Dalam pemahaman sebagian warga Dayak, Islam telah memisahkan mereka dengan anggota keluarganya.

”Kalau kamu beragama Islam, kamu tidak akan pernah bersatu lagi dengan kami. Kalau kamu memilih Islam, kita berarti sudah bukan saudara kami lagi.”

Begitulah beberapa ungkapan warga Dayak, ketika melihat salah seorang anggota keluarganya memeluk agama Islam.

Ungkapan itu menjadi gambaran negatif yang terekam dalam benak hampir seluruh warga dayak, yang berada di pedalaman Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur, terhadap umat Islam.

Pasalnya, Islam melarang umatnya memakan babi, tidak suka dengan sesuatu yang dianggap najis, dan saudaranya yang tidak seiman dengannya adalah kafir. Doktrin ini begitu dalam melekat di pemikiran orang Dayak Benuaq.

Kalimat dan ungkapan itu pula yang pernah dirasakan Asrin Surianto (35), salah seorang warga Dayak Benuaq, yang tinggal di Desa Dasaq, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat (dahulunya wilayah ini masuk dalam Kabupaten Kutai. Setelah masa otonomi daerah, Kabupaten Kutai dimekarkan menjadi Kabupaten Kutai Barat, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara), saat dirinya memeluk agama Islam.

Mengenal Islam
Saat itu, tahun 1983. Ayahnya yang bernama Gamas, memilih memeluk agama Islam. Namun demikian, ayahnya tak pernah memaksakan anak-anaknya mengikuti agama orang tuanya. Orang tuanya berpesan, pilihlah agama yang terbaik bagi diri mereka sendiri.

”Alhamdulillah, dari ketiga anak-anak bapak yang masih hidup, saya mengikuti jejak bapak,” ujar Pembantu Dekan III Fakultas Agama Islam, Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), Tenggarong.

Persentuhan ayahnya dengan Islam, jelas Asrin, karena ayahnya bekerja sebagai seorang guru di sebuah sekolah di Desa Dasaq. ”Karena banyak bersentuhan dengan buku-buku pelajaran di sekolah, akhirnya Bapak memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Sebelumnya, keluarga kami menganut agama Kristen. Namun, hanya sekadarnya, tidak begitu mendalam. Kebanyakan masih mempercayai pada kehidupan di alam (Anismisme–Red),” ujar Asrin mengisahkan awal mula persentuhannya dengan Islam.

Asrin menambahkan, kendati perkenalan orang tuanya pada agama Islam, namun sifatnya lebih pada pemahaman keagamaan yang ada kemiripan dengan kebiasaan orang dayak yang percaya pada Animisme. ”Ayah saya mengikuti paham tasawuf. Namun, pemahamannya hanya untuk kedigdayaan,” terangnya.

Pun, hal yang sama juga dialami Asrin. Awalnya, ia tidak mempedulikan pada ajaran sebuah agama. Namun, rupanya berbagai kehidupan di masyarakat Dayak mengikuti ajaran Animisme, membuatnya harus berpikir untuk menemukan bentuk-bentuk kedamaian dalam hidupnya.

Asrin menceritakan, pada usia lima tahun, ibunya yang bernama Fati, meninggal dunia. Dan, dari sembilan bersaudara, hanya tiga yang masih hidup. Kondisi ekonomi yang sulit, membuat hidup suami Kustaniah ini selalu berpindah-pindah tempat dan pengasuhan. Dari paman yang satu pada paman yang lain.

Akhirnya, ketika masuk SD, ia pun mengikuti salah seorang pamannya yang berprofesi sebagai Gembala Sidang (Pendeta Muda). Dan, Asrin lalu dimasukkan ke sekolah Kristen. Ia pun menganut agama Kristen Protestan.

Dan, ketika duduk di bangku kelas lima SD, ia bersama kedua saudaranya dipanggil ayahnya. Ayahnya menyampaikan tentang perihal agama Islam, dan menyerahkan sepenuhnya pilihan anak-anaknya dalam masalah agama, apakah mau berislam atau tetap pada agama Kristen/Animisme.

”Akhirnya, berdasarkan pertimbangan sederhana, yakni ayah adalah orang saya anggap paling mengerti tentang kebajikan, pilihannya tentu adalah pilihan yang terbaik. Maka, saya pun ikut ayah saya,” ujarnya.

Setelah lulus SD, kata Asrin, ayah memberikan beberapa buku bacaan ringan tentang perbedaan agama yang berjudul Dialog Masalah Ketuhanan Yesus antara Seorang Ulama dengan Seorang Pendeta.

”Buku tersebut mendorong keinginan saya untuk mengkaji lebih dalam tentang Islam,” paparnya.

Akhirnya, pada 1990, orang tuanya mendaftarkan Asrin pada salah satu pesantren di Kota Tenggarong, tepatnya di Ponpes Ribathul Khail, Timbau, Tenggarong. ”Namun, belum sempat saya masuk sekolah, ayah saya meninggal dunia,” kenangnya.

Kemudian, atas bantuan salah seorang pamannya, Asrin tetap melanjutkan pendidikan di MTs Ribtahul Khail dengan fasilitas bebas SPP dan BP3. ”Namun, untuk biaya hidup, saya harus berusaha sendiri,” ujarnya.

