Dua belas Imam (Bahasa Arab: اثنا عشرية – Ithnāˤashariyya) adalah cabang dari ajaran Syiah yang memiliki pengikut terbanyak. Mereka yang mengikuti ajaran yang disebut sebagai Syiah Imamiyah ini mempercayai bahwa mereka mempunyai 12 orang pemimpin, yang pemimpin pertamanya adalah Imam Ali ra. dan pemimpin terakhir mereka adalah Imam Mahdi Al-Muntazhar (Imam Mahdi yang ditunggu), seorang Imam yang muncul pada tahun 868 dan kemudian menghilang. Para pengikut Itsna Asyariyyah yakin bahwa Imam Mahdi akan kembali untuk menghadapi dajjal dan akan membangun pemerintahan Islam.

//

Keyakinan Itsna Asyariyyah

Syariah dalam Itsna Asyariyyah

Para pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah mendasarkan hukum mereka (Syariah) pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Perbedaan antara hukum syariah Sunni dan Syiah terletak pada keyakinan bahwa Nabi Muhammad memberikan Ali ra. sebagai pemimpin pertama setelah Nabi Muhammad saw. Lebih lanjut, menurut pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah, bahwa Imam atau pemimpin umat tidaklah dapat dipilih secara demokrasi (pemilu). Imam adalah jabatan langsung dari Allah swt. Sedangkan pengikut Sunni percaya bahwa pemimpin umat dipilih dengan pemilu dan yang memiliki suara terbanyaklah yang menjadi pemimpin (khalifah). Perbedaan inilah yang membuat Syi’ah dan Sunni menjadi terpecah. Berikut ini adalah perbedaan lain dalam masalah Syari’ah antara Syi’ah dan Sunni:

  1. Mengambil hadits dari Nabi Muhammad saw. dan para Ahlul Bait[1].
  2. Tidak mengambil hadits dan contoh yang diriwayatkan oleh Abu Bakar, Umar dan Usman (Mereka bertiga adalah khulafaur rasyidin sebelum Ali ra.)
  3. Memberikan status ma’shum (bebas dari kesalahan) kepada para Imam dan mengikuti contoh dan ajaran mereka.

Doktrin utama

Dalam ajaran Syi’ah aliran Itsna Asyariyyah, terdapat 5 rukun islam, sama seperti Sunni, tapi mereka memiliki 5 rukun iman[2]. Berikut ini adalah keyakinan-keyakinan para pengikut Itsna Asyariyyah dalam dua hal yaitu Ushuluddin (prinsip keyakinan) dan Furu’ ad-Din (prinsip keagamaan) :

Prinsip keimanan Itsna Asyariyyah

Seorang mullah sedang berada di sebuah Imamzadeh di Tabriz, Iran

Aliran Itsna Asyariyyah tidak membolehkan taklid (keyakinan yang buta), tapi setiap mereka yang sudah mukallaf harus mengetahui keyakinan yang sudah ditentukan:

  • Masalah ketauhidan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah-lah pencipta, menciptakan Adam langsung dengan tangan-Nya, kemudian menghidupkannya, memberinya rizki dan mematikannya. Juga memberi manusia sakit dan ujian, semua atas kekuasaan-Nya (QS Yasin:82). Mereka juga percaya bahwa Allah Maha Kuasa, Allah Maha Esa, Allah tidak terlihat dan tidak tergambar secara lahiriah oleh manusia. Secara tauhid, mereka sama dengan umat Islam pada umumnya.[3] [4]
  • Masalah keadilan: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Allah tidak menganiaya satupun dari hamba-Nya, dan setiap hamba-Nya diberikan rizki sesuai yang dibutuhkannya.
  • Masalah kenabian: Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa rasul terakhir umat Islam adalah Rasulullah Muhammad saw. dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad saw. adalah wajib, seperti yang tercantum di Al-Qur’an (QS Ali ‘Imran:85)
  • Masalah imamah: Pengikut Syi’ah aliran Itsna Asyariyyah (Syiah Imamiyah) mempercayai bahwa ada sistem kepemimpinan yang disebut imamah yang berasal dari Nabi Muhammad. Imam sendiri bertugas untuk memimpin umat Islam dengan petunjuk dari Allah swt. Dan dalam prinsip ajaran Syi’ah disebutkan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan membiarkan umat Islam tanpa pemimpin. Mereka mempercayai bahwa Imam ma’shum (bebas dari dosa) dan jabatan Imam adalah langsung dari ilham yang didatangkan oleh Allah. Setiap Imam akan berwasiat kepada Imam selanjutnya.
  • Masalah ganjaran: Bahwa Allah menghidupkan manusia untuk beramal. Mereka yang beramal baik akan diberikan ganjaran untuk masuk ke surga selamanya, sedangkan yang beramal buruk akan dimasukkan ke neraka selamanya.

