LONDON, — Pangeran Charles dan Pangeran Turki bin Nasser bin Abdulaziz menghadiri premier Arabia 3D di IMAX Theatre bersama dengan banyak sosok penting dari Arab dan Inggris serta tamu-tamu VIP dari dunia film, musik, seni, dan industri.

Film itu membawa penontonnya dalam sebuah perjalanan melintasi gurun pasir, monumen-monumen kuno, reruntuhan kota-kota yang hilang, naik karavan unta, melewati tenda suku Badui dan bahkan terjun ke dalam Laut Merah untuk berenang bersama ikan-ikan yang berwarna keperakan dalam IMAX 3D.

Para pemandu ahli menyajikan berbagai aspek berbeda dari kehidupan sehari-hari dan sejarah di balik tanah bergurun pasir itu: Hamzah Jamjoon, mahasiswa perfilman dari Arab Saudi yang menuntut ilmu di Universitas DePaul, Chicago, Amerika Serikat; Ni’mah Nawwab, aktivis wanita dari Arab Saudi, pemimpin pemuda, penulis, penyair, fotografer, dan pengajar yang  dijuluki sebagai  “suara kaum wanita Arab”; dan terakhir adalah arkeolog terkemuka Arab, Dr. Dhaifallah Al-Talhi, yang mengungkap kekayaan masa lalu Arab, mulai dari kebudayaan Nabataean yang  misterius hingga masa keemasan Islam. Efek visual dan narasi dari film membawa penonton dalam sebuah perjalanan waktu melalui 2000 tahun sejarah, mulai masa kuno Arab hingga ke masa kini , menggunakan CGI IMAX 3D yang terbaru.

Pemenang Academy Award, Helen Mirren, menarasikan beberapa bagian dalam film. Dua kali nomine Academy Award, Greg MacGillivray dari MacGillivray Freeman Films memproduksi dan menyutradarai film itu. Sedangkan penulis, sejarawan, dan ahli Timur Tengah, Robert Lacey bertindak sebagai konsultan.

Greg MacGillivray menjelaskan salah satu alasannya untuk membuat film itu. “Saya harap orang-orang akan tergerak oleh potret segar dari sebuah kebudayaan yang didasarkan pada ikatan keluarga yang kuat, pendidikan, dan keyakinan yang mendalam, dan sebuah bangsa yang berjuang untuk menemukan keseimbangan antara mengikuti tradisi mereka yang berharga dan menemukan cara hidup mereka sendiri yang modern.”

Arabia 3D adalah produksi besar pertama yang difilmkan seluruhnya di Arab Saudi. Para pembuat film diberi akses ke lebih dari 20 lokasi, termasuk Madain Saleh, di dalam Masjid Besar dan bahkan di dalam Makkah untuk memfilmkan berkumpulnya manusia dalam jumlah terbanyak di dunia, Haji, di mana tiga juta Muslim berkumpul untuk menegaskan kembali keyakinan mereka. Film ini adalah sebuah perjalanan ke dalam Arab yang bertujuan untuk menunjukkan kepada dunia seperti apa sebenarnya kehidupan di Arab Saudi.

Robert Lacey, penulis, jurnalis, dan sejarawan yang tinggal di Arab dan bekerja sebagai konsultan film ini, merangkumnya dengan fasih. “Film ini membangkitkan warna-warna dan tekstur yang tidak biasa dari Arab, yang dikelilingi oleh sejarah namun di saat yang sama mengalami perubahan yang dapat dirasakan.”

Tapi mungkin pembuat film muda, Hamzah Jamjoom, yang dapat menjelaskan percampuran dari teknologi film modern dan kebudayaan Arab kuno dan apa yang menurutnya penting bagi masa depan. “Saya rasa Arab memasuki masa keemasan baru dengan generasi muda ilmuwan, pemikir, dan inovator yang akan memastikan Arab memenuhi potensinya. Saya harap film ini menjadi katalis untuk perdebatan lebih lanjut, pandangan dan pemahaman yang lebih besar.” — (rin/it/©m3201005)