hijrah

Hijrah bisa mempunyai dua arti, yaitu hijrah makani/an sich (hijrah secara fisik atau berpindah tempat) dan hijrah maknawi (hijrah dalam arti filosofis).
Hijrahnya Rasulullah dimaknai sebagai hijrah secara fisik atau tempat.

Raqib Al-Ishfahani, seorang pakar leksikografi Al Qur’an, memberikan makna hijrah ke dalam tiga arti yaitu :

1. Meninggalkan negeri (yang mayoritas berpenduduk/pemerintahan) non muslim ke negeri yang berpenduduk muslim
2. Meninggalkan akhlak buruk atau perbuatan tercela kepada kebaikan (akhlakul karimah)
3. Menundukkan hawa nafsu untuk martabat kemanusiaan (mujahadah an-nafs)

Hijrah Rasulullah :

Selama k.l. 13 tahun, Rasulullah saw. dan para pengikutnya mengalami tekanan dan siksaan sangat pedih di Mekkah. Hak kemerdekaan mereka dirampas, diusir, dikucilkan, harta benda disita dan diembargo secara ekonomi dimana segenap penduduk Mekkah dilarang bertransaksi dengan kaum muslimin. Siksaan pedih berupa dera cambuk sangat meresahkan para sahabat dan kaum muslimin pada umumnya.
Semenjak penindasan orang-orang kafir Quraisy terhadap umat Islam semakin menjadi-jadi, Rasulullah saw. menginstruksikan para sahabat untuk segera berhijrah ke Yastrib sementara beliau bersama Abu Bakar ra, dan Ali bin Abi Thalib ra tetap tinggal. Melihat hal itu, orang2 memperkirakan bahwa Nabi saw. akan terus di Mekah guna melanjutkan perjuangannya.

Namun ketika kaum Quraisy akhirnya sepakat utk menangkap dan menghabisi nyawa Rasulullah saw., Allah mengutus malaikat Jibril dan memberitahu Rasulullah saw. tentang persekongkolan kaumnya. Dia menyuruh Rasulullah meninggalkan Mekkah sekaligus menetapkan waktu hijrahnya. “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (Q.S. al-Anfal/8:30)

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS An Nisaa’ 4:100)

Jadi hijrahnya Rasulullah dari Mekkah ke Medinah tak lepas dari wujud ketakwaan dan ketaatan Rasulullah saw terhadap Allah swt, konsisten dalam melaksanakan perintah dan ketawakalan dalam menjalani cobaan guna mencapai kehidupan yg diridhoi-Nya.

Dalam hal tahun Hijriyah sebagai penanggalan Islam, ada 4 (empat) hal penting yg mengemuka yaitu:

1. Pentingnya keberadaan sistem penanggalan Islam bagi tatanan kehidupan masyarakat dan manajemen pemerintahan Islam
2. Pentingnya makna dan momentum Hijrah Rasulullah bagi pengembangan Islam
3. Keistimewaan bulan Muharram bagi umat Islam (“Syahrullah” – bulan Allah)
4. Pentingnya musyawarah mufakat dlm ukhuwah Islamiyah

Mengacu pada hal2 tsb dan berdasarkan kesepakatan yg dihasilkan dalam musyawarah para sahabat Rasulullah, maka Khalifah Umar bin Khattab selaku Kepala Pemerintahan, di tahun ke-4 kekhalifahan beliau atau 17 tahun setelah peristiwa hijrah, meresmikan pemberlakuan Tahun Hijriyah dan menetapkan tanggal 1 Muharram sebagai permulaan Tahun dalam sistem penanggalan Islam.

Wallahu’alam