Prinsip keagamaan Itsna Asyariyyah

Dalam masalah aspek keagamaan, kemungkinan para pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah melakukan taklid.

  • Dalam ibadah sholat, bahwa para pengikut Itsna Asyariyyah sebagai seorang muslim wajib untuk melaksanakan sholat lima kali sehari yang terdiri dari Subuh, Zuhur, Asar, Magrib dan Isya. Mereka juga mempercayai bahwa ada sholat yang dinamakan sholat lail (sholat malam) yang dilakukan pada sepertiga terakhir malam yang jumlahnya 8 rokaat.
  • Dalam masalah zakat, para pengikut Itsna Asyariyyah mempercayai bahwa zakat itu merupakan bagian dari rukun Islam dan wajib untuk dilaksanakan.
  • Dalam ibadah puasa, para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa puasa adalah menahan lapar dan haus dan hal-hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga malam hari. Dalam hal ini, Syi’ah memperdebatkan masalah waktu buka puasa yang seharusnya dilakukan setelah petang hari, atau tepatnya saat mulai masuk malam hari, dimana langit merah sudah tidak terlihat lagi. Syi’ah berbuka puasa kira-kira setelah Sunni berbuka puasa, dan jarak antara waktu buka puasa Syi’ah dan Sunni sekitar 10-15 menit. Para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa puasa fardu yang dilakukan oleh umat Islam adalah puasa ramadhan, puasa nazar dan puasa kafarat. Sedangkan puasa sunnah juga ada didalamnya, contoh puasa tanggal 9 Dzulhijjah dan puasa saat Hari Raya Ghadir Khum.
  • Dalam ibadah haji, para pengikut Itsna Asyariyyah meyakini bahwa setiap muslim yang sudah baligh, berakal dan mampu sanggup dan wajib berhaji ataupun berumroh ke Ka’bah di Mekkah.
  • Dalam masalah harta rampasan perang, para pengikut Itsna Asyariyyah harus memberikan seperlima dari harta rampasan perang kepada enam golongan yaitu untuk Allah, Nabi Muhammad, keluarga Ahlul Bait, orang yatim, orang miskin dan mereka yang sedang dalam perjalanan fisabilillah.
  • Para pengikut Itsna Asyariyyah terkenal dengan keyakinan mereka tentang taqiyah. Taqiyah sendiri layaknya dispensasi dimana seseorang harus menyembunyikan imannya ketika mereka dipaksa untuk masuk agama lain dalam keadaan diancam keselamatan jiwanya, tapi mereka tetap beragama Islam dan mengimaninya di hati, tanpa harus terlihat secara fisik.
  • Para pengikut Itsna Asyariyyah juga wajib untuk menyebarkan hal yang baik dan mencegah hal yang buruk. Selain itu, mereka juga wajib mencintai para Ahlul Bait dan pengikutnya, hal ini disebut Tawalla.

