HIPOKRIT

hypocrite-1

Hipokrit menurut KBBI adalah munafik, orang yang suka berpura-pura. Oxford Advanced Learner’s Dictionary, mendefinisikan kata hipokrit sebagai “a person who pretends to have moral standards or opinions that they do not actually have” – orang yang berpura-pura memiliki standar moral atau opini yang sebenarnya tidak ia miliki. Dengan kata lain, hipokrit adalah karakter dimana aktualisasi perbuatan seseorang bertolak belakang dengan jatidiri yg sebenarnya.

Dalam ilmu jiwa modern, sosok manusia hipokrit dikategorikan sebagai sosok yang sedang sakit. Dirinya seolah-olah terbelah menjadi dua sosok yang saling bertentangan. Figur yang satu merepresentasikan “outer personality” yang tampil dan berbicara di hadapan publik; sementara figur lainnya merepresentasikan “inner personality” yang hanya diketahui oleh dirinya sendiri.

Dalam mitologi Romawi dikenal sosok dewa bernama Janus yang memiliki 2 wajah. Ia diyakini bisa melihat masa depan, juga masa lampau. Di satu sisi ia dipuja sebagai Dewa yg mendatangkan kebaikan, sedang di sisi lain ia ditakuti sebagai Dewa penyebab kehancuran. Sosok Janus yang memiliki 2 kepribadian secara perlahan namun pasti menorehkan pengaruh besar dalam pola pikir dan kehidupan masyarakat Romawi dan dunia barat umumnya. Itu sebabnya pada abad ke-46 SM, Penguasa Romawi Julius Caesar menetapkan 1 Januari sebagai Tahun Baru sebagai penghormatan sekaligus bagian dari ritual pemujaan terhadap Dewa Janus

Janus03Dewa Janus

Hipokratisme sosial akhirnya berkembang sejak lama dalam masyarakat di dunia. Sejak zaman dulu, kaum birokrat kerap melontarkan pujian dan memberikan informasi yang baik-baik saja kepada raja atau pemimpinnya demi memperoleh imbalan dalam berbagai bentuk dari sang penguasa.

Meski secara etimologi kata hipokrit mengandung makna negatif, tetapi sampai level tertentu hipokrasi tidak dipandang sebagai aib yang perlu dijauhi, melainkan sesuatu yang lumrah atau bahkan positif, bagian dari dinamika kehidupan.

Salah satu lahan subur bagi hipokratisme adalah dunia politik dan dunia religi. Para politisi cenderung mengumbar janji-janji untuk memenangkan suara rakyat.  Pemeo tidak ada kawan atau lawan abadi, yang ada kepentingan abadi” sebagaimana dikatakan Lord Palmerston (Henry John Temple) seolah jadi hukum pembenar dominasi “hipokratisme” dalam dunia politik. Maka dari itu, perlahan tapi pasti, hipokrasi berkembang menjadi sesuatu yang lumrah, tolerable, bahkan akhirnya menjadi “budaya” yang sulit dihilangkan.

Di dunia religi banyak pemuka agama yg enggan kehilangan jemaat jika terlalu ketat memberlakukan ajaran agama dan hukum-hukum alkitabiah. Disadari atau tidak, ritual Paganisme Romawi kuno dan kepribadian ganda Janus, terlanjur merasuk dan diadopsi oknum-oknum penguasa dan gereja, dan sekaligus menjadikannya sebagai tradisi umat Kristiani.

Dalam kaitan itu Islam sejak jauh hari telah mencanangkan genderang perang terhadap kemunafikan dan memperingatkan bahaya hipokrasi dalam berbagai sendi kehidupan. Kata munāfiq atau munafik yang berasal dari kata benda  منافق,  digunakan sebagai terminologi untuk merujuk manusia yang berpura-pura menerima dan menjalankan agama Islam, sementara hati mereka mengikarinya. Islam menyebut tiga ciri munafiqun atau orang-orang munafiq, yaitu: dusta dalam berbicara, ingkar dalam janji, serta khianat dalam mengemban amanah.

Wacana pluralisme dengan slogan “semua agama adalah benar” dan wacana HAM dengan slogan “semua orang memiliki hak” sambil terus mendiseminasikan ajaran agama tertentu ke pemeluk agama lainnya, adalah salah satu wujud nyata hipokratisme. Seorang hipokrit akan selalu berusaha menampilkan “sisi baik” yang ia punya, dan mengunci rapat-rapat segala sisi buruk darinya. Kalaupun sisi buruknya terkuak, ia akan mencoba untuk menutup-tutupi itu dengan berbagai cara.

Tradisi Janus yg telah mengakar melalui jalur religi dan tradisi politik yg seolah menjadikan hipokrit sebagai bagian dari sistem dan kultur sosial dalam kehidupan bernegara, membuat manusia mudah terbawa menjadi sosok yang hipokrit diluar kesadarannya sendiri bahwa dirinya telah tumbuh menjadi manusia yang hipokrit.

Yang tak kalah memprihatinkan lagi adalah jika seseorang ataupun segolongan begitu intens mensosialisasikan interpretasinya menyangkut pokok-pokok ajaran dengan menafikan dalil-dalil dan ketentuan baku agama yg secara sahih tersurat dalam kitab sucinya, yg mestinya menjadi landasan ibadah umat kepada tuhannya.

Sadarkah jika kita telah menjadi bagian dari hipokratik?

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 95 pengikut lainnya