Fenomena Penyebaran ajaran Kristen Ortodoks Suriah di Indonesia dan Kemiripannya dengan Ajaran Agama Islam

KOS4

Gereja Ortodoks Suriah adalah salah satu dari kelompok Gereja Kristen Ortodoks yang berawal dari Yerusalem. Menurut sejarah, Gereja ini pertama kali didirikan di Antiokhia oleh Petrus, yang dianggap sebagai Patriarkh pertama dari Tahta Suci Rasuliah Antiokhia yg tewas di kota Roma. Kota Antiokhia tidak saja menjadi cikal bakal Gereja Kristen yang pertama, tertua dan paling terkenal, tetapi juga menjadi dasar dari doktrin kekristenan. Di kota Antiokhia-lah untuk pertama kalinya mereka yang mengimani Yesus Kristus disebut orang-orang Kristen

Gereja Orthodox Syria menjunjung doktrin trinitas sebagai azas iman sebagaimana ditetapkan tiga konsili ekumenikal di Nicea tahun 325 Masehi, Konsili Konstantinopel tahun 381 Masehi dan Konsili Efesus 431 Masehi. Bahkan merekalah yang pertama kali menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Syria (Arami) dan beberapa bahasa lainnya. Injil diterjemahkan ke dalam bahasa Arab atas perintah Patriarkh Syria, Mar Yuhanna II. Sejauh ini konon terdapat 55 manuskrip Injil berbahasa Arami dari abad 5, 6 dan 7 Masehi, jumlah yang cukup besar bila dibandingkan dengan keberadaan 22 manuskrip Injil dalam bahasa Latin dan 10 buah manuskrip Injil dalam bahasa Yunani.

Di Indonesia, Gereja Ortodoks Suriah lebih dikenal sebagai Kristen Ortodoks Suriah (KOS), untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Bambang Noorsena, alumnus Fakultas Hukum Universitas Kristen Cipta Wacana Malang. Sebelumnya, selama 2 tahun (1995-1997), ia keliling ke Timur Tengah, antara lain ke Suriah, Mesir, Yordan, Libanon, Palestina, dan Israel untuk mempelajari pola-pola ajaran KOS. “Saya melacak jejak historis Gereja Anthiokia purba yang dikisahkan dalam Kitab Kisah Para Rasul,” katanya kepada Gatra. Pencariannya tidak sia-sia. Bambang menemukan ajaran Kristen Ortodoks yang berpusat di Anthiokia, Syria.

Selanjutnya, warga Malang, Jawa Timur, yang tercatat sebagai jemaat Kristen Jawi Wetan itu berguru khusus kepada Mar Ignatius Zaka al Awwal al Uwais yang berkedudukan sebagai Patriark Anthiokia dan seluruh wilayah Timur. Mar Ignatius dikenal juga sebagai Rais al Aliy (Pemimpin Tertinggi) Gereja Ortodoks Syria. “Selama belajar di sana saya menemukan kembali akar kekristenan semitik. Inilah penerus dan pewaris Kristen yang pertama,” kata Bambang. Dalam Kisah Para Rasul disebutkan, sepeninggal Isa, Rasul Petrus bertugas sebagai patriark yang pertama di Anthiokia. Selama tujuh tahun Rasul Petrus menjalani misi sucinya, sebelum bertugas ke Roma. “Sejak saat itu ajaran Kristen mengalami proses Helenisasi, diikuti dengan Westernisasi,” ujar Bambang Noorsena menjelaskan.

Yang mencengangkan, ibadah ritual dan istilah-istilah yg diperagakan Kristen Ortodoks Syria di Indonesia memiliki begitu banyak kesamaan dengan ibadah dan istilah-istilah dalam agama Islam. KOS menjalankan shalat tujuh waktu dalam sehari semalam yang juga menggunakan bahasa Arab. Mereka juga melantunkan Kitab Injil bahasa Arab sebagaimana umat Islam mengaji Al-Quran.

Bambang Noorsena dalam makalahnya pada “Syiar Injiliyah” di Hotel Surabaya, 19 Juni 1998 menyampaikan nahwa shalat dalam Kristen sebenarnya mengikuti shalat yang berlaku dalam agama Yahudi, yaitu tiga kali: petang, pagi, dan tengah hari. Namun, seperti dimuat Talmud, setelah penghancuran Baitul Maqdis dan eksodus ke Babilonia, ditetapkan satu waktu shalat lagi, yaitu jam kesembilan, yang disebut minhah. “Menurut hitungan waktu Yahudi, kira-kira pukul tiga petang, sejajar dengan waktu asar dalam Islam,” kata Noorseno. Seiring dengan berjalannya waktu, shalat dalam Kristen berkembang menjadi tujuh waktu.
Shalat-shalat tersebut adalah shalat sa’atul awwal yang dalam istilah gereja Latin disebut laudes (shalat subuh), shalat sa’atut tsalis atau hora tertia ( shalat duha, sekitar pukul 09.00 pagi), shalat sa’atus sadis atau hora sexta (setara dengan waktu duhur), shalat satut tis’ah atau minah atau hora nona (yang setara dengan asar), shalat sa’atul ghurub atau verper (shalat magrib), shalat nawm, atau virgi/ (sama dengan shalat isya), dan shalat layl atau shalat satar atau copletorium (shalat tengah malam yang dalam Islam dikenal dengan nama tahajud).

