Kembang-Api-Dubai03

Perayaan Tahun Baru awalnya adalah perayaan ritual keagamaan dalam kepercayaan kaum Pagan (penyembah berhala) di masa lalu. Perayaan Tahun Baru selaku bagian tak terpisahkan dari ritual keagamaan, umumnya disambut dan diselenggarakan secara meriah oleh komunitas pemeluk agama/kepercayaan terkait. Mengingat sifat perayaan Tahun Baru yang spesifik tersebut, momentum dan karakteristik perayaan Tahun Baru suatu komunitas kerap berbeda dengan perayaan Tahun Baru komunitas lainnya.

Di Jepang, perayaan tahun baru merupakan salah satu upacara penghormatan terhadap arwah leluhur. Sewaktu merayakan tahun baru, arwah leluhur dipercaya datang sebagai Toshigami (年神?, Dewa Tahun) yang dipercaya sebagai pemberi berkah dan kelimpahan sepanjang tahun. Bangsa Jepang, awalnya menggunakan sistem kalender Tionghoa. Mereka merayakan tahun baru pada awal musim semi bersamaan dengan tahun baru Imlek, tahun baru Korea, dan tahun baru Vietnam. Tahun 1873, pemerintah Jepang mulai menerapkan sistem kalender Gregorian, dan sejak itu acara Tahun Baru mereka rayakan tanggal 1 Januari.

Di Brazil, di setiap tanggal 1 Januari tengah malam orang berbondong-bondong menuju pantai dengan mengenakan pakaian putih bersih. Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap Dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Lain halnya dengan Bangsa Israel, mereka mengenal 4 momen Tahun Baru yang masing-masing jatuh pada tanggal:

  • Nisan (bulan pertama) sebagai tahun baru agama sekaligus tahun baru kalender Yahudi;
  • 1 Elul (bulan ke-6) sebagai tahun baru sepersepuluh lembu, atau disebut juga sebagai hari ulang tahun seluruh hewan-hewan;
  • Tisyri (bulan ke-7) (Rosh Hashanah) sebagai tahun baru masyarakat sipil dan para raja, sehingga bulan ini lebih disebut sebagai bulan pertama. Sebagai bulan ke-7, bulan ini menempati posisi sebagai Sabat bulan-bulan dan dikhususkan untuk mengingat Allah dan alam semesta.
  • 15 Syebat (bulan ke-11) sebagai tahun baru tanaman (Rosh ha-Shanah la-Ilanot)(disebut juga hari raya Tu B’Shevat);
  • (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Hari-hari_raya_Yahudi)

Hingga saat ini berdasarkan kepercayaan, agama dan sistem kalender yang dipergunakan dikenal beberapa momen Tahun Baru yang berbeda-beda a.l.:

  • Tahun baru Tiongkok (Imlek) setiap malam bulan baru pada musim dingin (antara akhir Januari hingga awal Februari).
  • Tahun baru Thailand (Songkran-Wan Nao) mulai tanggal 13 April – 15 April.
  • Tahun baru Ethiopia tanggal 1 Maskarram (11 September).
  • Tahun Baru Islam tanggal 1 Muharam.
  • Tahun Baru MASEHI 1 Januari.
  • Tahun Baru Baha’i (Naw Ruz) tanggal 21 Maret.

Tahun Masehi yang berbasis kalender Gregorian, mengadopsi tanggal 1 Januari sebagai momen Tahun Baru. Dengan meluasnya penggunaan kalender Gregorian sebagai kalender universal komunitas internasional, hampir semua orang di berbagai pelosok dunia menjadikan 1 Januari sebagai awal Tahun Baru sekaligus hari besar penting untuk di peringati dan dirayakan secara meriah.

Kalender Masehi, sekarang ini tidak saja digunakan oleh negara atau komunitas Kristen saja, melainkan juga oleh negara-negara lain yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda dan secara formal menerapkan sistem kalender sendiri. Hal ini mau tidak mau membawa masyarakat di negara bersangkutan ikut bersinggungan dengan momen Tahun Baru Masehi ini. Lebih dari itu, keadaan ini membuat masyarakatnya sulit menghindarkan diri dari keikutsertaannya memeriahkan perayaan Tahun Baru Masehi. Itulah yang terjadi dengan beberapa negara Islam Teluk (GCC) semisal UAE dan Kuwait. Hal itu bisa dilihat dari keseriusan Penguasa Kuwait maupun Dubai – UAE dalam mempersiapkan perayaan detik-detik pergantian tahun 2014 baru-baru ini.

 Kembang-Api-Dubai-02

Demi melampaui rekor Guiness pertunjukan kembang api perayaan Tahun Baru yang dicapai Kuwait tahun 2011, Penguasa Dubai tak sungkan menghamburkan  dana sebesar US $ 6,7 juta (k.l. Rp. 80,4 milyar), untuk menghelat pesta kembang api spektakuler berdurasi 6 (enam) menit menyambut tahun baru 2014.

Pertunjukan kembang api yang berlangsung selama selama 6 menit tsb dirancang selama 10 bulan menggunakan 100 komputer yang melibatkan 200 orang teknisi, menghabiskan 500.000 kembang api dan 400,000 kali peluncuran dari 400 titik. Upaya tersebut berhasil memecahkan rekor Guiness sebagai pesta kembang api paling spektakuler melampaui rekor Kuwait tahun 2011 yang berhasil menayangkan pertunjukan kembang api selama satu jam yang menghabiskan 77.282 kembang api.

http://www.youtube.com/watch?v=US_JlgUQaqY

Pancaran utama kembang api dipadukan dengan semburan air mancur menari berlangsung di kompleks Burj Khalifa dan hotel mewah Atlantis terletak di Palm Jumeirah, menara tertinggi di dunia ditengah pulau buatan terbesar. Orang-orang yang hadir merayakan pergantian tahun ini terlihat sorak-sorai bergembira dan terpesona, tak terkecuali umat muslim yang nota bene memiliki momen Tahun Baru sendiri, ikut bergembira tanpa berusaha  mencari tahu tentang esensi perayaan 1 Januari tersebut.

