Umat Kristen Indonesia dan Malaysia sibuk berpolemik mencari identitas teologi, siapa sejatinya nama Tuhan mereka? Inilah perdebatan teologi yang tajam tapi unik di kalangan kristiani.

Di Indonesia, beberapa denominasi gereja yang ingin membuang nama “Allah” dari kitab suci dan gereja. Kelompok yang paling getol menyuarakan ide ini adalah Jemaat Beth Yeshua Hamasiah Jakarta. Dalam buku saku Siapakah Yang Bernama Allah Itu? Mereka menyerukan kepada umat Kristen untuk membuang nama Allah dari Alkitab (Bibel), bahasa ibadah di gereja, bahasa komunikasi di media maupun pergaulan sehari-hari. Menurutnya, Allah adalah nama dewa bulan dan harus diganti dengan Yahweh dan Elohim.

Sebagai konsekuensinya, sempalan Kristen ini menerbitkan Alkitab baru yang diberi nama ”Alkitab 2000” yang disusun oleh Eliezer ben Abraham alias Suradi ben Abraham. Dalam Alkitab anti Arab ini, dibuangnya semua istilah Arab dan sebagai gantinya, diambil istilah-istilah Israel untuk Perjanjian Lama dan istilah-istilah Yunani untuk Perjanjian Baru.

…Di Indonesia, beberapa denominasi gereja yang ingin membuang nama “Allah” dari kitab suci dan gereja. Menurutnya, Allah adalah nama dewa bulan dan harus diganti dengan Yahweh dan Elohim…

Beberapa pendeta pendukung anti-Allah ini antara lain: Pendeta Jahja Iskandar, Ir Posma Situmorang (pemimpin Wisma Gembala Jakarta), Drs Amos alias Poernama Winangun, dll. Untuk menyebarkan ide anti-Allah, Pendeta Jahja Iskandar menulis buku ”Mengapa Nama Yahweh Kurang Populer” (2003), Posma Situmorang menulis bulletin ”Gambar Tuhan: Andakah itu?”, sedangkan Pornama Winangun menulis buku ”Yesus bukan Allah tapi Elohim” (1999).

Sementara di Malaysia, umat Kristen memeras otak dan keringat mencari pengakuan dan pengukuhan untuk diperbolehkan memakai nama ”Allah” sebagai sebutan bagi Tuhan mereka, yang akan dipergunakan dalam kitab suci, bahasa ibadah di gereja maupun bahasa komunikasi di media dan dalam pergaulan sehari-hari.

Bermula pada awal tahun 1980-an, umat Islam Malaysia melakukan kampanye pelarangan bagi umat Kristen untuk memakai nama ”Allah” untuk menyebut tuhan mereka. Mereka beralasan bahwa ”Allah” adalah nama diri yang tidak bisa diikuti dengan kata milik ku, mu, nya, dll. Sedangkan umat Kristen biasa merangkai kata milik untuk ”Allah” sehingga mereka terbiasa mengucapkan kata Allahku, Allahmu, Allahnya, dsb. Alasan lainnya, umat Kristen meyakini doktrin bahwa Yesus sama dengan Allah. Bagi umat Islam Malaysia, sebutan ini adalah pelecehan kepada Allah, Tuhan semesta alam, sehingga sehingga pemakaian kata Allah oleh pihak Kristen dikhawatirkan bisa membingungkan dan “menipu” umat Islam.

Kampanye pelarangan ini berhasil gemilang sehingga pemerintah federal dan beberapa pemerintah negara bagian Malaysia sejak tahun 1982 resmi melarang umat Kristen memakai nama ”Allah” untuk menyebut tuhan mereka, baik lisan maupun tulisan.

