Tag

, , , , ,

Salah satu sifat Allah dalam 99 Asmaul Husna Adalah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Bagaimanakah wujud kemurahan Allah dalah hidup kita sering kita tidak menyadari hal-hal sepele keseharian kita yang merupakan penjabaran dari kemurahan Allah pada kita. Mari kita simak beberapa kisah hikmah berikut ini

Kemurahan Tuhan datang melalui perantara ikhtiar bukan dengan jalan pintas

Kemurahan Tuhan datang melalui perantara ikhtiar bukan dengan jalan pintas

Dalam sebuah bacaan pesantren disebutkan kisah seorang  ahli ibadah.  Siang  malam kerjanya berdoa melulu hingga istrinya marah karena tak ada lagi yang  bisa  dimakan.  “Barang  apayang  hidup  merayap  perlu  makan. Carilah pekerjaan, Bang,karena  sudah  terbukti  doa  tak  bisa   dimakan,”   gerutui strinya.

Tak  enak  didengar  tetangga,  ia berjanji mau bekerja. Ini hanya dalih semata. Sebab, sebenarnya, ia pergi ke gua agar bisa  berdoa lebih khusyuk tanpa dicereweti sang istri. Pagi hari  berangkat,  sorenya  baru pulang.  Kepada  istri   ia berbohong  bahwa  majikannya  akan  membayar  jerih payahnya sekaligus kelak, setelah beberapa lama bekerja.

Suatu sore istrinya memasak aneka makanan. Ia  heran,  dari mana  semua  itu  diperoleh?  Tapi, belum sempat ditanya, si istri menjelaskan bahwa utusan majikan suaminya tadi  datang mengantar  bahan  pangan dan sejumlah uang. “Baru aku berdoa sebentar, sudah Kaukirim bayaran  begitu  banyaknya,”  gumam orang itu.  Makin yakin ia pada kemurahan Tuhan, makin edan ia berdoa di gua.  Tentu saja, bukan apa  yang  dikatakan  yang  penting  dalam kisah   ini,  melainkan arti  simbolis  yang dikandungnya.  Selebihnya kita bebas menolak atau menerimanya.

Parmin, tukang becak, memang gila togel (toto gelap).  Banyak dukun sudah ia  datangi.  Tiap  orang gila dan kere yang seperti gila di Yogya  ia  kuntit:  siapa  tahu dalam  omelannya terdapat  petunjuk  nomor.  Sering  ia  tidur di kuburan mencari impen (impian). Jerih payahnya menarik becak  pun  ludes  di  meja Sitompul,  agen  togel.

Buat Parmin, hidup berarti Togel.  Senik, istrinya,  minta  dipulangkan  ke  rumah  orangtuanya karena  tak tahan  lagi hidup dalam alam togel yang panas. Dan Gafur, anak tertuanya, berhenti sekolah karena  tak ada biaya.  Pendeknya, keluarga Parmin berantakan.  Mertua  ikut  bingung.  Orangtua  Parmin  sendiri kehabisan nasihat. “Arep dadi opo to kowe, Min, Min  …,”  (mau  jadi apa  kamu),  kata  orangtuanya. Lama-lama Parmin mikir. Iya, ya. Mau jadi apa?

Memang bukan tugas sosiolog atau psikolog untuk mengentaskan Parmin  dari  Togel.  Ini  lebih merupakan urusan rohaniwan macam Pak Kiai atau Romo Mangun. Yang jelas, bosan ke dukun, Parmin pergi ke kiai di Wonokromo, dekat dari rumahnya. “Ada apa?” tanya Pak Kiai yang sudah tua itu. “Saya mohon petunjuk, Pak Kiai.” “Saya  cuma kiai. Tidak bisa memberimu nomor kode,” kata Pak  Kiai. Parmin pun terkesiap heran, bagaimana  Pak  Kiai  tahu bahwa ia pecandu Togel.

“Bukan, Pak Kiai. Saya mau tobat,” kata Parmin.  Setelah  pasrah  bongkokan,  artinya  diapakan saja oleh Pak Kiai monggo mawon, jiwa Parmin “dicuci”. Diajari pula  salat dan  berdoa.  Tapi  susah.  Lidah  Parmin  tidak cocok untuk  menyebut kata-kata Arab.  “La Khaula wala kuata illa …,” kata Pak Kiai pelan. “La wala wala …,” Parmin  tergagap-gagap.  Pak  Kiai  mau ketawa.  Berkali-kali  dicoba,  hasilnya tetap la wala wala. Pusing juga ahli rohani itu.