Setiap shalat yang mereka lakukan terdiri dari tiga raka’at (satuan gerakan). Pada raka’at pertama hanya dilakukan “qiyam” (berdiri). Pada rakaat kedua dilakukan rukuk, dan sujud. Pada saat rukuk dan sujud ini dilakukan gerakan tanda salib dan membaca doa yang dilafalkan dalam bahasa Arab, Aram, Yunani, dan Ibrani. Lalu membaca pujian (qari’ah) yang dikutip dari kitab Mazmur. Pada rakaat ketiga dilakukan pembacaan kanun al imam, semacam syahadat, pengakuan kepada Tuhan yang dikenal dalam Cereja Ortodoks.
Tak hanya itu, sebelum mendirikan shalat juga ada panggilan untuk shalat sebagaimana azan dalam agama Islam. Dalam panggilan shalat ini dikumandangkan kalimat yang sangat mirip dalam azan Islam a.l. seruan “hayya alashalah (marilah kita shalat)” dan hayya alassalah bisalam (marilah kita shalat dengan damai).

Ketika shalat, mereka menghadap ke timur, mengikuti tradisi Yesus yang kala itu menghadapkan kiblat shalatnya ke Baitul Maqdis, Jerusalem. “Namun, karena Jerusalem hancur, orang-orang Kristen menjadikan tubuh Jesus sendiri sebagai kiblat. Hanya karena tubuh Jesus kini di surga (istiwa all yaminillah), sesuai dengan Ayat Kejadian: 28, yang menyatakan surga di timur maka shalat mereka menghadap ke timur”.

Tak berhenti sampai disitu, KOS juga mengklaim melaksanakan ibadah haji, bukan ke Mekkah melainkan ke Palestina. Berdasarkan Kitab Ulangan 16: 16-17 disebutkan hag atau haji dilakukan ke tanah suci Palestina menjelang Pekan Kudus (perayaan Paskah) tiga kali dalam setahun. Sepulang menunaikan ibadah haji, setiap orang Kristen Ortodoks mendapat sertifikat dari Patliauk Jerusalem dengan sebutan hadzi (untuk pria) dan hadzina (untuk wanita). Ibadah haji, shalat, zakat persepuluhan, serta puasa, dikategorikan sebagai ibadah non-sakramen.

Secara keseluruhan, ajaran KOS (Kristen Ortodoks Suriah) yang menyerupai ritual Islam antara lain:

  1. KOS berpuasa selama 40 hari yang disebut shaumil kabir yang mirip puasa ramadhan
  2. KOS memiliki puasa sunnah pada hari Rabu dan Jum’at yang mirip dengan Puasa Sunnah senin dan kamis.
  3. KOS mewajibkan kepada jama’ahnya berzakat 10% dari penghasilan kotor (bruto).
  4. Kalangan perempuan KOS juga diwajibkan untuk mengenakan jilbab dan jubbah yang menutup aurat hingga mata kaki.
  5. Pengajian KOS juga sering menggunakan tikar/karpet (lesehan), layaknya umat Islam yang sering mengadakan pengajian dengan hal semisal.
  6. Mengadakan acara Musabaqoh Tilawatil Injil dengan menggunakan Al-kitab yang berbahasa Arab (Al-kitab Al-Muqaddas).
  7. Mengadakan acara rawi dan shalawatan ala KOS mirip seperti apa yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin.
  8. Mengadakan acara Nasyid, bahkan sekarang sudah ada Nasyid “Amin al-barokah“ dan Qasidah Kristen (dengan lirik yang mengandung ajaran Kristen dengan bahasa Arab).

Jamaah KOS Indonesia juga biasa menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Arab (seperti ana, antum, syukron, dan sebagainya) serta memiliki metodologi dakwah yang menyerupai ajaran Islam.

Bagaimanapun, KOS tetaplah Kristen. Kitab suci mereka tetap Alkitab, dan mereka juga tetap mengimani dan menuhankan Yesus dalam Trinitas Allah Bapa, Tuhan Anak dan Roh Kudus. KOS tidak memakai 12 syahadat Iman Rasuli umat Kristen dan sebagai gantinya mereka memakai ”Qanun al-Iman al-Muqaddas”. Demikian secara selintas tentang Kristen Ortodoks Suriah yang semakin intens mengembangkan ajarannya ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk kepada umat Islam, di berbagai wilayah di Indonesia.

Disunting dari berbagai sumber:

https://id.wikipedia.org/wiki/Gereja_Ortodoks_Suriah

http://www.oocities.org/injusticedpeople/IhwalMegaProyekKristenisasi.htm

https://www.islampos.com/kristen-ortodok-syria-sekilas-sama-tapi-bukan-islam-80040/

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.