…di Malaysia, umat Kristen memeras otak dan keringat mencari pengakuan dan pengukuhan untuk diperbolehkan memakai nama ”Allah” sebagai sebutan bagi Tuhan mereka…

Akibat dari kebijaksanaan ini, pertengahan April 2009, lagu rohani Ages Monica, ”Allah Peduli,” dilarang beredar di Malaysia oleh Majelis Agama Islam Selangor (MAIS) Malaysia. Berikutnya 29 Oktober 2009, pemerintah Malaysia menyita 15.000 Bibel yang diimpor dari Indonesia, karena dalam kitab tersebut tertulis kata “Allah” sebagai terjemahan dari Tuhan kristiani.

Setelah melalui serangkaian perjuangan panjang, akhirnya umat Kristen diperbolehkan memakai nama ”Allah” untuk menyebut tuhan mereka, berdasarkan keputusan Pengadilan Tinggi hari Kamis, 31 Desember 2009. Kementerian Dalam Negeri Malaysia menyatakan banding atas keputusan tersebut.

Sepekan kemudian, tepatnya tanggal 6 Januari 2010, Pengadilan Tinggi Malaysia membatalkan keputusan tersebut. Keputusan tanggal 31 Desember 2009 dinyatakan tidak akan berlaku hingga Pengadilan Banding negara itu mengambil keputusan mengenai petisi Departemen Dalam Negeri yang mempertanyakan keputusan itu.

Benarkah Allah itu Dewa Bulan Bangsa Arab Pra Islam?

Bagi umat Kristen yang alergi terhadap kata Allah, kata ini tampak asing bagi bagi mereka, tetapi tidak bagi semua Nabi dari Adam sampai Muhammad. Dalam bahasa Arab kita menemukan di dalam kitab suci Al-Qur’an kata “Allah.” Kata ini sama dengan kata dalam bahasa Ibrani “Eloah” (bentuk singular/tunggal), tetapi Yahudi membuatnya dalam bentuk jamak/plural “Elohim.” Kata “Allah’ lebih dekat dengan kata bahasa Aram ‘Alaha’ yang digunakan oleh Yesus sendiri (Nabi Isa alaihissalam). Baca Encyclopaedia Britannica 1980, yang ditulis oleh ilmuwan non-Muslim, dengan judul artikel “Allah and Elohim.”

“Allah is the one and only God in the religion of Islam. Etymologically, the name Allah is probably a contraction of the Arabic al-Ilah, “the God.” The name’s origin can be traced back to the earliest Semitic writings in which the word for god was Il or El, the latter being an Old Testament synonym for Yahweh. All (h is the standard Arabic word for “God” and is used by Arab Christians as well as by Muslims.” (CD Encyclopaedia Britannica 2003 Ultimate Reference Suite).

“Allah itu satu dan satu-satunya Tuhan adalah agama Islam. Secara etimologi, nama Allah itu mungkin singkatan dari kata bahasa Arab Al-Ilah yang berarti “Tuhan.” Asal nama dapat ditelusuri dari Tulisan Semitic (bahasa Semit di masa Ibrahim, pen.) yang paling awal di mana kata untuk menyebut Tuhan adalah Il Atau El, yang belakangan menjadi Sinonim Perjanjian Lama untuk Yahweh. Allah adalah kata bahasa Arab yang baku untuk “Tuhan” dan digunakan oleh Kristen Arab (sebelum Islam, pen.) seperti halnya oleh Orang Islam.”

“Singular Eloah (Hebrew: God), the God of Israel in the Old Testament. A plural of majesty, the term Elohim-though sometimes used for other deities, such as the Moabite god Chemosh, the Sidonian goddess Astarte, and also for other majestic beings such as angels, kings, judges (the Old Testament shoferim), and the Messiah – is usually employed in the Old Testament for the one and only God of Israel, whose personal name was revealed to Moses as YHWH, or Yahweh (q.v.). When referring to Yahweh, elohim very often is accompanied by the article ha-, to mean, in combination, “the God,” and sometimes with a further identification Elohim Rayyim, meaning “the living God.” (ibid.).