Konsep Imam

Perayaan memperingati syahidnya Imam Husein ra. di Masjid Karbala

Imam Duabelas dalam Syi’ah Itsna Asyariyyah adalah penerus kepemimpinan Nabi Muhammad, baik dalam hal duniawi maupun samawi[5]. Menurut keyakinan Itsna Asyariyyah, para Imam penerus Nabi Muhammad ini adalah manusia yang ma’shum. Mereka bertugas tidak hanya memimpin umat mereka dengan keadilan, juga mereka menjaga dan menerjemahkan maksud dari Syariah dan makna tersembunyi dari al-Qur’an. Perkataan dan tindakan para Imam adalah petunjuk bagi umatnya, maka mereka haruslah ma’shum, bebas dari dosa dan mereka harus dipilih lewat nash, yaitu dengan persetujuan Allah swt[6][7] .

Dalam ajaran Syi’ah dipercayai bahwa Aql adalah petunjuk dari Allah swt. yang diberikan kepada Nabi-nabi termasuk kepada Imam untuk menafsirkan al-Qur’an dan memberi mereka Hikmah[8][9][5]. Walaupun para Imam tidak menerima wahyu dari Allah, mereka mempunyai hubungan yang dekat dengan Allah swt. Allah swt membimbing para Imam, lalu Imam membimbing para pengikutnya. Menurut para pengikut ajaran Itsna Asyariyyah, mereka mempercayai bahwa ada Imam pada setiap zaman, yang dipilih oleh Allah swt. dan para Imam memegang kendali atas umat Islam dalam hal keimanan dan hukum. Ali ra. adalah imam pertama dari Imam Duabelas, dan seterusnya ke bawah, adalah keturunan laki-laki dari Nabi Muhammad lewat pernikahan antara Ali ra. dengan Fatimah az-Zahra. Setiap imam memiliki anak yang kemudian menjadi Imam, kecuali Imam Husein yang merupakan saudara kandung dari Imam Hasan. Imam yang keduabelas dan terakhir dari Imam Duabelas adalah Imam Mahdi al-Muntazhar yang diyakini masih hidup dan sedang bersembunyi.

Daftar Imam

Nomor Nama
(Panjang/Panggilan)
Gelar
(Bahasa Arab/Bahasa Turki)[10]
Lahir–Wafat
(M/H)
Kepetingan Tempat lahir Tempat wafat dan makam
1 Ali bin Abi Thalib
علي بن أبي طالب


Abu al-Hassan
أبو الحسن
Amir al-Mu’minin
(Pemimpin orang beriman)[11]


Birinci Ali[12]
600–661[11]


23–40[13]
Imam pertama dan pengganti yang berhak atas kekuasaan Nabi Muhammad saw. Bagaimanapun, para pengikut Sunni menganggap Ali ra. sebagai khalifah ke-empat dalam Khulafaur Rasyidin. Ali ra. menempati posisi tertinggi hampir di semua tarekat Sufi.[11] Makkah, Arab Saudi[11] Dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang Khawarij di Kufah, Irak. Imam Ali ra. ditusuk dengan pisau beracun.[11][14] Dimakamkan di Masjid Imam Ali, Najaf, Irak
2 Hasan bin Ali
الحسن بن علي


Abu Muhammad
أبو محمد
al-Mujtaba


Ikinci Ali[12]
624–680[15]


3–50[16]
Hasan bin Ali adalah cucu tertua Nabi Muhammad lewat Fatimah az-Zahra. Hasan menggantikan kekuasaan ayahnya sebagai khalifah di Kufah. Berdasarkan perjanjian dengan Muawiyah I, Hasan kemudian melepaskan kekuasaannya atas Irak.[17] Madinah, Arab Saudi[15] Diracuni oleh istrinya di Madinah, Arab Saudi atas perintah dari Muawiyah I.[18] Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
3 Husain bin Ali
الحسین بن علي


Abu Abdillah
أبو عبدالله
Sayyid al-Shuhada


Ūçüncü Ali[12]
626–680[19]


