Boston

BOSTON, KOMPAS.com — Hakim federal AS dijadwalkan akan secara formal menjatuhkan vonis hukuman mati untuk pelaku bom Maraton Boston, Dzhokhar Tsarnaev (21), dalam sidang yang digelar pada Rabu (24/6/2015) waktu setempat.

Pemuda berdarah Chechnya yang resmi menjadi warga negara AS pada 2012 itu selama persidangan nyaris tak berbicara. Bahkan hingga para juri mengajukan hukuman mati pada 15 Mei lalu, Dzhokhar tetap tak bersuara.

Dalam sidang yang digelar selama 12 pekan itu, Dzokhar hanya menunjukkan sedikit emosi atau mengucapkan penyesalan atas perbuatannya.

Para korban dan keluarga mereka diperkirakan bakal menghadiri sidang. Dalam sidang itu, hakim George O’Toole kemudian akan menjatuhkan vonis hukuman mati yang diputuskan secara mutlak oleh ke-12 juri.

Dari ke-12 juri, hanya tiga orang yang berpendapat bahwa Dzhokhar beraksi karena pengaruh kakaknya. Sementara hanya satu anggota juri yang yakin bahwa Dzhokhar tidak akan melakukan kekerasan jika dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Para juri juga menolak argumen kuasa hukum Dzhokhar yang menyebut pemuda itu adalah produk dari sebuah keluarga berantakan dengan ayah yang menderita gangguan mental.

Dua buah bom meledak di ajang Maraton Boston pada 15 April 2013 yang merupakan serangan terburuk di wilayah AS sejak tragedi 11 September 2011.

Aksi yang dilakukan Dzhokhar dan kakaknya, Tamerlan, itu menewaskan tiga orang dan melukai 264 orang lainnya dengan 17 orang kehilangan lengan atau kaki mereka.

Setelah melakukan aksinya, Tsarnaev bersaudara kemudian melarikan diri dan sempat membunuh seorang polisi. Empat hari kemudian dalam baku tembak dengan polisi, Tamerlan tewas dan Dzhokhar ditangkap.

Dzokhar ditangkap dalam kondisi terluka di dalam sebuah perahu. Saat ditangkap, pemuda ini memegang sebuah pesan yang berisi serangan itu merupakan pembalasan atas aksi militer AS di Irak dan Afganistan.

Ban Ki Moon
Metrotvnews.com, Boston: Dzhokhar Tsarnaev, pelaku bom dalam sebuah acara lari Maraton di Boston telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di Amerika Serikat, Jumat kemarin.

Apakah Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, yang sempat mengecam eksekusi mati di Indonesia, juga akan menyampaikan sikap serupa kepada Negeri Paman Sam?

“Menarik untuk diamati bagaimana Sekjen PBB, Ban Ki Moon, bersikap. Apakah Ban berani mengeluarkan kritik dan ceramahnya kepada AS sama ketika Indonesia akan melaksanakan hukuman mati atas Andrew Chan dan Myuran Syukumaran?,” tanya Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, dalam rilis yang diterima Metrotvnews.com, Minggu (17/5/2015).

“Ataukah Ban Ki Moon akan diam seribu bahasa dengan alasan yang menjatuhi hukuman mati tersebut adalah negara besar AS, atau dengan alasan bahwa hukuman mati pantas dilakukan terhadap pelaku teror, atau karena pelaku teror adalah WN AS yang berasal dari Kyrgyztan yang mayoritas beragama Islam? Jawaban ini semua terpulang pada Sekjen PBB,” sambung dia.

Jika pada akhirnya Ban tidak berkomentar, maka menurut Hikmahanto orang nomor satu di PBB itu sudah terbukti memihak kepada negara tertentu.

“Ini menjadi pelajaran bagi siapapun penyelenggara di bidang urusan luar negeri agar tidak sekali-kali gentar dengan kritikan dan tekanan dari luar negeri, termasuk PBB,” tutup Hikmahanto.

Sumber :