Tag

, , ,

Ekky Imanjaya – detikMovie

https://kerajaanagama.wordpress.comJakarta – “Jika yang muslim lelakinya, ada yang bolehin menikah dengan non-Muslim, ada juga yang tidak. Nah, kalau yang Islam pihak perempuan, makin banyak yang tidak membolehkan. Tapi, saya saja sudah setua ini belum tahu jawabannya,” kata paman kepada Rosid.

Sepasang kekasih dengan perbedaan yang mencolok: sang pria, Muslim keturunan Arab yang keluarganya masih memegang tradisi keislaman dan juga kearaban yang kuat. Sang perempuan, Manado Katolik dari keluarga yang taat. Apakah hubungan mereka akan berakhir dengan bahagia?

Begitulah premis dari film ‘3 Hati 2 Dunia 1 Cinta’ karya Benni Setiawan. Dari sini saja kita bakal tahu ada masalah besar yang dihadapi mereka.

Diadaptasi dari dua novel karya Ben Sohib, ‘Da Peci Code’ dan ‘Balada Rosid dan Delia’, antara problem cinta dan etnisitas pun bercampur serta halangan pun menguat dalam film ini.

Sebagaimana diketahui, muslim keturunan Arab di Indonesia seperti Rosid (Reza Rahadian) tidak hanya selektif dalam memilih pasangan yang seagama, tapi juga harus idealnya satu suku bangsa. Mereka pun punya tradisi yang cukup berbeda dengan komunitas muslim lainnya. Sementara keluarga Delia (Laura Basuki), berdarah Manado lengkap dengan kalung salib dan lukisan ‘The Last Supper’ super gede di ruang makan. Adakah yang lebih rumit dari ini?

Ternyata ada. Keduanya sepakat untuk terus melanjutkan hubungan dan memberontak dengan lembut tapi pasti. Rosid yang kribo ini memang dikenal berbeda. Misalnya, dia tidak mau memakai peci dan baju koko karena merasa itu bukan ajaran agama tapi sekadar tradisi nenek moyang. Padahal keduanya adalah atribut wajib bagi kaum Arab.

Gaya Rosid yang berbeda dengan kaum mayoritasnya ini pun dianggap sesat. Ia kemudian didemo banyak orang.

Di sini kita disodori kisah (dan kritik seputar) orang-orang yang berbuat kekerasan atas nama agama hanya karena sang lawan dianggap berbeda. Atau, perbedaan keyakinan dan tradisi membuat Delia yang amat tertarik dengan tari Zapin menari bersama para pria. Tentu saja aksi delia ini menjadi sesuatu yang aneh karena ia bercampur dengan yang bukan muhrim.

Kedua orang tua Delia dan Rosid, dengan mengatasnamakan iman, tentu ingin memisahkan keduanya. Keluarga Rosid melakukan apa saja, termasuk praktik syirik. Salah satu yang sulit untuk ditolak adalah rencana menjodohkan Rosid dengan Nabila (Arumi Bachsin), anak asal Bosnia yang diadopsi salah satu pamannya.

Antara Rosid dan Nabila pun terjadi keakraban, mengingat keduanya suka dengan puisi. Sedangkan keluarga Delia (kedua orang tua Rosid memanggilnya dengan: Delila) hendak mengirimnya kuliah di Amerika, sesuai keinginan Delia sebelum bertemu Rosid.

Jadi, bagaimana posisi film ini terhadap isu nikah beda agama yang cukup sensitif ini? Kehati-hatian adalah jalan keluar, dan menjadi alternatif bagi ‘manusia satu dimensi’.

Film yang awalnya berjudul ‘Komidi Putar’ ini tidak hanya sekadar bercerita tentang pasangan beda agama, tetapi juga menelusuri tradisi, perbedaan antara budaya dan agama, dan juga kecintaan akan puisi.

Puisi? Ya! Sejak awal, dipaparkan Rosid sebagai sang penyair dan Rendra adalah panutannya. Lihat saja, di rumahnya ada banyak sekali foto Rendra (di samping Benyamin Sueb). Puisi-puisi Si Burung Merak ini pun menghiasi. Ketika ditanya memangnya ada orang yang mau jadi penyair setelah Rendra, dengan tegas Rosid menjawab, “Ada! Saya!.”

Boleh dibilang film ini juga bagian dari penghormatan terhadap almarhum budayawan Rendra. Tapi berbeda dengan Rangga di ‘Ada Apa dengan Cinta’ yang pendiam dan serius, Rosid sebaliknya, ia kocak dan selengekan.

Hal lain adalah nilai-nilai kekeluargaan. Lihatlah Mansyur (Rasyid Karim) sang ayah yang sangat keras menentang, tetapi begitu cinta dengan putranya. Sebaliknya, walau mbalelo, Rosid selalu ingin mengabdi pada ayah ibunya. Salah satunya adalah dengan membuatkan dan deklamasi puisi bagi keduanya. Sedangkan Muzna (Henidar Amroe), sang ibu, selalu berada di tengah-tengah, walau sebenarnya tidak setuju dengan hubungan ‘terlarang’  itu.

Film ini menegaskan akting Reza Rahadian yang ‘spesialis bikin haru’ (ingat ‘Alangkah Lucunya Negeri Ini’ dan ‘Emak Ingin Naik Haji’). Tidak kalah, Laura Basuki juga bermain apik. Jadi, siap-siap untuk tertawa dan menangis.

Selain keduanya, ‘3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta’ juga diperkuat oleh Ira Wibowo, Robbi Tumewu, Zainal Abidin Domba, Jay Wijayanto, serta penampilan khusus dari Haddad Alwi, dan pengacara kondang, Muhammad Asegaf.

Sayup-sayup, terdengar suara Rosid membacakan ‘Surat Kepada Bunda’ untuk ibunya.

Mamma yang tercinta,
akhirnya kutemukan juga jodohku
seseorang yang bagai kau:
sederhana dalam tingkah dan bicara
serta sangat menyayangiku.

(eny/eny)

Ekky Imanjaya

Ekky Imanjaya, pengulas film & redaktur rumahfilm