4–61[20]
Husain adalah cucu dari Nabi Muhammad saw. yang dibunuh ketika dalam perjalanan ke Kufah di Karbala. Husain dibunuh karena menentang Yazid bin Muawiyah. Insiden terbunuhnya Husain di Karbala sampai sekarang menjadi ritual utama dalam Syi’ah.[19][21] Madinah, Arab Saudi[19] Dibunuh dan dipenggal kepalanya di Karbala.[19] Dimakamkan di Makam Imam Husain di Karbala, Irak
4 Ali bin Husain
علي بن الحسین


Abu Muhammad
أبو محمد
as-Sajjad, Zainul Abidin[22]


Dorduncu Ali[12]
658-9[22] – 712[23]


38[22]–95[23]
Pengarang buku Shahifah as-Sajadiyyah yang merupakan buku penting dalam ajaran Syi’ah [23] Madinah, Arab Saudi[22] Menurut kebanyakan ilmuwan Syi’ah, Ali bin Husain diyakini wafat karena diracuni oleh orang suruhan Khalifah al-Walid di Madinah, Arab Saudi[23] Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
5 Muhammad al-Baqir
محمد بن علي


Abu Ja’far
أبو جعفر
al-Baqirul Ulum
(dia yang membagikan ilmu) [24]


Besinci Ali[12]
677–732[24]


57–114[24]
Sumber dari Sunni dan Syi’ah menyebutkan bahwa Muhammad al-Baqir adalah salah satu pakar fiqih yang memiliki banyak murid pada zamannya.[24][25] Madinah, Arab Saudi[24] Menurut sejumlah ilmuwan Syi’ah, diyakini bahwa Muhammad al-Baqir diracuni oleh Ibrahim bin Walid di Madinah, Arab Saudi, atas perintah Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.[23]. Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
6 Ja’far ash-Shadiq
جعفر بن محمد


Abu Abdillah
أبو عبدالله
ash-Shadiq[26]
(dia yang jujur)


Altinci Ali[12]
702–765[26]


83–148 [26]
Beliau mendirikan ajaran Ja’fariyyah dan mengembangkan ajaran Syi’ah. Ia mengajari banyak murid dalam berbagai bidang, diantaranya Imam Abu Hanifah dalam fiqih, dan Jabar Ibnu Hayyan dalam alkimia[26][27][28] Madinah, Arab Saudi[26] Menurut sumber-sumber Syi’ah, beliau diracuni atas perintah Khalifah al-Mansur di Madinah, Arab Saudi[26]. Dimakamkan di Pemakaman Baqi.
7 Musa al-Kadzim
موسی بن جعفر


Abu al-Hassan I
أبو الحسن الاول [29]
al-Kadzim[30]


Yedinci Ali[12]
744–799[30]


128–183[30]
Pemimpin umat Islam Syi’ah pada saat terjadi perpecahan antara pengikut Ismailiyyah dan pengikut lainnya setelah kematian Ja’far ash-Shadiq[31] Beliau membuat sistem pengumpulan ghanimah di daerah Timur Tengah dan Khurasan[32] Madinah, Arab Saudi[30] Dipenjara dan diracuni oleh Harun ar-Rashid di Baghdad, Irak. Dimakamkan di Baghdad, Irak.[30]
8 Ali ar-Ridha
علي بن موسی


Abu al-Hassan II
أبو الحسن الثانی[29]
al-Ridha, Reza[33]


Sekizinci Ali[12]
765–817[33]


148–203[33]
Sebagai putra mahkota oleh Khalifah al-Ma’mun, dan mempelopori diskusi antar-agama.[33] Madinah, Arab Saudi[33] Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni oleh Khalifah al-Ma’mun di Mashhad, Iran. Dimakamkan di Makam Imam Reza, Mashhad, Iran[33]
9 Muhammad al-Jawad
محمد بن علي


Abu Ja’far
أبو جعفر
al-Taqi, al-Jawwad[34]


Dokuzuncu Ali[12]
810–835[34]


