”Apa yang terjadi padamu?” Pertanyaan itu kerap menerpanya ketika bertemu mantan teman-teman sekolah, kolega dan pendeta ketika mengetahui dirinya telah memeluk Islam. Mereka tak habis pikir mengapa Sue Watson, seorang profesor, pendeta, misionaris, yang bahkan pantas disebut sebagai fundamentalis radikal, kini menjadi seorang Muslimah.

“Dulu, saya biasa menamatkan membaca setiap Alkitab setahun sekali selama 12 tahun. Saya rutin melakukan ini guna memenuhi kebutuhan bahan berkhotbah, mengajar dan melakukan berbagai penelitian. Dalam periode itulah saya temui beberapa kontradiksi. Sebagai contoh, kami mengajarkan doktrin dosa waris yang mengacu pada Kitab Kejadian 3 tetapi hal itu bertentangan dengan Yehezkiel 18:1-22. Jika doktrin dasar ini salah, maka seluruh fondasi Kekristenan jatuh. Saya menemukan hal-hal seperti itu dari apa yang saya baca, dan saya selalu berhenti untuk merenungkannya, namun sayangnya tak pernah punya kesempatan untuk menelitinya lebih jauh karena kesibukan studi saya, dll. Ya, selama 8 tahun studi, kami membaca habis Alkitab, Bab-demi-bab, ayat demi ayat; namun, kami tidak pernah melakukan studi silang sehingga setiap kontradiksi yang begitu terang tidak pernah dibahas. Demikian pula saat kami pelajari sejarah faktual gereja yang bukan dari Alkitab. Di titik itu saya mulai berpikir tentang doktrin Kristen yang tidak ada semasa Yesus melainkan baru muncul 325 tahun kemudian melalui doktrin Trinitas. Kata “Trinitas” sendiri sama sekali tidak ditemukan dalam Alkitab manapun di dunia, juga tidak ditemukan dalam bahasa Yunani dan Ibrani yang merupakan bahasa asli Alkitab. Doktrin ini [Trinitas] digulirkan pada Konsili pertama dari 4 Konsili yang menentukan Kekristianan sekarang, namun karena Katolik tidak bersedia menerima saat itu, maka 68 tahun kemudian di Konsili 2 Nicaea doktrin tersebut digulirkan kembali bersama doktrin Penjelmaan yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan sekaligus sebagai manusia, doktrin Perdamaian atau pengorbanan sempurna, yang perumusannya memakan waktu lebih dari 100 tahun,” paparnya.

“Saya adalah orang yang selalu haus untuk mengenal lebih banyak tentang Tuhan. Suatu ketika saya datangi Profesor saya dan katakan: “Seharusnya lebih banyak nilai Kekristenan yang dapat kita ajarkan dibanding yang kita ajarkan sekarang. Kita mesti mengajarkan orang-orang untuk “lahir kembali” (artinya Anda telah membuat pernyataan pribadi dan berkomitmen untuk meminta Yesus Kristus masuk ke dalam hatimu, mengampuni dosa-dosa dan menjadikan Anda sebagai sosok baru), atau Anda harus “hidup dalam Roh Kudus”-sebagai pelengkap dari “lahir kembali” (dimana orang akan mengalami “glossolalia” atau berbicara dalam bahasa roh). (Aku mengalami keduanya, meskipun hal ini tidak diharuskan oleh gereja-gereja Kristen maupun denominasi lainnya.) Selanjutnya ku katakan: “Betapa banyak pertentangan dan perbedaan teologis antar denominasi. Protestan tidak mengakui Katolik sebagai Kristen karena Katolik menyembah Maria dan berbagai orang suci. Baptis tidak memiliki “persekutuan” dengan non-Baptis. Selain itu, ada Methodist, Wesleyan, Presbyterian, Kongregasi, gereja-gereja Pantekosta serta ribuan gereja independen yang tidak termasuk denominasi manapun. Mereka semua berbeda dalam doktrin atau penafsiran Alkitab. Aku rasa jika yang kita ajarkan adalah ajaran murni, pasti denominasi tak akan ada. Kita harus melakukan perubahan mendasar dalam mencerdaskan masyarakat kita. Jika tidak, masyarakat akan terjerumus dalam kondisi yang lebih terpuruk bahkan lebih buruk dibanding 50 tahun yang lalu, termasuk diantaranya Negara-negara yang menamakan diri Negara Kristen”. Profesor saya diam seribu bahasa dan tak kuasa mengatakan apapun……….”