[Eloah bentuk tunggal (dari bahasa Ibrani: Tuhan), Tuhan Israel di yang disebutkan dalam kitab Perjanjian Lama. Bentuk jamaknya untuk menunjuk keagungan-Nya adalah Elohim yang terkadang dipakai untuk menyebut dewa-dewa, seperti dewa Chemos yang disembah orang Moab, Dewi Astarte sesembahan orang Sidon dan juga untuk memanggil yang memiliki keagungan seperti malaikat, raja dan hakim-hakim agama Yahudi, juga Mesiah –Kata Elohim biasanya dipakai dalam Perjanjian lama untuk menyebut satu-satunya Tuhan bangsa Israel yang telah menurunkan wahyu kepada nabi Musa, YHWH atau Yahweh. Ketika kata tersebut dimaksudkan untuk menyebut Yahweh, kata ‘Elohim’ sering ditambah dengan artikel “ha” (“the” dalam bahasa Inggris) yang artinya “the God” (Tuhan), dan terkadang lebih jauh ditambah identifikasi (kata sifat) “Elohim Rayyim” yang artinya “Tuhan yang hidup].

Kenneth Cragg, uskup yang pernah bertugas di Libanon dan AS, juga pernah menjadi asisten uskup di Yerusalem tahun 1970-1973 menjelaskan:

“The were vital Christian, and Jewish, factors in the very availability of Arabic vocabulary for the articulation of Islam. Scores of Aramaic loanwords found their way into Arabic, many of them into the preaching of Muhammad. The word of Allah itself, presumably a conflation of al-Ilah, was already current , denoting the supreme, if not exclusive, “god.” It was the sole worship of Allah, not His existence per se, that Islam proclaimed. Muhammad’s own father, dying before his son’s birth, had the name “servant of Allah.” Abd (servant) reached Islam from Semitic sources: what Islam did was to restrict us to “servant” of God alone. Similarly the word Rabb (Lord) became exclusively a descriptive of God, no longer to be used of human superiors, who were now to sayyids only.” (Kenneth Cragg, The Arab Christian, a History in the Middle East, Mowbray, London, 1991, hal. 45.)

[Beberapa faktor penting berasal dari Kristen dan Yahudi masuk ke dalam kosakata bahasa Arab. Kosa kata dari bahasa Aram menemukan jalan untuk masuk ke bahasa Arab, banyak diantaranya ke dalam pengajaran Muhammad. Kata “Allah” sendiri, mungkin berasal dari kata al-Ilah, yang sekarang diartikan Tuhan yang Maha Tinggi. Jika tidak dalam pengertian eksklusif, kata “Ilah” bisa diartikan dengan “dewa.” Itu satu-satunya Allah yang disembah, yang diproklamirkan Islam. Ayah Muhammad sendiri yang meninggal sebelum kelahiran putranya, mempunyai nama “Abdullah” (Hamba Allah) .” Kata abdun (hamba) diambil dari bahasa Semit: Islam membatasi makna kata ini (abdun) hanya untuk “hamba” Allah. Dengan cara yang sama kata “Rabb” menjadi eksklusif untuk Tuhan, dan tidak lagi digunakan untuk “manusia” yang kini hanya menggunakan kata “sayyid” (tuan) saja].

…Hampir semua pakar non-muslim beranggapan bahwa kata “Allah” berasal dari “al-ilah”, tetapi pihak Islam menolaknya…

Hampir semua pakar non-muslim beranggapan bahwa kata “Allah” berasal dari “al-ilah”, tetapi pihak Islam menolaknya. Sebab kata tunggal “ilah” (Tuhan) memiliki bentuk jamaknya, yakni “Alihah” (tuhan-tuhan atau dewa-dewa). Sedangkan kata “Allah” mustahil memiliki bentuk jamaknya. Dengan demikian kata “Allah” bukan berasal dari kata “al-ilah.” Karena kata “Allah” adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain), karena kata ini tidak bisa dirubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama’ (plural), dan tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf.

