Agama Langit dan Agama Bumi: Sebuah Dikotomi
oleh I Made Yanuarta
21 March 2009

Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang
teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling
bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti
agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama
pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen,
maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya ; ” Hindu View of
Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian
(Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan
Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik
dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik
sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam
secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama
itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga
Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha,
Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen,
dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll) Penggolongan ini paling disukai
oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna
tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang
lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara
singkat di bawah ini.

Agama bumi dan agama langit.
Dr. H.M . Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuli y ah Agama Islam
Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu
agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya,
agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan
Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun
Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai
berikut:

“Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama
Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi
jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya
sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan
terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh
penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan
sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu
itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik
yang ironis saja diberi nama agama.”

Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan
(yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang
termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab
Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan
jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal
ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam,
tetapi juga seorang Muslim yang saleh. Bahkan dengan doktrin mansukh,
pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu
terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan
Injil).

Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan
sama, pendangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul
pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis
thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya,
melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu
disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama.
Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan
karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan
berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh
Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi
yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa
hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan
satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah
adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of
God).

Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang
Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan
pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam,
tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain,
seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi
berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka
yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat
karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam,
Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi
sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh
yang paling dibencinya.

Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat
lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah
Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan
malaikat dan jinnya.

Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan
masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh
agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang
menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja.
Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari
Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana
kedudukan bagian-bagian Perjanjian L ama dan P erjanjian B aru yang terdapat di
dalam A l-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh
Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan?
Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis
kitab-kitab terdahulu?

Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang
Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan
dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang
lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi,
seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang
dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala
urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan
tenggelamnya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini
benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya
yang bermukim nun jauh di langit.

Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi
ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut
pandangan Hindu, Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga
dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit
ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena
itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama
Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi
mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan
ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah.
Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa
agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama
langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih
benar, dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya
kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di
luar mereka adalah palsu dan sesat.

Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa
agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang
sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat
manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan,
perang, penaklukan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

Masalah Wahyu.
Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat
manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses
penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara
kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat
menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab
suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan
wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena
Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna
bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab
suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta
yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa.
Berikut adalah beberapa contoh.

Pertama, kesalahan mengenai fakta
Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar,
dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan
memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola.
Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang,
karena gempa.

Kedua, kontradiksi- kontradiksi
Banyak terdapat kontradiksi – kontradiksi intra maupun antar kitab suci –
kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan
sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan
yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang
sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak
Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir.

Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan
Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir
yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa
Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita –
berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis
oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam
hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia,
atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh , dll “.

Mengapa Tuhan menunjukkan diri-Nya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata –
kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha
Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan
memuji-muji dirinya sendiri.

Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat
ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan
maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang
Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran
kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Qur’an terdapat ayat – ayat
kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama – agama lain
yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan
menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara
berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara
spiritual. Bukankah akhirnya ajaran – ajaran kebencian ini menjadi sumber
kekerasan sepanjang massa?

Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang
menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu
kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya
(demon, devil, atau syaitan).

Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak
meminjam dogma dari agama – agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut
penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti
hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama
Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan
Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan
Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin Tuhan agama langit
meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia.

Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan
pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al
Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada
kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci
ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan,
ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan
membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan
mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan. ”

Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik
terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak
berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

Kesimpulan.
Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan
agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena – mena
untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini
sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan
Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi
upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan
memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau
bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung
kitab suci – kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai –
nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja,
kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan.

Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas
menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap
kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya
sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak peoggolongan ini
menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian
bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

Melihat berbagai cacat dari kitab suc i- kitab suci mereka, khususnya
ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak
datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-
Tuhan mereka adalah buatan manusia.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit
dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana
keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih
netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

Catatan kaki:
I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi”
penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal
53
2). Lihat Kare n Amstrong : A History of God
3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
4). Ibid hal 720.

(Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 35, Januari 2007)

Baca artikel terkait : AGAMA ABRAHAMIK