Terlepas dari itu, apa sebetulnya dasar dan tujuan penetapan 1 Januari sebagai momentum Tahun Baru?

SEJARAH PERAYAAN TAHUN BARU

Zaman dulu kala orang menetapkan awal tahun berdasarkan awal musim panen. Mereka mengadakan upacara sebagai penyucian diri menyongsong tahun baru. Sebagian orang memadamkan api yang digunakan saat itu dan menyalakan api yang baru untuk digunakan selanjutnya.

Jika sebelumnya kalender Romawi kuno menggunakan tanggal 1 Maret sebagai Hari Tahun Baru, pada abad ke-46 SM, Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai hari permulaan Tahun Baru. Orang Romawi mempersembahkan hari ini (1 Januari) kepada Dewa Janus, Dewa segala gerbang, pintu-pintu, dan permulaan (waktu). Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah – sebuah wajahnya menghadap ke (masa) depan dan sebuahnya lagi menghadap ke (masa) lalu.

Dalam mitologi Romawi, Dewa Janus adalah sesembahan kaum Pagan Romawi dimana pada peradaban sebelumnya di Yunani telah disembah sosok yang sama bernama Dewa Chronos. Sejarah pelestarian budaya Pagan (penyembahan berhala) sudah ada semenjak zaman Hermaic (3600 SM) di Yunani. Bulan Januari (bulan Dewa Janus) ditetapkan setelah Desember karena Desember adalah pusat Winter Soltice, yaitu hari-hari di mana kaum pagan penyembah Matahari merayakan ritual mereka di musim dingin dan merayakan hari kelahiran Mithra anak Dewa Matahari, tanggal 25 Desember.

Bangsa Romawi saling berbagi potongan ranting pohon suci Mistletoe sebagai hadiah Tahun Baru. Mereka juga saling berbagi hadiah kacang berlapis emas atau koin bergambar Janus (http://www.worldbookonline.com/wbdiscover/article?id=ar831235&st=january+new+year+)

Janus03

Kaum Pagan merayakan Tahun Baru mereka (atau Hari Janus, 1 Januari) dengan menari-nari mengitari api unggun, menyalakan kembang api, bernyanyi bersama, memukul lonceng dan meniup terompet.

Di belahan dunia lainnya, bangsa Persia yang beragama Majusi (penyembah api), juga menjadikan tanggal 1 Januari sebagai hari raya yang dikenal dengan hari Nairuz atau Nurus. Dalam perayaan itu, mereka menyalakan api dan mengagungkannya, kemudian orang-orang berkumpul di jalan-jalan, halaman dan pantai, bercampur baur antara lelaki dan wanita, saling mengguyur sesama mereka dengan air dan minuman keras. Mereka berteriak-teriak dan menari-nari sepanjang malam.

Orang-orang Keltik, banyak mengadopsi tradisi tahun baru orang-orang Romawi, yang menduduki kepulauan Inggris tahun 43 Masehi. Para pendeta Keltik juga memberikan potongan dahan mistletoe, yang dianggap suci, kepada umat mereka.

Pada tahun 457 Masehi Gereja Kristen MELARANG tradisi dan ritual tahun baru ini yang mereka anggap merupakan kebiasaan kafir (penyembah berhala), dan menetapkan tanggal 25 Maret, hari raya Kenaikan Tuhan umat Kristen sebagai Tahun Baru.

Namun demikian, tahun 1200-an pemimpin-pemimpin Inggris kembali mengadopsi kebiasaan Romawi yang mewajibkan rakyat mereka memberikan hadiah tahun baru. Para suami di Inggris memberi uang kepada para istri mereka untuk membeli bros sederhana (pin). Tahun 1600, negara-negara barat yang mulai memberlakukan sistem penanggalan Gregorian, juga kembali menetapkan 1 Januari sebagai awal Tahun Baru. Inggris dan koloni-koloninya di Amerika Serikat ikut menggunakan sistem penanggalan tersebut pada tahun 1752.

Kebiasaan memberikan hadiah pada perayaan Tahun Baru ini hilang di tahun 1800-an, namun istilah pin money, yang berarti sedikit uang jajan, tetap digunakan. Banyak orang-orang koloni di New England, Amerika, yang merayakan tahun baru dengan menembakkan senapan ke udara dan teriak, sementara yang lain mengikuti perayaan di gereja atau pesta terbuka.

(http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/id/about-us/embassy-information/holidays_id/hari-tahun-baru.html)

Dari berbagai catatan sejarah yang ada, tak dapat dipungkiri bahwa penetapan tanggal 1 Januari sebagai Tahun Baru, adalah kelanjutan dari ritual penyembahan  Dewa Janus dalam kepercayaan Pagan Romawi Kuno yang berhasil masuk dalam kepercayaan umat Kristiani baik atas keputusan Julius Caesar selaku Penguasa Romawi, maupun oleh upaya pihak-pihak tertentu yang secara intens mengupayakan lestarinya pemujaan terhadap Dewa Janus berikut ritual yang menyertainya.