WASHINGTON – Meski Israel terus melakukan pelanggaran hak negara-negara Arab, khususnya Palestina, Amerika Serikat (AS) justru memberikan ‘upah’. Keuntungan bagi Israel bakal datang menyusul penandatanganan kesepakatan kerja sama di bidang pengamanan pesawat terbang sipil.

Kesepakatan baru ini memberikan peluang kepada Israel untuk memperoleh informasi lengkap dari para penumpang, terutama warga Palestina, Arab dan umat Islam secara umum. Inilah yang meresahkan organisasi-organiasi HAM sipil dan hukum di Amerika.

Menteri keamanan dalam negeri Amerika, Janet Napolitano dan Dalam Negeri Israel, Israil Cats mengatakan dalam pernyataan bersamanya Rabu (4/3) mengungkapkan bahwa kesepakatan baru ini akan memperkokoh keamanan pesawat dunia. Dengan kesepakatan ini, Israel akan memiliki hak memperoleh informasi dan data terkait semua penumpang.

Para advokat kebebasan privasi mengungkapkan keresahan mereka terhadap kesepakatan seperti dengan Israel. Sebab sejak bertahun-tahun Israel menghimpun data sebanyak mungkin dari setiap orang dari berbagai bangsa, etnis dan agama, terutama warga Palestina, Arab dan kaum Muslimin.

Mereka menilai bahwa kesepakatan itu akan memberikan legalitas dan hak kepada Israel dalam menyimpan informasi yang mereka peroleh dan digunakan untuk kepentingan mereka atau melancarkan balas dendam kepada orang yang memiliki pandangan berbeda. Atau bahkan Israel menjual informasi pribadi itu kepada negara atau badan intelijen lainnya.

Para advokat kebebasan pribadi itu memperingatkan bahaya kesepakatan dan peluang seperti ini kepada Israel. Sebab negara zionis ini memiliki peran panjang dalam melanggar hukum internasional. Israel juga sering mencuri rahasia militer dan rahasia industri pertahanan untuk dijual kepada pihak yang lebih banyak membayar. Langkah bahaya Amerika ini terjadi setelah Israel menggelar kejahatannya membunuh elite Hamas, Mahmud Mabhuh di Dubai dengan menggunakan pasport palsu Eropa. (republika)