“Walau bagaimana saya terus melangkah hingga meraih gelar Masters of Divinity (gelar dalam teologi) tahun 1993. Sebulan setelah lulus, saya memutuskan untuk belajar bahasa Jerman. Seorang teman kelas saya adalah seorang dokter medis yang telah menghabiskan 6 tahun di Dubai. Kami berteman baik dan dia kerap bertanya padaku tentang perjanjian lama. Saya, juga, sering bertanya padanya tentang budaya Timur Tengah. (Aku tak pernah tertarik pada Islam, meskipun bidang utama studi saya adalah misionaris. Kami punya mata kuliah tentang Islam, Buddha, Hindu, Animisme dan Katolik berikut cara-cara pemujaannya. Minat saya lebih pada Animisme, atau ibadat kesukuan) Saat bergaul bersamanya aku melihat dia berbeda. Dia selalu berdoa, tetapi dalam konteks Kristen. Ketika kami keluar, dia selalu memberi uang kepada para pengemis. Ia bahkan menyediakan kantong plastik khusus berisi koin di dalam mobilnya guna keperluan itu. Suatu ketika saya bilang padanya bahwa jika saja saya tidak mengenal dia, saya tentu akan berpikir bahwa dia adalah Muslim. Saya cukup terkejut ketika dia mengaku bahwa ketika ia di Dubai, ia telah memeluk Islam, namun ia tak pernah mengatakan hal itu kepada keluarganya. Ketika ia kembali ke Filipina, dia murtad dan tak lagi beribadah secara Islam. Keluarga dia adalah pemeluk Katolik, meski begitu ia sendiri tidak lagi berafiliasi dengan Gereja Katolik manapun dan bukan pula Protestan,” lanjutnya.

“Hampir dalam rentang waktu yang sama saya kembali berjumpa orang Filipina yang masuk Islam saat bekerja di Arab Saudi. Aku tinggal di Manila pada saat itu, dan meskipun disana ada Muslim, aku sama sekali tak terpikir untuk mencari mereka. Saya pikir ini agak aneh bahwa saya ternyata bertemu dengan dua orang yang tiba-tiba menjadi Muslim dalam waktu singkat. Menyadari bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan sehari-hari, dengan setengah bercanda saya berkata: “Oke, Tuhan, apa yang Anda coba lakukan untuk memberitahu saya?” Demikian kisahnya.

Tapi itulah jalan hidup. Hidayah menghampiri Watson dan membuatnya tertarik pada Islam, bahkan akhirnya memeluk agama yang diturunkan melalui Nabi Muhammad SAW ini.

Lima bulan setelah mendapatkan gelar Master of Divinity (Ketuhanan) dari sekolah seminari ternama, dia bertemu seorang wanita yang pernah bekerja di Arab Saudi dan telah memeluk Islam. Jiwa misionaris Watson muncul. Dia mencoba tanyakan berbagai hal kepada wanita itu dengan maksud menjalankan misi kristennya antara lain tentang perlakuan Islam terhadap wanita. ”Saya terkejut mendengar jawabannya. Jawaban itu bukan yang saya harapkan, jadi saya bertanya lagi tentang Tuhan (Allah SWT) dan Muhammad,” ujarnya. Namun wanita itu tidak mau menjawab pertanyaan tersebut dan mengajak Watson ke Islamic Center karena di sana ada orang yang bisa menjawab pertanyaan itu dengan lebih baik”.

Delapan tahun Watson kuliah di sekolah teologi. Sebagai seorang penganut Kristen yang taat, dia memandang Islam sebagai agama setan. Dalam setiap doanya, dia meminta kepada Yesus agar dilindungi dari roh-roh jahat. Namun setelah peristiwa di atas dan berdialog di Islamic Center tersebut, dia seperti mendapatkan pandangan lain tentang Islam. ”Saya cukup terkejut dengan pendekatan mereka (umat Islam), karena langsung dan lugas. Tidak ada intimidasi, pelecehan (terhadap agama lain), dan tak ada manipulasi psikologis,” kisahnya.

Bahkan, Watson menceritakan, ulama atau ustadz di Islamic Center itu menawarkan dirinya untuk mempelajari Alquran di rumahnya. ”Ini seperti studi tandingan untuk Alkitab. Saya tak percaya, mereka kemudian memberikan beberapa buku mengenai Islam dan mengatakan jika saya memiliki pertanyaan maka mereka bersedia menjawabnya di kantor,” katanya.

