Tag

, ,

Jihad sebagai perjuangan penyembuhan.

Dirangkum dari berbagai sumber oleh: Fanya

Banyak warga Rwanda berpindah agama menjadi pemeluk Islam selepas Genosida. (Emily Wax – The Washington Post)

Setelah segaris hilal bulan baru terlihat, Saleh Habimana, ulama terkemuka Muslim Rwanda beserta para lelaki yang mengenakan topi di bordir dan anak-anak berseragam sekolah, shalat berjamaah di Mesjid Al Fatah dengan kaum Muslimin yang jumlahnya semakin berkembang Rwanda, sebuah negara di Afrika tengah, – untuk selanjutnya mendirikan shalat sunat tarawih yang menandai datangnya bulan suci Ramadhan.

Dan setelah itu, kata jihad – perjuangan suci – kembali dikumandangkan, bukan sebagai jihad sebagaimana disebut dalam peristiwa 11 September 2001, tak ada hubungannya dengan Osama bin Laden, World Trade Center ataupun  tindakan bom bunuh diri. Sebaliknya, yang menjadi rujukan tak lain adalah kejadian tanggal 6 April 1994, awal terjadinya genosida (pembunuhan massal) yang dimotori negara di mana ekstremis etnis Hutu membunuh 800.000 minoritas Tutsi dan moderat Hutu.

“Kami memang memiliki jihad sendiri, dan kami menyatakan perang melawan kebodohan yang ada di antara Hutu dan Tutsi. Ini adalah perjuangan kami untuk menyembuhkan” demikian ucap Saleh Habimana, mufti kepala di Rwanda. “Jihad kami adalah untuk memulai hidup saling menghormati satu sama lain, sebagai sesama Warga Negara Rwanda dan sebagai Muslim.”

Pasca-genosida Rwanda, dunia menyaksikan terjadinya peningkatan drastis dalam jumlah konversi (perpindahan agama) dari umat Katholik dan Protestan ke Islam yang dilakukan warga suku Hutu maupun Tutsi. Populasi warga Muslim Rwanda saat ini diperkirakan mencapai lebih dari 14% dari 8,2 juta total penduduk Rwanda – negara Afrika yang paling Katolik – yakni lebih dari dua kali lipat dibanding sebelum terjadinya genosida. Perubahan demografis yang dramatis tersebut tampaknya terjadi akibat beberapa hal a.l.:

Pertama, hadir dan meningkatnya peran kelembagaan institusi Islam nasional Rwanda yang semakin menonjol dibanding dengan peran Gereja Katolik dan Protestan yang terbukti terlibat aktif dalam tindakan genosida Rwanda. Banyak yang berpindah agama menyatakan bahwa mereka memilih Islam karena mereka menyaksikan sendiri bagaimana para petinggi gereja Katolik dan Protestan aktif terlibat didalam genosida. Berbagai LSM yang memperjuangkan hak asasi manusia telah mendokumentasikan berbagai insiden dimana para Rohaniwan Kristen Hutu menangkapi warga Tutsi yang datang mencari perlindungan ke gereja-gereja dan menyerahkan mereka ke pasukan maut Hutu. Mereka juga memiliki bukti-bukti dimana Imam dan minister Hutu bahkan mendorong para jemaat mereka untuk bersama-sama membunuh warga Tutsi. Sehubungan dengan kejadian tersebut, beberapa gereja telah ditetapkan menjadi monumen peringatan tewasnya sekian banyak manusia yang dibantai di antara bangku-bangku gereja. Banyak pimpinan gereja dan rohaniwan Hutu yang telah diadili di Pengadilan Lokal maupun Pengadilan Kriminal Internasional bagi Rwanda (ICTR) akibat keterlibatan dan peran aktif mereka dalam genosida. Empat pendeta dituntut tuduhan genosida di PBB, dan tahun lalu di Belgia, dua biarawati Rwanda dijatuhi hukuman atas tindak pembunuhan dan peran mereka dalam aksi pembantaian lebih dari 7.000 warga Tutsi yang datang mencari perlindungan di Biara Benedictine.

Kedua, warga Tutsi yang selamat berkat perlindungan warga Muslim, terpanggil jiwanya untuk memeluk Islam terlebih lagi setelah mengenal lebih dekat tentang iman dan Islam yang menumbuhkan rasa hormat yang mendalam terhadap pelindung mereka. Selain itu, mereka berharap bahwa dengan memeluk Islam mereka akan terhindar dari kemungkinan kejadian serupa. Jean Pierre Sagahutu, warga Tutsi yang memeluk Islam setelah mendapat perlindungan dari warga muslim, menyatakan bahwa “ketika mereka berdoa, Hutu dan Tutsi duduk berdampingan dalam damai di masjid yang sama tanpa pembedaan. Saya sungguh sangat menikmati kenyataan tersebut.

Ketiga, bagi warga Hutu, berpindah masuk Islam disamping sebagai upaya pertaubatan, juga mencari penyembuhan spiritual akibat trauma jiwa akibat lumuran darah dari sekian banyak nyawa yang melayang di tangan mereka, dan mereka bergabung didalam Islam bersama warga Tutsi untuk mencari ketenteraman dan keselamatan jiwa dunia akhirat.

Mengapa warga Muslim Rwanda menjadi penyelamat baik bagi warga Tutsi maupun warga Hutu dalam genosida yang menggegerkan dunia ini?