195–220[34]
Dikenal dengan kebaikannya terhadap mereka yang teraniaya pada masa Kekhalifahan Abbasiyah. Madinah, Arab Saudi[34] Diracuni oleh istrinya, anak dari al-Ma’mun di Baghdad, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tashim. Dimakamkan di Makam Kazmain di Baghdad.[34]
10 Ali al-Hadi
علي بن محمد


Abu al-Hassan III
أبو الحسن الثالث[35]
al-Hadi, al-Naqi[35]


Onuncu Ali[12]
827–868[35]


212–254[35]
Menguatkan jaringan Wali di komunitas Syi’ah. Ali al-Hadi memberikan mereka instruksi, diantaranya untuk membimbing umat dalam beragama dan mengumpulkan seperlima harta ghanimah.[35] Surayya, sebuah desa dekat Madinah, Arab Saudi[35] Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di Samarra atas perintah Khalifah al-Mu’tazz.[36] Dimakamkan di Masjid Al-Askari di Samarra, Irak.
11 Hasan al-Asykari
الحسن بن علي


Abu Muhammad
أبو محمد
al-Asykari[37]


Onbirinci Ali[12]
846–874[37]


232–260[37]
Pada masanya, umat Syi’ah ditekan dan dibatasi luar biasa oleh Kekhalifahan Abbasiyah dibawah tangan al-Mu’tamid[38] Madinah, Arab Saudi[37] Menurut sumber Syi’ah, beliau diracuni di Samarra, Irak atas perintah Khalifah al-Mu’tamid. Ia dimakamkan di Masjid Al-Askari, Samarra[39]
12 Mahdi
محمد بن الحسن


Abu al-Qasim
أبو القاسم
al-Mahdi, Imam Tersembunyi, al-Hujjah [40]


Onikinci Ali[12]
868–tidak diketahui[41]


255–tidak diketahui[41]
Menurut doktrin Itsna Asyariyyah, beliau adalah imam saat ini dan dialah Imam Mahdi yang dijanjikan.[42] Samarra, Irak[41] Menurut keyakinan Syi’ah, beliau sekarang berada di dalam persembunyian dan akan muncul selama Allah mengizinkannya.[41]

Beberapa orang melihat bahwa Imam dalam Syi’ah memiliki tempat yang sejajar dengan nabi. Tapi, dalam aspek keyakinan kaum Syi’ah Itsna Asyariyyah, para Imam bukanlah nabi atau rasul. Para Imam hanyalah membawakan pesan Nabi Muhammad saw. Syi’ah Itsna Asyariyyah tidak menganggap Imam lebih berkuasa daripada nabi. Kebanyakan muslim salah melihat Syi’ah dalam hal tersebut. Bahkan, di ajaran Syi’ah, jika ada seseorang yang menganggap adanya nabi atau rasul setelah Nabi Muhammad saw. akan langsung diberi status bid’ah atau kafir.

Peran Imam Mahdi

Pada hari akhir, kaum Syi’ah Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Imam al-Mahdi, Imam terakhir dari Imam Duabelas, akan menyelamatkan umat manusia dari kelaliman dan akan membangun suatu pemerintahan Islam. Kaum Itsna Asyariyyah meyakini bahwa Imam Mahdi disembunyikan oleh Allah swt. dan kemudian akan keluar untuk memberantas kelaliman dan menegakkan kebenaran dan keadilan bersama Nabi Isa as. sebelum tibanya Hari Akhir.

Syi’ah aliran lain, seperti Zaidiyyah, Ismailiyyah atau Bahraiyyah, berbeda dalam hal pergantian Imam dan nama-namanya, juga tidak menganggap bahwa Imam ke-12 (Muhammad bin Hasan) adalah Imam al-Mahdi.