Malamnya, Watson langsung membaca semua buku itu. Itulah untuk kali pertama, dia membaca buku tentang Islam yang ditulis oleh seorang Muslim sendiri. Selama ini, dia hanya membaca buku-buku mengenai Islam yang ditulis oleh orang Kristen. Keesokan harinya, dia kembali menemui Ustadz itu untuk menanyakan beberapa hal mengenai Islam yang didapatnya dari membaca buku itu. Hal itu terus terulang setiap hari selama sepekan, hingga tanpa terasa dia telah membaca sebanyak 12 buku dalam tempo 7 hari itu.
Dari situ, dia mulai memahami mengapa Muslim itu menjadi orang yang paling sulit di dunia untuk diajak memeluk Kristen. ”Mengapa? Karena tak ada lagi yang bisa ditawarkan kepada mereka (Muslim). Islam mengajarkan hubungan dengan Tuhan, pengampunan dosa, keselamatan, dan janji kehidupan yang kekal,” paparnya.

Selama menjalani proses dialog itu, secara alamiah, pertanyaan pertamanya terpusat kepada Allah, Tuhan-nya umat Islam. Siapakah Allah yang disembah kaum Muslim ini? Sebagai seorang Kristen, dia diajarkan bahwa Allah SWT itu merupakan Tuhan palsu. Namun setelah membaca buku Islam dan berdialog, dia baru mengetahui bahwa Allah itu Maha Kuasa, Maha Mengetahui, dan Allah itu Esa. Tak ada Tuhan lain yang mendampingi Allah.

Lantas, pertanyaan penting tentang Muhammad. Siapa Muhammad ini? Dia kemudian mengetahui bahwa umat Muslim tidak berdoa kepada Muhammad sebagaimana orang Kristen berdoa kepada Yesus. Dia (Muhammad) juga bukan seorang perantara, sehingga umat Islam dilarang berdoa kepadanya. Selanjutnya dia juga mengetahui bahwa umat Islam pun percaya pada Yesus sebagai nabi seperti halnya Muhammad. Menurutnya, banyak kesalahpahaman dari penganut Kristen tentang Islam.

Tanpa disadarinya, dia mulai mengakui kebenaran Islam. ”Tapi saya tidak serta merta beralih memeluk Islam pada waktu itu karena saya belum percaya sepenuhnya di dalam hati. Saya terus pergi ke gereja, membaca Alkitab, tapi di sisi lain juga belajar Islam di Islamic Center. ”Saya benar-benar meminta petunjuk Tuhan, karena tak mudah untuk pindah agama. Saya tak mau kehilangan keselamatan,” ucapnya.

Dua bulan setelah proses pengenalannya tentang Islam, Watson masih terus meminta kepada Tuhan agar diberikan petunjuk. Hingga akhirnya, suatu ketika, dia merasakan ada sesuatu yang jatuh meresap ke dalam dirinya. ”Saya lantas terduduk, dan itulah untuk kali pertama saya menyebut nama Allah SWT. Ada kedamaian yang dirasakan. Dan sejak itu, empat tahun lalu hingga sekarang, saya percaya bahwa Engkaulah satu-satunya Tuhan dan hanya Engkau Tuhan yang sesungguhnya,” tuturnya.

Keputusannya untuk memeluk Islam bukannya tanpa risiko. Setelah menjadi mualaf, Watson dipecat dari pekerjaan sebagai pengajar di dua Perguruan Tinggi Kolese; dikucilkan oleh mantan teman-temannya di sekolah Teologi dan sesama profesor teologi; dan tidak diakui lagi oleh keluarga suaminya. Pilihannya itu juga disikapi negatif oleh anak-anaknya yang sudah dewasa serta dicurigai oleh pemerintahnya sendiri.

”Tanpa adanya kekuatan iman, mungkin saya sudah tak sanggup menghadapi itu semua,” ujarnya. ”Saya sangat berterima kasih kepada Allah SWT yang telah menjadikan saya sebagai Muslim. Dan saya berharap hidup dan mati sebagai Muslim.”

Sue Watson mantan misionaris yang kini telah berganti nama menjadi Khadijah Watson itu, sekarang bekerja sebagai guru untuk melayani kalangan perempuan di salah satu pusat dakwah di Jeddah, Arab Saudi.