Memahami Toleransi :

Panorama Mesjid dan Gereja

Panorama Fajar Mesjid & Gereja di Fatih – Istanbul

Toleransi berasal dari kata tolerare berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Secara umum toleransi dapat diartikan sebagai menghargai pendirian atau sikap, keyakinan, agama, adat, kebiasaan serta budaya yang telah, dan dijalankan orang lain.

Toleransi tidak berarti mengubah sikap kita agar keyakinan, agama, adat, kebiasaan serta budaya yang dilakukan orang lain, kita ikut melakukannya, atau sebaliknya agar orang lain mengikuti kita. Akan tetapi untuk kebutuhan kehidupan bermasyarakat, toleransi itu tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus diikuti dengan kearifan dan kepantasan.

Friday midday prayers outside a nearby mosque in Spitalfields in East LondonSuasana Pelaksanaan Shalat Jum’at di Mesjid Spitalfields – East London

St Mary's Church in Cable Street

Suasana Kebaktian di St. Mary’s Church di Cable Street – East London

Kearifan itu artinya tahu menempatkan diri, tahu menempatkan diri pada posisi dimana kita harus berdiri dan apa yang harus kita lakukan. Tahu menempatkan diri pada lingkungan seperti apa kita berada. Sabar untuk membiarkan sesuatu tetap terjadi tanpa kita harus mengganggu kebiasaan atau adat yang sudah berjalan. Itulah kearifan.

Yang ketiga kepantasan, kepantasan untuk adanya keseimbangan secara proporsional, maka toleransi itu ada ukurannya sesuai kepantasan. Nilai-nilai inilah yang paling banyak dilanggar dalam pengertian toleransi.

Satu contoh :

Saya seorang Muslim yang andai kata saya kaya dan bertempat tinggal di Bali. Sungguh tidak pantas bila saya mendirikan masjid yang besar, melebihi kepentingan/kebutuhan umat Islam yang ada disana. Apa lagi bila Masjid saya dirikan ditengah – tengah banjar, dimana warganya mayoritas beragama Hindu. Itu artinya melanggar kepantasan.

Sebetulnya hak azazi saya dilindungi, bila tanah itu milik saya sendiri. Bila ditinjau dari hak azazi maka maka saya menuntut umat Hindu yang ada disekitar rumah saya untuk menghargai hak saya, untuk bertoleran terhadap kepentingan saya toh saya tidak memaksa mereka harus datang ke masjid saya. Secara hukum saya juga tidak bisa diganggu. Pada saat pengadilan setempat tidak mengijinkan saya membangun masjid dengan alasan kepantasan, maka di Mahkamah Agung akan membuktikan hak saya dilanggar. Tidak heran bila saya akan memenangkan perkara.

Meminjam tanggapan Sdr. Sachrul Yanuar pada artikel Toleransi Itu Produk Basi tulisan Sdr. Arloren Antoni

………………………………………………………………………………………….

56.000 GEREJA:

Jumat sore kemarin, Pak Jusuf Kalla memimpin rapat DMI. Sehabis magrib sambil duduk santai di teras kantor DMI beliau cerita dihadapan saya, Pak Sofyan Jalil, Imam Daruqutni dan beberapa yang lain bahwa baru saja ceramah di Makasar dalam konferensi gereja dihadapan 700 pendeta. Dalam sesi tanya jawab ada yg tanya tentang gereja di Yasmin Bogor. Beliau jawab: “Anda ini sudah punya 56.000 gereja seluruh Indonesia tidak ada masalah, seharusnya berterima kasih, pertumbuhan jumlah gereja lebih besar daripada masjid, kenapa urusan satu gereja ini anda sampai bicara ke seluruh dunia?. Toleransi itu kedua belah pihak, anda juga harus toleran. Apa salahnya pembangunan dipindah lokasi sedikit saja, Tuhan tidak masalah kamu mau doa dimana. Izin Membangun gereja bukan urusan Tuhan, tapi urusan walikota. Begitu khasnya Pak JK dengan nada yang tinggi.

…………………………………………………………………………………………………………..

Inilah nada bicara seorang JK, Posisi beliau disana duduk sebagai seorang ayah, seorang Bapak. Nada seorang Bapak pada anak-anaknya . Beliau tidak hanya sekedar bicara tentang toleransi tapi juga sekaligus mengajarkan kearifan dan kepantasan.

…………………………………………………………………………………………………………….

Ada lagi yang tanya: “Mengapa di Kantor-Kantor Mesti ada masjid?.”  Dengan tegas Pak JK menjawab: “Justeru ini dalam rangka menghormati anda. Jumat kan tidak libur, anda libur hari Minggu untuk kebaktian. Anda bisa kebaktian dengan 5 kali Shift, ibadah Jumat cuma sekali. Kalau anda tidak suka ada masjid di kantor, apa anda mau hari liburnya ditukar, Jumat libur, minggu kerja. Pahami ini sebagai penghormatan umat Islam terhadap umat kristen.

………………………………………………………………………………………………………………………

Ini betul-betul seperti kata-kata seorang ayah pada anak – anak nya, bila anaknya yang kecil iri terhadap kakaknya. Inilah ujud dari kearifan seorang ayah untuk menyelesaikan masalah yang tumbuh pada anak-anaknya. Mengajarkan arti keadilan yang sebenarnya , bahwa keadilan itu tidak sama dalam ujud akan tetapi sama dalam arti proporsional.

Apa bila kata-kata JK dipandang dari sudut pandang hak azasi atau hukum, maka arti toleransi itu akan langsung hilang , karena yang menjadi tuntutan disana adalah kebenaran hukum dan individu.

Kalau dipandang dari kacamata politik, maka JK bisa dianggap tidak sesuai dengan kapasitasnya sebagai Tokoh Nasional. Bahkan akan ada yang secara ekstrim (extreem ) punya anggapan bahwa kemampuan JK ternyata hanya begitu, tidak layak diclonkan Presiden.

Bukan dalam rangka memberikan dukungan terhadap JK untuk 2014, akan tetapi apa yang dikatakan JK adalah pengertian sebenarnya dari arti toleransi yang sekaligus terangkai dengan kearifan serta kepantasan. (Ibnu Dawam Aziz)

Sumber://sosbud.kompasiana.com/2013/03/10/memahami-toleransi–541539.html