Hadits dalam Itsna Asyariyyah

  • Hadits dalam Syi’ah: dimana hadits adalah perkataan dan tindakan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam). Hadits ini akan diteliti dengan shahih atau dengan interview dengan sang perawi. Hadits ini akan melewati banyak perawi yang diantaranya adalah sahabat dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) dan sampai akhirnya akan tiba di al-Ma’shum tersebut (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam)[43] .
  • Ilmu dariyah dalam Itsna Asyariyyah: yaitu ilmu untuk mencari gejala hadits dalam kondisi darurat dalam hal bagaimana matan dan sanad menyampaikan hadits[44].
  • Hadits dalam satu jalur: karena hadits merupakan hasil adaptasi untuk mempertahankan dan menyampaikan sebuah cerita atau perkataan dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam), maka ada satu orang yang akan menyampaikan banyak hadist dalam satu jalur dan kemudian akan diteruskan ke setiap orang, seperti yang telah ditulis dan diikuti dalam ilmu Ushul Fiqih, bahwa kebenaran hadist dari al-Ma’shum (Nabi Muhammad, ahlul bait dan Imam) belum tentu benar adanya jika disampaikan dalam banyak jalur.
  • Ilmu rijal : Ilmu yang ditujukan untuk menguji ilmu dan keadaan para perawi saat menyampaikan hadits untuk mengetahui dan mengidentifikasi sebuah hadits sebagai shahih atau tidak shahih.[45]
  • Sifat perawi yang riwayatnya dan kualifikasinya diterima:
  1. Beragama Islam: Tidak akan diterima riwayat hadits dari perawi kafir, sebelum sang perawi kafir tersebut mengucapkan syahadat secara sungguh-sungguh.
  2. Mempunyai akal yang logis (tidak gila): Tidak diterima hadits yang disampaikan oleh orang gila
  3. Baligh (cukup umur untuk menyampaikan hadits): Tidak diterima hadits dari seorang anak kecil sebelum dia mumayyiz (dewasa)
  4. Beriman
  5. Adil: Sang perawi harus bisa mempertahankan haditsnya dalam kebenaran dan tidak berlebihan dalam meriwayatkan hadits.

Di dalam Syi’ah, ada 4 kitab hadits, yang terdiri dari:

Penulis Kitab Tahun lahir dan wafat Jumlah hadits Keterangan
Al-Kafi Hadits-hadits dalam kitab dikumpulkan oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini ar-Razi. Ia adalah cendekiawan Islam yang sangat menguasai ilmu hadits. Wafat tahun 329 Hijriah Terdapat sekitar 16000 hadits yang berada dalam kitab al-Kafi, dan merupakan jumlah terbanyak yang berhasil dikumpulkan. Kitab Syi’ah yang terbaik
Man la yahdarul fiqh
Untuk orang yang tidak memperhatikan fiqih
Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husein Lahir tahun 305 Hijriah dan wafat tahun 381 Hijriah Terdapat sekitar 6000 hadits tentang Syariah
Tazhibul Ahkam Ditulis oleh Syaikh Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terdapat sekitar 13590 Hadits dalam kitab ini.
Al-Istibshar fima Ikhtilaf minal Akhbar Ditulis oleh Syakih Abu Ja’far Muhammad bin Hasan al-Tusi Lahir di Khurasan tahun 385 Hijriah, dan wafat pada tahun 460 Hijriah Terkumpul sekitar 5511 hadits dalam kitab ini.
Al-Majmu’ Al-Kulani, al-Qami dan at-Tusi Wafat pada tahun 329-381-460 Total hadits sekitar 41101 hadits (kompilasi dari empat buku tersebut diatas)

Tempat suci dan bersejarah Itsna Asyariyyah

Setiap muslim, baik Sunni maupun Syi’ah, memiliki tempat-tempat suci. Diantara tempat suci tersebut adalah tiga masjid suci yaitu Masjidil Haram di Mekkah, Masjid Nabawi di Madinah, dan Masjidil Aqsa di Jerussalem. Selain tiga tempat tersebut, Syi’ah juga memiliki beberapa tempat suci yang kebanyakan diantaranya adalah makam-makam para Imam. Berikut tempat-tempat suci Syi’ah:

Daerah penyebaran

Fokus daerah penyebaran ajaran Syi’ah aliran Itsna Asyariyyah berada di Iran, Irak, Azerbaijan, dan Bahrain. Daerah-daerah ini merupakan penyumbang terbesar pengikut ajaran Syi’ah Itsna Asyariyyah. Daerah lain yang juga terdapat banyak pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah berada di wilayah Teluk Persia dan di Lebanon. Pengikut Syi’ah juga terdapat di Arab Saudi, yang notabene penduduk Arab Saudi beraliran Sunni Wahabi. Pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah di Arab Saudi terpusat di beberapa kota seperti Qatif, Madinah dan di Al-Hasa’. Selain itu, pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah juga dapat ditemui di Muskat, Oman dan di negara-negara yang terdapat di Asia Selatan.

Jumlah pengikut

Lokasi kerajaan Safawi, sebuah kerajaan dengan mayoritas penduduk Islam Syi’ah

Menurut Ensiklopedia Britannica, terdapat 60-80 juta (40 juta diantaranya adalah pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah) pengikut Syi’ah di seluruh dunia. Sedangkan menurut Ensiklopedia Kristen Internasional, diyakini bahwa jumlah pengikut Syi’ah adalah 135 juta di seluruh dunia.

Berikut ini adalah detil dari jumlah pengikut Syi’ah berdasarkan negara asal, menurut 2008 World Factbook:

  • Flag of Iran.svg Iran dengan jumlah sebanyak 58 juta pengikut Syi’ah
  • Flag of Iraq.svg Irak dengan jumlah sebanyak 17-18 pengikut Syi’ah.
  • Flag of Afghanistan.svg Afganistan dengan jumlah sebanyak 6 juta pengikut Syi’ah.
  • Flag of Azerbaijan.svg Azerbaijan dengan jumlah sebanyak 5 juta pengikut Syi’ah.
  • Flag of Kuwait.svg Kuwait dengan jumlah sebanyak 400 ribu pengikut Syi’ah.
  • Flag of Bahrain.svg Bahrain dengan jumlah sebanyak 400 ribu pengikut Syi’ah.
  • Flag of Lebanon.svg Lebanon dengan jumlah sebanyak 1.2 juta pengikut Syi’ah.
  • Flag of Saudi Arabia.svg Arab Saudi dengan jumlah sebanyak 1.5 sampai 2 juta pengikut Syi’ah.
  • Flag of Pakistan.svg Pakistan dengan jumlah sebanyak 33 juta pengikut Syi’ah.
  • Flag of India.svg India dengan jumlah sebanyak 30 juta pengikut Syi’ah.
  • Flag of Tajikistan.svg Tajikistan dengan jumlah sebanyak 306 ribu pengikut Syi’ah
  • Flag of Turkmenistan.svg Turkmenistan dengan jumlah sebanyak 185 ribu pengikut Syi’ah.
  • Flag of Uzbekistan.svg Uzbekistan dengan jumlah sebanyak 1.4 juta pengikut Syi’ah.
  • Flag of Kyrgyzstan.svg Kirgiztan dengan jumlah sebanyak 117 ribu pengikut Syi’ah.
  • Flag of Kazakhstan.svg Kazakhstan dengan jumlah sebanyak 355 ribu pengikut Syi’ah.
  • Flag of Russia.svg Rusia dengan jumlah sebanyak 1.2 juta pengikut Syi’ah.