Ada yang mengatakan Muslim melakukan ini karena perintah agama yang kuat untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin), meskipun ajaran Kristen sesungguhnya dilandasi ajaran KASIH juga. Yang lain mengatakan, umat Islam Rwanda yang sebelumnya selalu direndahkan sebagai minoritas dan dikucilkan, tidak tertarik oleh kampanye Hutu untuk melakukan pertumpahan darah, bahkan tidak ragu untuk menentangnya karena mereka yakin hal itu bukan tindakan terpuji.
“Saya tahu orang-orang di Amerika menganggap Muslim adalah teroris, tetapi untuk Rwanda mereka pejuang kemerdekaan kita selama genosida,” kata Jean Pierre Sagahutu, 37, seorang Tutsi yang masuk Islam dari Katolik setelah ayahnya dan sembilan anggota keluarganya tewas dibantai Hutu. “Saya mencoba bersembunyi di gereja, tapi ternyata itu adalah tempat terburuk untuk sembunyi. Sebaliknya, sebuah keluarga Muslim membawa saya dan mereka menyelamatkan hidupku….” . Sagahutu mengatakan bahwa ayahnya pernah bekerja di sebuah rumah sakit di mana ia ramah dengan keluarga Muslim. Mereka mengambil Sagahutu ke dalam, walaupun mereka sesungguhnya adalah suku Hutu.

Sementara pemerintah Barat khawatir bahwa pertumbuhan Islam akan diikuti dengan bahaya militansi, ada beberapa tanda-tanda Islam militan di Rwanda. Beberapa pejabat pemerintah diam-diam mengungkapkan kekhawatiran bahwa beberapa masjid menerima dana dari Arab Saudi, yang dominan sekte Wahhabi yang dianut oleh kelompok militan di bagian lain dunia. Mereka juga khawatir bahwa tingkat kemiskinan yang tinggi membuat trauma penduduk dan Rwanda dianggap lahan yang sempurna untuk ekstremisme Islam.
Tapi Nish Imiyimana, seorang imam di Ruhengeri, sekitar 45 mil barat laut Kigali, ibukota, menyatakan: “Kami memiliki cukup banyak masalah kita sendiri Kita tidak ingin ada bom yang dijatuhkan Amerika pada kita..

Imam di seluruh negeri mengadakan rapat setelah 11 September 2001, untuk menjelaskan apa artinya menjadi seorang Muslim. “Saya memberitahu semua orang, ‘Islam berarti perdamaian,” kata Imiyimana, “mengingat bahwa masjid itu penuh sesak hari itu dan mengingat track record kami, tidak sulit untuk meyakinkan mereka.”

Kenyataan itu menyulut kekhawatiran gereja Katolik. Mereka kemudian meminta saran dari para pemimpin jemaat di Roma tentang bagaimana sebaiknya bereaksi terhadap peningkatan jumlah mualaf Islam.
“Gereja Katolik memiliki masalah setelah genosida,” kata Jean Bosco Ntagugire Wahyu, yang bekerja di gereja-gereja Kigali. “Kepercayaan telah hancur. Kita tidak bisa menyeru: “orang Kristen kembali….!” Kita harus berharap bahwa iman terjadi ketika membangun kembali. ”
Untuk membantu membuat itu terjadi, gereja Katolik kini mulai menawarkan program-program pemuda dan olahraga”, kata Ntagugire. Tapi Muslim juga tak ketinggalan menjangkau, bahkan membentuk kelompok-kelompok perempuan kelas atas yang menyediakan penitipan anak dan menjadi ibu.
Pada sebuah kelas baru-baru ini, ratusan wanita berpakaian warna merah, oranye dan ungu dengan penutup kepala berkumpul di sebuah bangunan tanah liat yang gelap. Mereka berbicara tentang perjuangan pribadi mereka, atau jihad, untuk membesarkan anak-anak mereka dengan baik. Dan setelah itu, saat makan siang dari kacang-kacangan dan kaki ayam, mereka makan dengan tulus dan berbagi cerita tentang bagaimana Muslim menyelamatkan mereka selama genosida.
“Jika bukan karena umat Islam, seluruh keluarga saya akan mati,” kata Aisha Uwimbabazi, 27, yang bertobat dan ibu dari dua anak. “Saya sangat, sangat berterima kasih atas orang Islam selama genosida saya memikirkannya dan aku benar-benar merasa itu adalah hak untuk menuju jalan yang lurus…….”

Sumber :

Emily Wax (2002-11-23). “Islam Attracting Many Survivors of Rwanda Genocide”. Washington, D.C.: The Washington Post. p. A10. http://www.washingtonpost.com/wp-dyn/articles/A53018-2002Sep22.html. Retrieved 2007-12-04.

Tiemessen, Alana (2005) From Genocide to Jihad: Islam and Ethnicity in Post-Genocide Rwanda. Paper presented at the Annual General Meeting of the Canadian Political Science Association, London, Ontario.

Robert Walke (2004-04-01). “Rwanda’s religious reflections”. BBC. http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/africa/3561365.stm. Retrieved 2008-08-23.

Times Daily

U.S. Department of State. “Rwanda: International Religious Freedom Report 2002” Released by the Bureau of Democracy, Human Rights, and labor. October 7, 2002. [on-line] [available:http://www.state.gov]

Islamic Voice. “Rwanda Wakes Up To Islam.” December 1999. [on-line] [available:http://www.zawaj.com]