Semangat itu terus dipertahankan dan sekolah harus tetap jalan. ”Menuntut pendidikan di MTs adalah amanah almarhum ayah. Alhamdulillah, tahun 1993, saya lulus MTs, kemudian melanjutkan ke madrasah aliyah di Ponpes Ribathul Khail, sampai akhirnya tamat tahun 1996,” ujarnya.

Kendati mendapat keringanan dari pengasuh pondok pesantren, Asrin tetap ingin mandiri. Di sela-sela kesibukannya menuntut ilmu, ia pun harus membiayai dirinya sendiri. Ia tak mau selamanya bergantung pada orang lain. Dengan kemampuannya berceramah (pidato), ia berhasil menghidupi dirinya.

Asrin beruntung, kehidupan di pesantren memberikannya ketenangan hidup untuk belajar Islam lebih mendalam. Apalagi, di Pesantren Ribtahul Khail Timbau Tenggarong yang mengajarkan para santrinya mandiri, membuat Asrin makin kuat dalam menghadapi berbagai ujian dan rintangan.

Setelah lulus dari aliyah di pesantren inilah, Asrin kembali banyak bersentuhan dengan saudara-saudaranya warga Dayak Benuaq, di Desa Dasaq. ”Awalnya mereka sangat antipati terhadap Islam. Mereka memandang Islam sebagai agama yang memisahkan anggota keluarga mereka,” terang Alumnus Fakultas Agama Islam, Unikarta ini.

Agama toleran
Dalam pandangan orang Dayak, orang Islam itu menjadi penyebab hilangnya kebersamaan dan persatuan anggota keluarga dayak. Sebab, begitu salah seorang anggota keluarganya memeluk Islam, mereka akan kesulitan berhubungan lagi.

”Sebab, dalam agama Islam, babi itu kan diharamkan. Sementara, banyak orang Dayak yang memelihara babi. Nah, karena suka makan babi, orang Dayak itu lalu dianggap najis. Dan, karena berbeda agama, mereka adalah kafir,” ungkap Asrin atas pandangan orang Dayak tentang Islam.

Secara perlahan, Asrin pun menyampaikan nilai-nilai Islam sesuai dengan apa yang telah didapatkannya selama menuntut ilmu di pesantren. Asrin menyampaikan bahwa Islam tidak seperti yang mereka gambarkan. ”Islam itu justru cinta kebersamaan, saling menghargai, dan menghormati. Kendati berbeda agama, Islam menghormati perbedaan itu,” kata Asrin kepada para warga Dayak dan anggota keluarganya yang masih menganut agama terdahulu.

Dan itu, lanjutnya, yang ia tunjukkan pada komunitas Dayak saat dirinya berada di kampung halaman. ”Saya datang pada setiap hajatan mereka. Namun, saya harus menjaga keyakinan saya. Saya tidak secara frontal menyinggung perasaan mereka yang berbeda keyakinan,” ujarnya.

Dengan pendekatan yang baik, akhirnya Islam bisa diterima beberapa warga Dayak. ”Alhamdulillah, mereka tertarik dan ada sebagian yang masuk Islam. Saat ini, sekitar 50 orang warga Dayak di desa Dasaq, Muara Pahu, Kutai Barat, telah memilih Islam. Kami pun bergotong-royong membangun mushala untuk kegiatan ibadah,” terang staf pengajar Fakultas Agama Islam, di Unikarta, Tenggarong.

Kini, Asrin harus terus berjuang mengajak saudara-saudaranya untuk memeluk Islam. Dengan pendidikan yang telah ditempuhnya, ia senantiasa berdakwah pada komunitasnya, membimbing serta menyeru warganya untuk menuju jalan yang lurus, yaitu agama Islam. -syahruddin el-fikri/taq

BIODATA :
Nama   : H Asrin Surianto SAg
TTL    : Dasaq, 7 September 1974
Suku   : Dayak Benuaq
Nama Ayah   : Gamas
Ibu    : Fati
Kampung Asal : Desa Dasaq Kecamatan Muara Pahu Kabupaten Kutai Barat Kaltim
Agama Asal   : Kristen Protestan/Animisme

Data Pendidikan
SDN 012 Dasaq lulus 1987
MTs PPKP Ribathul Khail Timbau Tenggarong 1993
MA PPKP Ribathul Khail Timbau Tenggarong 1996
Fakultas Agama Islam Jurusan Dakwah lulus 2001

Pengalaman Jabatan/Pekerjaan
Fungsional :
– Dosen Pengajar Fakultas Agama Islam Unikarta 2001 – sekarang
– Pembantu Dekan III Fak. Agama Islam Unikarta 2002 – 2004
– Pembantu Dekan II Fak. Agama Islam  Unikarta 2004 – 2008
– Pembantu Dekan III Fak. Agama Islam Unikarta 2008 – sekarang

Struktural :
– Kepala KUA Kec. Kembang Janggut Depag Kukar 2004 – 2006
– Penyuluh Agama Islam Trampil Depag Kukar 2006 – sekarang

Sumber :Republika Online