Muslim di Amerika Serikat, terutama di negara bagian Oregan telah berjuang untuk menentang sebuah draft undang-undang mengenai pelarangan pemakaian pakaian keagamaan oleh guru termasuk jilbab di lingkungan sekolah umum.

“Aturan ini menekan umat Islam, Yahudi, Sikh dan agama lain untuk memilih antara keyakinan mereka dan pekerjaan mengajar mereka,” demikian kata Ibrahim Hooper kepala hubungan masyarakat Council on American-Islamic Relations (CAIR) dalam sebuah rilis pres.

Parlemen negara bagian Oregon telah menyetujui aturan pelarangan pakaian keagamaan termasuk jilbab dan tinggal menunggu tanda tangan Gubernur negara bagian Oregon untuk menjadi undang-undang.

“Jilbab, mengapa? Jilbab:Selalu Urusan wanita? Mengenakan jilbab tidak melulu mengajak orang untuk berpindah keyakinan, ini merupakan aktualisasi keyakinan,” tandasnya.

“Mengerjakan suatu ajaran agama adalah sebuah hak yang dijamin oleh undang-undang.”

Sebelumnya di awal bulan ini, walikota New York Mayor Michael Bloomberg tidak memberikan ijin bagi pelajar muslim saat perayaan Idul fitri dan Idul Adha untuk tidak masuk sekolah.

CAIR, kelompok advokasi Muslim terbesar di Amerika Serikat juga menghadapi peraturan pelarangan jilbab di tempat kerja dan juga telah membantu penolakan proposal tentang pelarangan jilbab dalam pengambilan gambar SIM di negara bagian Oklahoma dan Minessota.

Jilbab telah menjadi perhatian dunia sejak Prancis mengeluarkan peraturan pelarangan jilbab di sekolah umum tahun 2004. Sejak itu, beberapa negara Eropa mengikuti larangan serupa, sebagai wujud sikap phobia terhadap aturan Islam.
(muslimdaily.net/iol)