Berdasarkan jumlah diatas, dapat dihitung dan totalnya mencapai 158 juta pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah dan Syi’ah Isma’iliyyah di seluruh dunia. Dengan adanya pengikut Syi’ah Isma’iliyyah yang hanya berkisar 35 juta di seluruh dunia, maka didapatkan bahwa pengikut Syi’ah Itsna Asyariyyah di seluruh dunia berjumlah 123 juta pengikut. Perkiraan terakhir bahwa pengikut Syi’ah berjumlah 170 juta orang di seluruh dunia.[46]

[sunting] Referensi

  1. ^ Imam Muslim (translated by Aftab Shahryar) (2004). Sahih Muslim Abridged. Islamic Book Service. ISBN 81-7231-592-9.
  2. ^ http://www.albayyinat.net/jwb5ta.html
  3. ^ نهجنا في الحياة من المهم إلى الممات للميرزا حسن ال عصفور
  4. ^ عقائد الإمامية لمحمد جواد مغنية
  5. ^ a b Shi’ite“. Encyclopedia Britannica Online. (2007). Retrieved on 2007-11-06.
  6. ^ Nasr (1979), p.10
  7. ^ Momen (1985), p.174
  8. ^ Nasr (1979), p.15
  9. ^ Corbin (1993), pp.45-51
  10. ^ Gelar Imam dalam bahasa Arab digunakan karena bahasa Arab adalah bahasa liturgi dalam agama Islam Syi’ah sedangkan gelar dalam bahasa Turki berasal dari pengikut ajaran Alawiyyah Encyclopedia of the Modern Middle East and North Africa. (2004). Gale Group. ISBN 978-0-02-865769-1.
  11. ^ a b c d e Nasr, Seyyed HosseinAli“. Encyclopedia Britannica Online. Retrieved on 2007-10-12.
  12. ^ a b c d e f g h i j k l Encyclopedia of the Modern Middle East and North Africa. (2004). Gale Group. ISBN 978-0-02-865769-1.
  13. ^ Tabatabae (1979), pp.190-192
  14. ^ Tabatabae (1979), p.192
  15. ^ a b Hasan“. Encyclopedia Britannica Online. Retrieved on 2007-11-08.
  16. ^ Tabatabae (1979), pp.194-195
  17. ^ Madelung, WilferdHasan ibn Ali“. Encyclopedia Iranica. Retrieved on 2008-03-23.
  18. ^ Tabatabae (1979), p.195
  19. ^ a b c d al-Husayn“. Encyclopedia Britannica Online. Retrieved on 2007-11-08.
  20. ^ Tabatabae (1979), pp.196-199
  21. ^ Calmard, Jean “Husayn ibn Ali“. Encyclopedia Iranica. Retrieved on 2008-03-23.
  22. ^ a b c d Madelung, Wilferd‘ALÈ B. AL-HUOSAYN“. Encyclopedia Iranica. Retrieved on 2007-11-08.
  23. ^ a b c d e Tabatabae (1979), p.202
  24. ^ a b c d e Madelung, WilferdAL-BAQER, ABU JAFAR MOHAMMAD“. Encyclopedia Iranica. Retrieved on 2007-11-08.
  25. ^ Tabatabae (1979), p.203
  26. ^ a b c d e f Tabatabae (1979), p.203-204
  27. ^ Reseach Committee of Strasburg University, Imam Jafar Ibn Muhammad As-Sadiq A.S. The Great Muslim Scientist and Philosopher, translated by Kaukab Ali Mirza, 2000. Willowdale Ont. ISBN 0-9699490-1-4.
  28. ^ Wasil ibn Ata“. Encyclopedia Britannica Online. Retrieved on 2007-11-08.
  29. ^ a b Madelung, Wilferd‘ALÈ AL-HAÚDÈ“. Encyclopedia Iranica. Retrieved on 2007-11-09.
  30. ^ a b c d e Tabatabae (1979), p.205
  31. ^ Tabatabae (1979) p. 78
  32. ^ Sachedina (1988), pp.53-54
  33. ^ a b c d e f Tabatabae (1979), pp.205-207
  34. ^ a b c d e Tabatabae (1979), p. 207
  35. ^ a b c d e f Madelung, Wilferd‘ALÈ AL-HAÚDÈ“. Encyclopedia Iranica. Retrieved on 2007-11-08.

Sumber : Wikipedia

Baca Artikel Terkait:

MUKJIZAT NABI MUHAMMAD

AHLUL BAIT

SUNNI