Dalam Al-Qur’an, kata “Allah” disebut sebanyak 2679 kali, semuanya dalam bentuk mufrad (singular, tunggal), karena lafzhul jalalah (lafal yang agung) ini adalah Esa dan Mutlak, sesuai ayat Al-Qur’an berikut: “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (Qs. Al-Ikhlash 1-4).

…Kita tahu bahwa nama Tuhan yang berhak disembah itu adalah Allah, karena Allah sendiri yang memperkenalkan bahwa Dia bernama Allah…

Kita tahu bahwa nama Tuhan yang berhak disembah itu adalah Allah, karena Allah sendiri yang memperkenalkan bahwa Dia bernama Allah: “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs. Thaha 14).

Tetapi kenapa dalam bahasa Ibrani kata “Eloah” memiliki bentuk jamak ‘Elohim”. Bahasa manakah yang telah mengalami penyimpangan dan kerusakan (distorsi), Ibrani ataukah Arab? Jawabannya ada pada sub judul berikut ini:

Menguji Keaslian Bahasa

Telinga umat Kristen sendiri sangat akrab dengan istilah “Bethel” (Beth-El) yang artinya “Rumah Tuhan”. Bahasa Arab-nya adalah “Baitullah” (Bait Allah). Bahasa Ibrani mengucap “e” seperti Eloah dan Beth, sedangkan bahasa Arab melafazkan “a” seperti Allah dan Bait. Kristen Indonesia menyebut nabi Isa dengan panggilan “Yesus”, sedangkan Kristen Eropa, Amerika dan Australia memanggil “Jesus” bukan “Yesus”. Lalu apakah Jesus dengan Yesus itu berbeda orangnya?

Bagaimana dengan kata “Yehovah”? Ia lebih dari absurd (mustahil)! Ini adalah nama yang salah. Bagaimana Aliran Saksi Yehovah dapat membimbing manusia ke jalan kebenaran jika mereka sendiri membuat kesalahan besar terhadap nama mereka sendiri. Bahasa Ibrani seperti halnya bahasa Arab tidak memiliki huruf hidup (vokal), melainkan hanya konsonan. Kata aslinya adalah YHWH, sebuah rangkaian huruf mati dan harus dibaca Yahweh dalam bahasa Ibrani dan diterjemahkan dalam bahasa Arab “Ya Hua” yang artinya “Oh Dia” sebagaimana Yahudi pada waktu itu meyakininya sebagai kata yang sangat suci untuk menyebut Tuhan yang Maha Ada.

Di dalam Alkitab terutama pada halaman kitab-kitab Perjanjian Lama, kita tidak menemukan lagi kata ‘Eloah’ atau “Eloha.” Karena ia telah diganti dengan kata ‘Elohim’ yang jumlahnya mencapai sekitar 2.570 kali. Sedangkan Bangsa Israel yang tinggal di masa pembuangan di Babilonia mengubah nama ‘Eloah’ menjadi YHWH (Yahweh). Kata ini sebutkan dalam Alkitab sekitar 6.823 kali.

…Di dalam Alkitab terutama pada halaman kitab-kitab Perjanjian Lama, kita tidak menemukan lagi kata ‘Eloah’ atau “Eloha.” Karena ia telah diganti dengan kata ‘Elohim’ yang jumlahnya mencapai sekitar 2.570 kali…

Elohim adalah nama dewa-dewa kafir

Para pendeta dan penginjil yang ingin mengganti kata ”Allah” dengan kata ”Elohim” dengan alasan Allah adalah nama dewa, akan sangat terkejut bila membaca ensiklopedi Kristiani. Sebab dinyatakan dalam berbagai literatur bahwa Elohim adalah nama dewa atau dewi bangsa kafir.

Adolf Heuken, pakar bibliologi Katolik dari Serikat Jesuit menyatakan bahwa Elohim adalah nama dewa atau dewi orang kafir.

