Rekaman video baru yang diposting di Internet baru-baru ini menunjukkan lebih banyak kekerasan yang terjadi yang dilakukan oleh pasukan komando angkatan laut Israel selama serangan brutal mematikan mereka terhadap konvoi bantuan kemanusiaan yang menuju Gaza pada bulan Mei lalu. Sementara itu, beberapa laporan mengatakan aktivis Armada kebebasan Gaza telah dirampok sebesar 3,5 juta dolar dalam bentuk uang tunai dan peralatannya juga ikut dijarah oleh militer Israel.

[http://www.dailymotion.com/video/xdncgc_la-mort-filmee-de-furkan-dogan_news]

Video ini menunjukkan tentara Israel sengaja membunuh seorang aktivis bantuan dalam serangan mereka terhadap armada Kebebasan, di mana total 20 warga sipil yang ada di kapal Mavi Marmara diyakini telah tewas dibantai pasukan Israel.

Rekaman terbaru tersebut memperlihatkan tentara Israel memukuli dan menendang warga Turki-Amerika yang sedang terluka Furkan Dogan.

Furkan Dogan, aktivis kemanusiaan yang masih berumur 19 tahun ini tewas di atas kapal Mavi Marmara setelah ditembak oleh pasukan Israel.

Sekretaris Negara Hillary Rodham Clinton mengatakan bahwa otoritas AS di Turki telah bertemu dengan ayah Dogan untuk menyampaikan belasungkawa dan menawarkan layanan konsuler AS. Dia menambahkan bahwa dua warga negara Amerika lainnya terluka dan AS terus mencari informasi tentang ketiga WN AS tsb dari Israel. Ayah Furkan mengatakan kepada Anatolia bahwa anaknya telah ditembak tembus dahinya. Namun, katanya, keluarga tidak sedih karena mereka yakin Furkan meninggal dalam kehormatan.

Jurubicara Departemen Luar Negeri PJ Crowley menyatakan  “Melindungi kesejahteraan warga negara Amerika adalah tanggungjawab mendasar pemerintah dan untuk itu kami sangat serius menanganinya,” katanya kepada wartawan. “Kami terus melakukan kontak dengan pemerintah Israel dan berusaha mendapatkan informasi lebih lanjut tentang warga negara kita.” Ia mengatakan bahwa Dogan, yang lahir di Troy, NY, telah meninggal akibat “luka tembak” namun menolak untuk mengkonfirmasikan laporan bahwa ia telah ditembak beberapa kali di kepala.  

Israel, yang telah menghadapi kritik internasional yang kuat untuk operasi militer yang gagal, memutuskan untuk tidak menuntut para aktivis dalam upaya untuk membatasi kemarahan diplomatik.

Penyerbuan dan pembantaian militer Israel pada tanggal 31 Mei telah menimbulkan kemarahan internasional, dimana masyarakat di seluruh dunia melakukan aksi massa mengutuk serangan itu.(fq/prtv)