AUCKLAND (voa-islam.com) – Suasana Natal di Gereja Auckland sedikit terganggu oleh reklame Yusuf dan Maria yang dilukiskan beradegan ranjang. Padahal, menurut Bibel kedua orang ini adalah orang tua Yesus.Seharusnya semua orang, apalagi pihak gereja, tahu bahwa reklame mesum ini benar-benar provokatif. Bayangkan, papan reklame yang dipajang di tempat umum itu menggambarkan Yusuf berbaring di tempat tidur bersama Maria. Keduanya –maaf – tidak mengenakan baju, tidur bersebelahan dalam satu selimut dengan menyandarkan kepala di atas bantal masing-masing. Raut muka Yusuf nampak sangat kesal seperti memendam kekecewaan, dengan pandangan kosong tertunduk ke bawah. Sementara Maria yang rambutnya sudah beruban, tidur di samping kirinya, membuang pandangan kosongnya ke atas. Di bawah lukisan itu terpampang kalimat: “Poor Joseph. God was a hard act to follow” (Malang benar nasib Yusuf. Tuhan telah berusaha keras untuk mengikutinya).

Ironinya, gereja Anglican St Matthew di Auckland terlalu berlebihan dalam memperkirakan toleransi jemaat Kristen setempat. Padahal kenyataannya bertolak belakang dari perkiraannya. Jemaat naik pitam dan langsung merusak reklame itu selang beberapa jam setelah reklame dipasang.

..Jemaat naik pitam dan langsung merusak reklame itu selang beberapa jam setelah reklame dipasang…

Archdeacon Glynn Cardy, pastor gereja Anglican St Matthew Auckland, menjelaskan, reklame dimaksudkan agar orang berpikir lebih tentang makna Natal.

“Kami sedang berusaha membuat orang untuk berpikir lebih tentang makna Natal,” katanya kepada New Zealand Press Association. “Apakah itu tentang seorang tuhan laki-laki yang menurunkan sperma sehingga seorang anak akan lahir, atau apakah itu tentang kekuatan cinta di tengah-tengah kita, seperti yang terlihat dalam Yesus?”

St Matius menyebut dirinya gereja Kristen progresif, dan Mr Cardy mengatakan papan reklame tersebut merupakan cercaan dalam bentuk lukisan terhadap penafsiran harfiah tentang konsepsi Yesus. Namun, orang-orang Kristen lokal tidak senang. Akibatnya, website gereja dibanjiri komentar kritis, dan sore kemarin gaya lukisan yang menggambarkan Joseph tertunduk dan Maria yang merana menatap ke atas telah dipulas dengan cat coklat, menutupi wajah.

Bob McCoskrie, Direktur National Family First Group yang memperjuangkan nilai-nilai tradisional, mengatakan setiap perdebatan tentang kelahiran Perawan Maria harus terbatas di dalam gereja. “Untuk menghadapi anak-anak dan keluarga dengan konsep papan reklame di jalan benar-benar tidak bertanggung jawab dan tidak perlu,” katanya.

Seturut itu, Lindsay Freer, juru bicara keuskupan Katolik Auckland, mengatakan di Radio Nasional Selandia Baru bahwa gambar Yusuf dan Maria bersama di tempat tidur sangat tidak pantas, tidak sopan dan menyinggung orang Kristen. Ia menuding reklame itu didalangi oleh kelompok antikristen untuk mengolok-olok Natal atau kelahiran Kristus. Namun Cardy mengakui bahwa respon jemaat yang disampaikan melalui telepon dan email ke gereja tidak seluruhnya menentang reklame tersebut. Hanya satu orang yang mengancam akan merobek papan reklame, sedangkan yang lainnya menyukai poster mesum tersebut.

..Sekitar 50 persen mengatakan mereka menyukai reklame tersebut, dan sekitar 50 persen mengatakan bahwa itu sangat ofensif…

“Sekitar 50 persen mengatakan mereka menyukai reklame tersebut, dan sekitar 50 persen mengatakan bahwa itu sangat ofensif.”

Selandia Baru adalah salah satu dunia yang masyarakatnya paling sekuler. Menurut data sensus terakhir tahun 2006, hampir sepertiga penduduknya tidak memiliki agama. [aa/ independent]