“Elohim (Ibr) sering digunakan untuk menyebut Allah, tetapi juga digunakan dalam berbagai pengertian, antara lain untuk menunjuk kepada dewa atau dewi orang kafir (Kej. 35:2; Kel. 18:11)” (Ensiklopedi Gereja I, Adolf Heuken Sj. Hal. 289).

Pernyataan Heuken ini berdasarkan ayat Alkitab sendiri. Dalam kitab Kejadian 35:2, kata Elohim berarti dewa-dewa asing:

“Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: “Jauhkanlah dewa-dewa asing (Elohim) yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu” (Kej. 35:2).

“Sekarang kuketahui, bahwa besarlah Tuhan dari pada segala dewata (Elohim), karena dalam membesarkan dirinya dengan sombongnya mereka itu telah membinasakan dirinya sendiri” (Keluaran 18:11, terjemahan Alkitab 1960).

…Elohim (Ibr) sering digunakan untuk menyebut Allah, tetapi juga digunakan dalam berbagai pengertian, antara lain untuk menunjuk kepada dewa atau dewi orang kafir…

Senada dengan itu, Dr C.I. Scofield, seorang pastor, doktor teologi dan pakar bibliologi, ketika menafsirkan kitab Kejadian (Genesis) 1:1, menjelaskan bahwa Elohim adalah salah satu nama dari Dewa-dewa terkemuka.

“Elohim (English form “God”), the first of the names of Deity, is a plural nound in form but is singular in meaning when it refers to the true God. Emphasis in Genesis 1:26 is on the plurality in Deity; in verses 27, on the unity of the divine Substance (Chapter Genesis 3:22), the plural form of the word suggests the Trinity” (Scofield, The New Scofield Reference Bible, hlm. 1).

(Elohim [Inggris: “God”], nama pertama dari nama Dewa, adalah bentuk kata yang plural, tapi tunggal dari bentuk maknanya pada saat mengacu pada Tuhan yang sebenarnya. Tekanan pada Kejadian 1:26 adalah satu dari bentuk jamak Dewa. Pada ayat 27, menekankan pada kesatuan substansi ketuhanan [Kejadian 3:22] bentuk jamak dari kata menyatakan dan Trinitas).

Pada halaman berikutnya Scofield menegaskan: “Elohim (sometimes El or Elah), English form “God,” the first of the three primary names of Deity, is a uni-plural noun formed from El = strength, or the strong one, and Alah, to swear, to bind oneself by an oath, so implying faithfulness. This uni-plurality implied in the name is directly asserted in Genesis 1:26 (plurality), 26 (unity); see also Genesis 3:22. Thus the Trinity is latent Elohim” (hlm. 3).

(Elohim [terkadang dibaca El atau Elah], dalam bahasa Inggris: ‘God’, yaitu nama yang pertama dari 3 nama Dewa yang utama, merupakan kata benda yang bersifat jamak, bentuk kata benda dari El yang berarti kekuatan, atau yang kuat, dan Alah berarti bersumpah, mengikat diri seseorang dengan sumpah, setia pada sumpah. Bentuk jamak ini termasuk dalam nama yang secara langsung ditegaskan dalam Kejadian 1:26 (jamak), 1:27 (kesatuan); lihat juga Kejadian 3:22. Di sana Trinitas tersembunyi di dalam Elohim).

…Umat Islam seluruh dunia bisa khusyu beribadah karena secara pasti, sah dan universal menyebut Allah sebagai Tuhan semesta alam. Sementara umat kristiani masih simpang-siur mencari nama Tuhan mereka…

Umat Islam seluruh dunia bisa khusyu beribadah karena secara pasti, sah dan universal menyebut Allah sebagai Tuhan semesta alam. Sementara umat kristiani masih simpang-siur mencari nama Tuhan yang benar untuk dipakai dalam beribadah dan berdoa. [Masyhud SM, A Ahmad Hizbullah/SI]