“Kalau nyebut kode Togel  lancar, ya Min?” Parmin  mesem.  Akhirnya,  jalan   keluar   ditemukan.   Doa dipermudah. Yang  penting  intinya:  wolo-wolo  kuwato. Pas betul. “Tapi bukan cuma itu, Min. Mesti ditambah Duh, Gusti. Jadi, “Duh,   Gusti,  wolo-wolo  kuwato.  Artinya,  kamu  sambat, mengeluh,  mengadu,  pada  Tuhan  sambil terus  giat  narik becak.”

Tiap  malam  Jumat  Parmin “digarap” Pak Kiai. Pesan beliau: “Kalau ada kegaiban, jangan heran.  Gusti memang Mahagaib.  Pokoknya,  syukuri,  dan  perbanyak  doa, giat usaha. Itulah laku utama,” bisik Pak Kiai.  Kegaiban itu datang. Hampir tiap  pagi,  istrinya  menemukan selembar  uang lima ribuan di bawah pintu. Parmin lapor pada Pak Kiai. Jawab beliau, “Syukuri dan perbanyak doa.” Dulu, Parmin dirongrong nafsu “ingin punya”. Kini, di bawah asuhan  Pak  Kiai,  seluruh jiwanya diliputi rasa pasrah. Ia ayem. Semeleh atau tawakal,  memberinya ketenangan.

“Hamba tak  berdaya, kecuali atas pertolongan-Nya”. Mudahnya: “Duh, Gusti, uvolo-wolo kuwato”. Di shopping centre,  ia  pernah  berkali-kali,  sejak  pagi  sampai  jam  lima  sore,  belum  dapat  penumpang. Ia panik. Apalagi belum sesuap pun nasi masuk  perutnya.  “Duh,  Gusti wolo-wolo  kuwato,”  keluhnya. Menjelang  jam enam, seorang  penumpang datang. Tanpa menawar ia langsung nomplok di becak  itu.
Begitu turun ia menyelipkan tiga lembar lima ribuan di saku Parmin. Ini pun dilaporkannya pada Pak  Kiai.  Hanya satu  hal  tak dilaporkannya.  Ia  ingin bikin  kejutan. Tapi belum sempat kejutan dibikin, ia terkejut. Pak Kiai wafat. Parmin  merasa shock kehilangan godfather. “Min,  sesaat  sebelum  pergi,  Pak  Kiai mengucapkan syukur bahwa kau sudah mengkredit  becak,”  kata  putra  Pak  Kiai.

Parmin kaget. Lo? Beliau sudah tahu? Memang,  sejak  sering ditemukannya “uang gaib” di rumah, ia menabung. Kepada  istrinya   ia   berpesan   untuk    tak  mengutik-utik uang di bawah bantal itu. Soal makan seadanya, ditanggulangi dari narik becak harian. Tabungannya itu  digunakannya  untuk  mengangsur  becak Bah Gendut.  Begitu  becak  lunas,  ia  ingin “matur” Pak Kiai. Namun, beliau, ternyata, tak memerlukan laporan.

Pak  Kiai sudah tahu sak durunge winarah (tahu rahasia di balik tabir) “Yah, namanya juga wong suci,” pikir Parmin. Sekarang,  setelah  kepergian Pak Kiai, uang “gaib” tak lagi ditemukan di bawah pintu. Dalam hati Parmin  bertanya-tanya. Namun,   ia   sadar,   kegaiban   toh   tak   bisa   terjadi  terus-menerus. Kegaiban hidup memang  ada.  Tapi  hidup  tak bisa  semata  disandarkan  pada  kegaiban itu. La khaula dan mengayuh becak barunya  itulah  kunci  hidup  yang  sekarang dipegangnya.

Adakah keputus asaan pernah mampir pada diri kita selam ini saat banyak masalah duniawi menghampiri kita? Seringkali saat hal terseput mampir menghampiri kita tersirat untuk mencoba formula instant untuk menyelesaikannya jalan pintas yang seringkali beresiko dan jauh dari norma serta hukum Illahi. Mengapa kita tidak mencoba ikhtiar dan memohon pertolongan-Nya bukankan Allah Maha Pemurah, dan janji Allah tidak pernah meleset.

Terakhir Saya ucapkan kepada Mbak Fitri Empunya blog yang sudi memberikan pada kami ikut berceloteh di Blog yang bagus dan informatif ini, sukses selalu ya
(Disadur dari karya Mohammad Sobari di Buku Kang Sejo Melihat Tuhan)