunuhan massal tersebut sehingga tak sedikit pemuka gereja yang dijatuhi hukuman oleh pengadilan internasional.

Reporter BBC Afrika Kassim Kayira menjelaskan bahwa Muhozi, seorang korban selamat dari genosida yang mengguncang Rwanda pada tahun 1994 yang hadiri Misa  mengatakan : ” Hari ini Misa adalah tentang kebangkitan dan saya percaya bahwa suatu hari , jiwa-jiwa orang-orang kita yang hilang akan bangkit kembali” . “Gereja ini memiliki sejarah yang sangat panjang karena di gereja ini banyak orang meninggal selama genosida meski beberapa selamat juga karena mereka berada di gereja ini”.

Vatikan

Paus Francis, dalam pidato mingguan di lapangan St Petrus di Vatikan, secara spesifik menyinggung peringatan ulang tahun genosida tsb sbb :

“Pada kesempatan ini saya ingin sampaikan kedekatan kami kepada rakyat Rwanda, mendorong mereka untuk melanjutkan tekad dan harapan, proses rekonsiliasi yang telah terwujud buahnya dan komitmen manusia dan rekonstruksi spiritual negara” demikian disampaikan.

Pembunuhan massal di Rwanda tersebut berakhir pada Juli 1994 ketika Front Patriotik Rwanda ( RPF ), gerakan pemberontak Tutsi pimpinan AS berhasil memasuki negara itu dari Uganda dan mengambil alih kekuasaan pemerintah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 87 pengikut lainnya.